Dengarkan, para penikmat alunan nada,yezzy season telah kembali, namun kali ini terasa seperti debut pertama bagi sang seniman yang terkenal flamboyan, yang akrab disapa Kanye West ini. Lupakan sejenak drama-drama yang mengiringi perilisan album biasanya, karena kali ini fokusnya adalah pada Bully, karya solo terbarunya yang dirilis melalui kemitraan label baru bersama Gamma. Ternyata, rekonsiliasi dengan teman lama, Larry Jackson, yang kini menjabat sebagai pendiri label independen tersebut, membuahkan hasil yang tak terduga. Ini adalah momen penting untuk kembali ke inti karyanya, karena segala kebisingan yang mengiringi seringkali mengaburkan substansinya di masa lalu.
Pengumuman perilisan album dari Ye biasanya datang dengan keributan yang sengaja diciptakan untuk memberi makan algoritma media sosial, namun kali ini justru sebaliknya: kesunyian total. Ini adalah perubahan yang disambut baik oleh banyak pihak, mengingat berbagai kontroversi yang sempat membayangi karya-karyanya. Sang seniman kelahiran Chicago ini memilih untuk kembali ke akar produksinya, mengolah sampel-sampel bernuansa soul yang otentik, sebuah pendekatan yang terbukti efektif dalam memoles Bully menjadi karya yang lebih kohesif dan matang dibandingkan rilisan terbarunya belakangan ini. Tercatat, ini adalah album solo pertamanya dalam lebih dari empat tahun terakhir.
Kelamnya Perjalanan Menuju ‘Bully’
Proses perilisan Bully sendiri jauh dari kata mulus. Tidak seperti album-album pada umumnya yang dirilis pada tengah malam waktu setempat, karya Ye ini sengaja dirilis pada Sabtu (28 Maret) pagi, setelah serangkaian pesta pendengaran yang digelar pada Kamis malam (26 Maret) di berbagai kota di Amerika Serikat, di mana sang seniman sendiri turut hadir di acara Los Angeles. Penantian ini tentu saja membuat para penggemar rela begadang sambil terus me-refresh layanan streaming musik mereka, sebuah ritual yang sudah cukup akrab bagi para pengikut setia Ye. Namun, kesabaran itu terbayar lunas dengan kehadiran sebuah album yang terasa lebih terkonsep dan minim ide-ide setengah matang.
Salah satu aspek yang patut diacungi jempol dari Bully adalah kemampuannya untuk meminimalisir “celotehan” yang tidak perlu. Ye dilaporkan telah membuang vokal-vokal yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI), sebuah keputusan yang sangat bijak mengingat tren yang semakin marak digunakan oleh beberapa artis. Keputusan ini menegaskan kembali komitmennya pada keaslian musikalitas, sebuah filosofi yang selalu menjadi pondasi kuat dalam diskografinya. Pemilihan sampel soul yang cerdas dalam proses produksi menjadi bukti nyata bahwa ia masih memiliki sentuhan magis dalam meracik sebuah lagu.
Bully juga menampilkan deretan kolaborator yang sangat beragam, menunjukkan luasnya jejaring dan pengaruh Ye di kancah musik. Mulai dari nama-nama underground seperti Nine Vicious, legenda CeeLo Green, rekan kolaborasi yang kerap muncul seperti Travis Scott dan Don Toliver, hingga Ty Dolla $ign yang setia mendampingi dalam proyek Vultures. Tak ketinggalan pula bintang Latin Peso Pluma, serta direktur musik Ye sendiri, André Troutman, yang berperan penting dalam mengarahkan arah sonik album ini. Kolaborasi ini berhasil menciptakan dinamika yang kaya dan memperkaya palet musikal Bully.
Perjuangan Sang Seniman di Luar Musik
Tak dapat dipungkiri, perjalanan Ye kembali ke puncak tidaklah mudah. Ia masih berupaya keras untuk bangkit dari rentetan pernyataan antisemit dan perilaku kontroversial yang sempat menghiasi pemberitaan selama beberapa tahun terakhir. Upaya rekonsiliasinya pun terlihat jelas, mulai dari pertemuan dengan para rabi hingga memasang iklan di The Wall Street Journal untuk meminta maaf kepada komunitas Yahudi dan kulit hitam atas tindakan-tindakannya. Semua ini menandakan sebuah babak baru dalam hidupnya, sebuah upaya tulus untuk mencari pengampunan dan memulai lembaran baru.
Secara keseluruhan, Bully merepresentasikan langkah maju yang signifikan bagi Ye. Album ini berhasil memadukan berbagai era musikalnya dengan pandangan ke masa depan, sebuah perpaduan yang cerdas dan menjanjikan. Rilisan ini juga menjadi pemanasan sebelum serangkaian konser comeback yang dijadwalkan di SoFi Stadium pada 1 dan 3 April, yang akan menandai penampilan stadion pertamanya di Amerika Serikat dalam hampir lima tahun terakhir. Sebuah pembuktian bahwa musikalitasnya tetap relevan, terlepas dari segala drama di luar panggung.
Peringkat Lengkap: 18 Trek ‘Bully’ dari yang Terendah Hingga Tertinggi
-
“Damn”
Meskipun “Damn” tidak diputar selama siaran langsung Bully, lagu ini tetap masuk dalam daftar putar final di platform digital. West menyanyikan lirik-lirik yang menggambarkan kenikmatan menjalani hidup tanpa kekhawatiran akan masa depan. Pengalaman pribadinya selamat dari kecelakaan mobil parah pada tahun 2002 memberikan perspektif unik tentang makna bertahan hidup dan terus melangkah maju. Produksinya yang minimalis semakin memperkuat pesan introspektif dalam lagu ini.
-
“Circles” Feat. Don Toliver
Don Toliver kembali berkolaborasi dengan Ye, melanjutkan performa gemilangnya pasca perilisan album OCTANE. Kemampuannya beradaptasi dengan berbagai gaya musik menjadikannya aset berharga bagi Ye. Namun, “Circles” terasa lebih seperti sebuah interlude, sebuah jembatan untuk memuluskan transisi antar lagu dalam Bully, ketimbang sebuah nomor yang berdiri sendiri dengan potensi besar.
-
“Last Breath” Feat. Peso Pluma
Ye selalu dikenal karena keberaniannya dalam bereksperimen lintas genre, dan kali ini ia menjajaki ranah musik Latin dengan menggandeng Peso Pluma. Lagu “Last Breath” menampilkan Ye yang mencoba kemampuannya bernyanyi dalam Bahasa Spanyol, mengisahkan tentang hubungan toksik di tengah kemewahan minuman Clase Azul. Dengan sedikit polesan tambahan, lagu ini berpotensi besar untuk menguasai lantai dansa.
-
“This a Must”
Ye senantiasa terbuka untuk berkolaborasi dengan talenta generasi baru, terbukti dengan kolaborasinya bersama rapper underground Nine Vicious yang memberikan sentuhan seram pada “This a Must”. Lagu ini juga menjadi ajang nostalgia bagi para penggemar lama, mengingatkan pada era Graduation saat Ye mengejar ketenaran global. Ternyata, lagu ini sempat direkam dengan judul “Unlock” bersama Ty Dolla $ign untuk sesi Vultures, namun tidak pernah resmi dirilis hingga akhirnya menemukan rumahnya di Bully.
-
“Highs and Lows”
Mirip dengan “Everybody” dari Vultures yang menggunakan sampel Backstreet Boys, “Highs and Lows” memiliki potensi yang terhalang oleh masalah perizinan sampel. Penolakan dari penyanyi Prancis Pomme untuk penggunaan sampel aslinya memaksa Ye untuk mencari alternatif. Meskipun demikian, lagu ini tetap menjadi salah satu nomor solid dalam Bully, di mana Ye dengan emosional mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada orang-orang terdekat yang tetap setia mendampinginya di tengah berbagai kontroversi yang menerpanya.
-
“Beauty and the Beast”
“Beauty and the Beast” awalnya diperdengarkan di pesta pendengaran Vultures 2 di Tiongkok, namun Mike Dean mengindikasikan bahwa lagu ini sebenarnya adalah materi sisa dari sesi Donda. Ye terdengar tenang menyanyikan lagu ini di antara sampel dari Mad Lads. Liriknya yang ringan, “It’s been a long time coming/ Fresh new tires, I’m still running,” berpadu dengan sentuhan dekonstruksi ala Yeezus, menciptakan nuansa yang unik.
-
“I Can’t Wait”
Sebagai seorang produser, Ye tidak tertandingi. Dalam “I Can’t Wait”, ia memadukan sampel The Supremes dengan lanskap suara yang melankolis. Kejeniusan produksinya tetap avant-garde, bahkan jika ia tertidur selama satu dekade sekalipun. Ketika kariernya berada di persimpangan jalan, musik selalu menjadi penyelamatnya, membawanya melewati badai.
-
“Preacher Man”
Perjalanan “Preacher Man” dari sesi Vultures 2 ke Bully terbilang panjang. Alunan spoken-word yang khas dari Ye seharusnya menjadi poros utama album ini. Ia melontarkan lirik-lirik tajam yang menyindir, mengkritik seorang wanita yang membenci olahraga namun duduk manis di tepi lapangan, serta ungkapan “I hate that God didn’t make a couple more of me” yang menunjukkan ego khasnya.
-
“White Lines”
Ye merenungkan kedamaian dan ketenangan yang ia temukan dalam kesendirian. Dengan sentuhan elektronik dari André Troutman, ia menyanyikan tentang komitmennya pada jalan hidupnya, bahkan ketika terlihat suram. “White Lines” berfungsi sebagai penyeimbang suasana dalam Bully, menawarkan momen refleksi yang tenang.
-
“This One Here”
Lagu penutup Bully ini membawa nuansa penyembuhan. “This One Here” memiliki jejak kolaborasi Ye dengan James Blake pada tahun 2022, namun Blake meminta kredit produksinya dihapus karena alasan yang tidak spesifik. Namun, tak lengkap rasanya perilisan album Ye tanpa sedikit kontroversi. Penggalan lirik “This one here, this fire, fire” dijamin akan terngiang sepanjang akhir pekan.
-
“Mama’s Favorite”
“Mama’s Favorite” layak mendapatkan tempat di jajaran lagu-lagu spesial yang didedikasikan untuk mendiang ibunya, Donda West, sejajar dengan “Hey Mama” dan “Only One”. Alunan melodi lembut Ye berpadu dengan outro surgawi, menampilkan percakapan antara Ye muda dan Donda yang terekam dalam dokumenter Jeen-Yuhs. Dialog tersebut menggarisbawahi kepercayaan diri yang ditanamkan Donda pada putranya, yang menjadi modal utamanya meraih kesuksesan.
-
“Whatever Works”
Dengan nuansa yang mirip “Punch Drunk”, Ye mengolah sampel Cissy Houston dan memulai “Whatever Works” dengan referensi halus terhadap iklan Wall Street Journal-nya yang meminta maaf kepada komunitas Yahudi dan kulit hitam. Dengan hanya satu bait berisi 10 bar, lagu ini memiliki potensi untuk menjadi lebih kuat jika ditambah bait kedua yang lebih menusuk, mengangkatnya dari sekadar trek top-five menjadi sebuah mahakarya Bully.
-
“Sisters and Brothers”
Perpaduan sampel Jonah Thompson dengan distorsi fuzzy dan drum yang minimalis menciptakan latar belakang muram untuk Ye. Ia menemukan salah satu momen terbaiknya di album ini, menyinggung pandangan publik yang menganggapnya “pingsan seperti Akon” dan melupakan kontribusinya pada hip-hop. “Take some time off, they act like they don’t remember,” klaimnya. Menjelang akhir, terdapat pergeseran pandangan Ye. Dulu ia kerap membanggakan status miliardernya, kini ia menyebut uang sebagai “akar dari segala kejahatan”.
-
“King”
Pembuka Bully, “King”, terasa seperti kebangkitan sang Yeezus. Secara produksi, lagu ini mengadopsi elemen industrial dari album Yeezus (2013). Ye membuka dengan lirik yang kuat, membahas bagaimana kebencian justru memberinya lebih banyak cinta, sementara teman-teman berubah menjadi “orang yang hilang” dan orang lain memperlakukannya seperti “yatim piatu”. Terdapat pula bar sarkastik tentang MLK yang membuka jalan baginya menikahi Kim Kardashian, serta sajak cerdas yang menyandingkan Gwyneth Paltrow dengan gembong narkoba Alpo Martinez.
-
“Father” Feat. Travis Scott
Travis Scott adalah salah satu artis superstar langka yang tidak meninggalkan Ye di masa-masa sulit. “Father” membuka dengan organ gereja yang agung, sebuah elemen yang pas untuk album West. Kemegahan itu kemudian berpadu dengan drum industrial yang kacau berkat sentuhan Havoc, produser legendaris Mobb Deep. Ye kembali mengenang momen paparazzi “do you see this coat?” dan menampilkan dirinya sebagai “versi baru”. Travis Scott hadir dengan gaya khasnya, membanggakan kemitraan menguntungkannya dengan Oakley dan Nike, di atas produksi yang terasa familiar dengan pembuka UTOPIA, “HYAENA”.
-
“Punch Drunk”
Apakah ini kembali ke tahun 2004 dengan sampel soul ala chipmunk yang diolah Ye di keyboard ASR-nya? “Punch Drunk” bahkan menampilkan co-produksi dari putrinya, North West, membuktikan bakat yang mengalir dalam keluarga. Dengan durasi di bawah dua menit, lagu ini terasa sedikit pendek. Ada ruang untuk bait Ye yang lebih menghentak untuk mengangkat “Punch Drunk” dari sekadar trek top-five menjadi juara sejati di Bully.
-
“Bully” Feat. CeeLo Green
Lagu tituler ini adalah sebuah mahakarya sinematik yang bisa saja mengiringi adegan dalam film western Tarantino, The Hateful Eight. Ye membuka dengan mengakui bahwa setiap kali ia bersuara, “castles in the sky come down crashing,” dan ia menolak melepaskan egonya sepenuhnya karena itu adalah salah satu kekuatan kreatifnya. CeeLo Green dari Goodie Mob hadir dengan chorus yang menggelegar, membawa “Bully” melintasi garis finis. Sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol, Tuan West.
-
“All the Love”
Permata mahkota dari Bully. “All the Love” menggabungkan kekacauan Yeezus dengan kejeniusan elektronik talkbox Roger Troutman. Inilah momen-momen brilian yang membuat penggemar terus kembali dan rela mengabaikan segala drama, penundaan, dan kekacauan yang melekat pada Kanye. Lebih dari dua dekade berkarier, Ye masih mampu mendorong batas kreativitas rap ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh rekan-rekannya. “All the Love” adalah Ye dalam performa terbaiknya, namun mungkin tidak akan mencapai popularitas komersial dan status stadion seperti hit Billboard Hot 100 “Carnival” atau “Off the Grid” dari Donda.


