Bagi para penggerak utama di balik layar game-game kesayangan, kabar pahit datang menghampiri. Ubisoft, raksasa penerbit game, baru-baru ini membuat keputusan drastis yang mengguncang fondasi studionya, Red Storm Entertainment. Ibarat dalam sebuah raid boss yang gagal, penghentian pengembangan game di studio tersebut bukan hanya memecat 105 karyawan, tetapi juga menciptakan gelombang kekhawatiran yang merayap ke proyek-proyek krusial lainnya. Semua ini terjadi karena desakan untuk memangkas biaya operasional, sebuah narasi yang terdengar familiar di industri yang serba cepat ini.
Dalam sebuah memo internal yang bocor, Marie-Sophie de Waubert, Chief Studios and Portfolio Officer Ubisoft, mengumumkan “penghentian aktivitas pengembangan game di Red Storm Entertainment.” Keputusan ini dibingkai sebagai bagian dari “rencana pengurangan biaya global” Ubisoft, yang didasari oleh “peninjauan prioritas operasional dan strategis” di tengah kondisi industri yang menantang. Ironisnya, kurang dari 24 jam setelah pengumuman suram itu, tim-tim internal justru berjuang keras untuk menyelamatkan beberapa rilisan game yang dianggap vital oleh Ubisoft, membuktikan bahwa pemangkasan ini justru menciptakan kekacauan yang harus segera ditangani.
Salah satu proyek yang kini berada di bawah sorotan tajam adalah entri terbaru dari serial Ghost Recon, yang saat ini menyandang kode nama OVR. Game ini digadang-gadang akan mengembalikan waralaba ikonik tersebut ke akar taktisnya sebagai first-person shooter murni, lengkap dengan mode single-player yang mendalam dan komponen multiplayer yang kompetitif. Keberadaan OVR menjadi sangat krusial bagi Ubisoft, terutama mengingat posisinya sebagai salah satu pilar utama dalam strategi pendapatan mereka di tahun fiskal mendatang, bersanding dengan remake Assassin’s Creed Black Flag yang dijadwalkan rilis musim panas nanti.
Meski OVR telah ditetapkan sebagai rilisan krusial, kenyataannya pahit. Sumber internal mengungkap bahwa game ini telah mengalami pemotongan skala secara signifikan dari rencana awal. Para pengembang yang terlibat kini dibayangi ketakutan bahwa penutupan divisi pengembangan game Red Storm akan mendorong proyek ini ke jurang descoping lebih lanjut atau penundaan yang tidak terhindarkan. Ancaman ini nyata, mengingat puluhan anggota tim Red Storm yang telah berkontribusi pada OVR kini telah hengkang, meninggalkan kekosongan yang tidak mudah diisi dengan talenta yang tepat.
Para karyawan Red Storm yang terkena dampak pemecatan massal ini, secara teori, masih dilindungi oleh Worker Adjustment and Retraining Notification Act (WARN Act), yang mewajibkan pemberi kerja untuk memberikan pemberitahuan 60 hari sebelum PHK massal atau penutupan fasilitas. Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Meskipun tanggal akhir masa kerja mereka ditetapkan pada 18 Mei, akses ke sistem Ubisoft dicabut seketika setelah pengumuman. Lebih ironis lagi, beberapa karyawan justru diminta kembali bekerja keesokan harinya untuk proyek-proyek vital seperti OVR dan director’s cut Watch Dogs Legion selama periode WARN, menciptakan situasi yang membingungkan dan penuh ketidakpastian.
Pada saat divisi game Red Storm Entertainment ditutup, tim tersebut tengah terlibat dalam pengerjaan sekitar 10 proyek Ubisoft, termasuk remake Splinter Cell yang sangat dinantikan. Proyek terakhir ini, seperti yang dibocorkan oleh beberapa orang yang familiar dengan internal, juga telah menghadapi berbagai kendala dan dilaporkan melampaui anggaran yang ditetapkan. Ini menunjukkan bahwa masalah pengelolaan biaya dan proyek bukanlah fenomena tunggal yang dialami oleh Red Storm, melainkan sebuah pola yang lebih luas di Ubisoft.
Perombakan Strategi yang Berdarah
Penutupan divisi game Red Storm hanyalah puncak gunung es dari kebijakan Ubisoft dalam menghemat anggaran melalui penutupan studio secara massal. Pendekatan ini, meskipun terdengar efisien di atas kertas, justru menciptakan serangkaian masalah baru yang kompleks. Red Storm, yang seharusnya menjadi bagian dari jaringan ‘Creative Network’ baru Ubisoft, ternyata memegang peranan fundamental dalam menjaga kelancaran proyek-proyek, serupa dengan peran 19 studio pendukung lainnya. Menghilangkan elemen krusial ini ibarat mencabut fondasi bangunan yang masih berdiri kokoh.
Kondisi ini diperparah dengan rencana Ubisoft untuk memangkas biaya lebih lanjut senilai 100 juta Euro, yang diklaim sebagai implementasi “ketiga dan terakhir”. Angka ini mengindikasikan potensi ribuan pemecatan tambahan di perusahaan penerbit game asal Prancis tersebut. Skala pemotongan ini sungguh mengkhawatirkan, dan menimbulkan pertanyaan serius mengenai keberlanjutan model bisnis Ubisoft dalam jangka panjang.
Berbicara dengan puluhan karyawan Ubisoft, baik yang masih aktif maupun yang sudah hengkang, konsensusnya jelas: penutupan studio dan PHK massal ini justru lebih banyak mendatangkan kerugian daripada keuntungan bagi Ubisoft dan game-gamenya. Para karyawan berpendapat bahwa PHK yang terjadi tidak terasa ditargetkan secara strategis. Sebaliknya, Ubisoft terkesan melihat sebuah studio, menghitung biayanya, lalu mengambil keputusan drastis tanpa mempertimbangkan dampak yang akan timbul pada pipeline proyek yang sedang berjalan.
Mereka yang ditemui menekankan perlunya perubahan pendekatan dari manajemen puncak. Ubisoft harus mulai menempatkan orang yang tepat pada pekerjaan yang tepat, sebuah prinsip dasar manajemen yang tampaknya mulai terabaikan. Fokus seharusnya bukan hanya pada efisiensi biaya, tetapi juga pada optimalisasi sumber daya manusia yang ada untuk memastikan kualitas dan kelancaran pengembangan game.
Situasi ini tampaknya menjadi skenario lose-lose bagi Ubisoft. Di satu sisi, kebutuhan untuk memangkas biaya sangat mendesak. Namun, di sisi lain, perusahaan tampaknya enggan atau bahkan menolak untuk melihat akar permasalahan yang sebenarnya. Penutupan studio skala besar menciptakan kekosongan sumber daya dan keahlian, yang berujung pada penundaan rilis, pemotongan fitur, dan bahkan potensi peningkatan anggaran untuk menutupi kekurangan tersebut – ironisnya, ini adalah siklus masalah yang justru ingin dihindari.
Seolah-olah pelajaran dari masa lalu tidak pernah dipetik. Namun, di tengah pusaran penghematan yang menyakitkan ini, pertanyaan mendasar muncul: apakah ini kejutan, ataukah sebuah pola yang telah dapat diprediksi dari sebuah perusahaan yang terus-menerus terjebak dalam lingkaran kesulitan finansial dan strategisnya sendiri?
Ubisoft telah dihubungi untuk memberikan komentar mengenai situasi ini, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi yang diberikan. Keheningan ini, dalam konteks PHK massal dan dampak yang meluas, hanya menambah daftar pertanyaan yang menggantung di udara.


