Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Ular Python Punya Rahasia Diet: Manusia Bisa Coba Tanpa Mual

Tahun-tahun belakangan ini, dunia kesehatan digemparkan oleh GLP-1 drugs, obat-obatan ajaib yang digadang-gadang bisa melunturkan bobot tubuh bagai sihir. Jutaan orang rela antre, rela menelan pil pahit (atau suntikan yang lebih pahit lagi) demi angka timbangan yang lebih ramah. Kabarnya, obesitas dewasa pun tercatat menurun untuk kali pertama dalam satu dekade berkat kehadiran para penyelamat molekuler ini. Namun, layaknya sisi gelap superhero, ada harga yang harus dibayar: mual yang bikin lemas, hilangnya massa otot yang bikin badan lunglai, dan gejolak pencernaan yang tak kunjung reda. Tak heran, studi menunjukkan hampir setengah dari para “pasien GLP-1” ini menyerah di tahun pertama, merasa siksaan lebih besar daripada manfaatnya. Ternyata, alam, dengan segala kebijaksanaannya yang sering terabaikan, mungkin sudah merancang solusi yang jauh lebih elegan, bahkan sebelum manusia berpikir untuk menciptakan Ozempic versi sintetis.

Di tengah hiruk-pikuk pil pelangsing dan efek sampingnya yang brutal, para ilmuwan justru menengok ke dunia reptil. Sebuah studi terbaru mengungkap penemuan molekul penekan nafsu makan yang luar biasa kuat dalam darah ular sanca Burma (Python bivittatus). Ya, Anda tidak salah baca. Makhluk yang bisa menelan mangsa sebesar tubuhnya ini ternyata menyimpan rahasia metabolisme yang mungkin menjadi kunci revolusi penemuan obat pelangsing manusia di masa depan. Molekul ajaib ini memungkinkan ular sanca mencerna makanan dalam porsi masif tanpa mengalami malapetaka metabolisme, dan para peneliti berkeyakinan ini bisa mengarah pada generasi baru obat penurun berat badan yang tidak lagi meninggalkan penderitaan pasca-konsumsi.

Diet Ekstrem Para Ular: Pelajaran Berharga dari Alam

Kehidupan ular sanca Burma adalah gambaran ekstrem dari adaptasi metabolisme. Sebagai predator penyergap, mereka bisa bertahan tanpa makan berbulan-bulan, bahkan hingga 12 hingga 18 bulan. Bayangkan, menahan lapar selama itu! Namun, ketika kesempatan makan tiba, mereka tidak setengah-setengah. Seekor ular sanca mampu menelan mangsa yang ukurannya setara dengan seluruh berat tubuhnya dalam satu waktu. Ini bukan sekadar makan besar, ini adalah perayaan perut buncit yang epik.

Setelah melumat mangsa raksasa tersebut, tubuh sang ular langsung memasuki mode “turbo”. Pengeluaran energinya melonjak lebih dari 40 kali lipat. Bagian paling mencengangkan adalah bagaimana organ-organnya bekerja. Hampir semua organ mengalami pembengkakan hingga lebih dari 50% hanya untuk mengakomodasi proses pencernaan yang luar biasa itu. Jantungnya saja membesar 25%. Setelah semua makanan tercerna sempurna, seluruh organ akan kembali menyusut ke ukuran normal, siap untuk fase istirahat panjang berikutnya. Dr. Jonathan Long dari Stanford University menegaskan, “Jika ingin benar-benar memahami metabolisme, kita perlu melampaui tikus dan manusia, dan melihat langsung ke ekstrem metabolisme paling luar biasa yang ditawarkan alam.”

Mengurai Misteri Sang Ular: Lonjakan Molekul Ribuan Kali Lipat

Dalam upaya mengungkap rahasia pencernaan luar biasa milik ular sanca, para peneliti membedah “arsip” molekuler mereka. Mereka meneliti berbagai metabolites, yaitu produk sampingan kimia yang dihasilkan organisme saat memecah makanan untuk energi. Proses ini dilakukan dengan menggunakan ular sanca Burma di laboratorium yang telah dipuasakan selama 28 hari, lalu diberi makan porsi setara 25% dari berat tubuh mereka.

Tiga hari setelah sesi makan akbar itu, para ilmuwan menganalisis sampel darah ular. Hasilnya sungguh mengejutkan: ditemukan 208 metabolites yang meningkat signifikan. Namun, ada satu molekul yang benar-benar melampaui segala prediksi. Molekul yang disebut para-tyramine-O-sulfate, atau pTOS, mengalami lonjakan lebih dari 1.000 kali lipat dibandingkan saat ular dalam kondisi puasa. “Kami bertanya-tanya, apakah metabolite ini berperan dalam perubahan fisiologis pasca-makan pada ular?” ungkap Dr. Long, penasaran.

P T O S: Penyelamat dari Mual dan Efek Samping yang Menjengkelkan

Pertanyaan krusial pun muncul: bagaimana jika molekul super pekat dari ular ini diaplikasikan pada mamalia, termasuk manusia? Para peneliti kemudian menguji coba pTOS dosis tinggi pada tikus laboratorium yang mengalami obesitas akibat pola makan. Kekhawatiran akan pertumbuhan organ liar ala ular pada tikus tentu menghantui. Namun, realitasnya justru berbeda.

Saat pTOS diberikan pada tikus dengan dosis yang setara dengan yang ditemukan pada ular setelah makan, tidak ada efek samping drastis pada pengeluaran energi, proliferasi sel beta, maupun ukuran organ. Anehnya, pTOS hanya bekerja pada satu aspek: nafsu makan dan perilaku makan tikus tersebut. Tikus-tikus obesitas tersebut mendadak kehilangan selera makan. Selama 28 hari injeksi pTOS harian, para tikus berhasil menurunkan 9% dari berat badan mereka.

Lebih hebat lagi, pTOS mencapai penurunan berat badan ini tanpa menimbulkan efek samping mengganggu yang kerap dikeluhkan pasien obat GLP-1 seperti Ozempic atau Wegovy. Obat-obatan GLP-1 bekerja dengan memperlambat pengosongan lambung, yang justru menjadi biang kerok rasa begah dan mual. Berbeda sekali, eksperimen menunjukkan pTOS sama sekali tidak memengaruhi kecepatan pengosongan lambung. Molekul ini langsung menuju otak, mengaktifkan kluster neuron spesifik di ventromedial hypothalamus. Area otak purba ini bertindak sebagai pusat kendali fisiologis yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Profesor Leslie Leinwand, seorang ahli biologi terkemuka di CU Boulder, menyoroti, “Kita telah menemukan penekan nafsu makan yang bekerja pada tikus tanpa beberapa efek samping yang dimiliki obat GLP-1.”

Dari Perut Ular Menuju Kabinet Obat Manusia

Bagian terbaiknya? Manusia ternyata juga memproduksi pTOS secara alami. Pada ular sanca, bakteri usus khusus menghasilkan pTOS dari pemecahan tyrosine, asam amino umum dalam protein. Meskipun tikus laboratorium tidak secara alami memiliki pTOS dalam darah mereka, pengujian pada manusia justru menunjukkan sebaliknya. Kadar pTOS dalam tubuh manusia meningkat dua hingga lima kali lipat setelah menyantap makanan dalam porsi besar. Fakta bahwa hewan laboratorium standar tidak memproduksi pTOS membuat molekul ini luput dari perhatian sains modern hingga para peneliti mengintip ke dalam dunia reptil.

Penemuan medis lintas spesies semacam ini bukanlah hal baru. Obat GLP-1 yang kini populer itu sendiri terinspirasi dari hormon yang ditemukan dalam bisa reptil Gila monster. “Ini adalah contoh sempurna biologi yang terinspirasi dari alam,” ujar Leinwand. “Kita mengamati hewan-hewan luar biasa yang mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan manusia, lalu kita mencoba memanfaatkannya untuk intervensi terapeutik.” Karena pTOS sudah ada dalam tubuh manusia, para peneliti memprediksi keamanannya secara fundamental. Leinwand, Long, dan timnya bahkan telah mendirikan perusahaan startup bernama Arkana Therapeutics untuk mengkomersialkan temuan ini. Mereka percaya masih ada ruang besar untuk inovasi di pasar ini, dan tidak hanya terpaku pada penurunan berat badan. Harapannya, metabolites ular ini nantinya dapat digunakan untuk mengobati sarkopenia, hilangnya massa otot terkait usia yang saat ini belum memiliki obat medis.

Previous Post

Trump Sibuk Graceland, Iran Makin Panas: Siapa yang Panik?

Next Post

Terminal Kampung Rambutan Banjir: Saatnya Revitalisasi atau Sekadar Guyur Anggaran?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *