Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Absinthe: Ketika ‘Naga Hijau’ Jadi Kambing Hitam Demi Jabatan

Dulu, ramuan hijau zamrud yang memabukkan dari wormwood, adas manis, dan adas yang dikenal sebagai “Peri Hijau” sempat diagung-agungkan oleh kaum elit Prancis, bahkan jadi inspirasi para seniman legendaris Baudelaire hingga Van Gogh. Di awal abad ke-20, Prancis mengonsumsi absinthe lebih banyak daripada seluruh dunia digabung. Sungguh ironis, hanya dalam beberapa dekade, minuman ini malah diharamkan dan dicap sebagai “racun nasional.” Bukan karena kandungan thujone-nya yang ternyata dilebih-lebihkan, melainkan karena sebuah proses sistematis pengkambinghitaman yang canggih, sebuah pola yang masih relevan hingga kini.

Analisis mendalam terhadap arsip sejarah, surat kabar, publikasi medis, dan materi propaganda dari periode 1870 hingga 1915 mengungkap sebuah siklus mengerikan. Dimulai dari kekhawatiran sosial yang valid mengenai tingkat alkoholisme yang meroket, kekalahan memalukan melawan Prusia, dan kegelisahan akan kemerosotan moral bangsa. Di tengah kepanikan tersebut, sains ikut serta dengan menciptakan istilah “absinthism” sebagai patologi tersendiri. Para ilmuwan, meski risetnya belum konklusif, bersikeras absinthe menyebabkan gejala unik seperti epilepsi dan kegilaan. Ini adalah babak awal rekayasa narasi, di mana ketakutan menjadi bahan bakar untuk menciptakan musuh bersama.

Kemudian, mulailah manuver para pemain lain. Di hadapan sentimen anti-alkohol yang semakin kencang, produsen minuman sejenis – aperitif dari bahan yang hampir identik seperti anis, pastis, dan anisette – dengan cerdik menjaga jarak. Poster iklan era 1880-an secara eksplisit membandingkan tonic “sehat” dengan absinthe “mematikan”, menggambarkan kematian mengintai para peminumnya, sementara wanita-wanita cantik mendampingi konsumen produk pesaing. Produsen anggur pun tak ketinggalan, didorong oleh alasan ekonomi. Setelah wabah penyakit phylloxera meluluhlantakkan kebun anggur Prancis, mereka butuh merebut kembali pangsa pasar. Dengan membingkai perjuangan mereka sebagai patriotik – anggur sebagai warisan Prancis melawan absinthe sebagai racun asing – mereka bersekutu dengan gerakan anti-alkohol dan politisi.

Fabrikasi Musuh Publik: Pelajaran dari Kabut Absinthe

Puncak ironi terjadi ketika produsen absinthe sendiri ikut saling menyerang. Para produsen dari Pontarlier, daerah tradisional penghasil absinthe, melancarkan serangan terhadap “absinthe buruk” dari Paris, berharap menyelamatkan diri dengan mengorbankan yang lain. Fragmentasi internal ini akhirnya menyegel nasib absinthe. Ketika Perang Dunia I meletus, larangan diberlakukan dengan cepat, dipresentasikan sebagai kemenangan peradaban Prancis. Ini adalah contoh klasik bagaimana rasa takut, kepentingan ekonomi, dan perebutan kekuasaan dapat dimanipulasi untuk menciptakan demonisasi massal. Pola ini sangat familier, bukan? Dimulai dengan kecemasan sosial yang nyata, lalu muncul target yang mudah disalahkan, yang cukup mirip dengan “aktor yang bisa diterima” untuk menanggung dosa mereka, namun cukup berbeda untuk disingkirkan.

Yang paling krusial, calon kambing hitam ini secara aktif mengubah posisi mereka, bergabung dengan para penuduh untuk menghindari jerat. Ini menciptakan momentum yang terus meningkat seiring target yang menyusut dan serangan yang semakin intens. Para peneliti menyebut pola ini sebagai “struktur peluang stigma” – kondisi yang membuka celah untuk penargetan lebih lanjut. Kekalahan militer Prancis, penyakit anggur yang mematikan, dan akhirnya perang, semuanya memfasilitasi proses ini. Poin pentingnya, ketika sebuah narasi kebencian mulai terbentuk, argumen rasional dan bukti ilmiah sering kali menjadi irrelevant.

Meskipun pelarangan absinthe di Prancis pada tahun 1915 terasa seperti episode sejarah yang jauh, dinamika ini masih sangat aktif hingga kini. Pengkambinghitaman beroperasi sebagai mekanisme sosial yang ampuh. Ia sering kali mengubah ketidakpastian, ketakutan, atau konflik politik menjadi tuduhan sosial yang ditujukan pada individu atau kelompok tertentu, berdasarkan cerita yang tipis, selektif, atau bahkan bohong semata, yang terus diulang seolah kebenaran mutlak. Keefektifan pengkambinghitaman terletak pada fakta bahwa bukti sering kali tidak relevan; fokusnya adalah menuding jari, menciptakan kepanikan moral, dan berpotensi menghasilkan kerugian sosial yang nyata.

Pandemi COVID-19 memberikan demonstrasi kontemporer yang gamblang. Ketakutan akan infeksi memicu, dalam banyak kasus, serangan verbal atau fisik terhadap orang keturunan Asia, yang dianggap sebagai penyebar virus korona oleh sebagian pihak. Rumor, ketakutan, dan keyakinan palsu tentang penularan memicu diskriminasi terhadap pasien dan kelompok marginal, didorong bukan oleh bukti ilmiah, melainkan oleh kecemasan dan misinformasi. Yang lebih mengerikan, stigmatisasi ini tidak terkoreksi oleh klarifikasi ilmiah selanjutnya atau otoritas politik tentang bagaimana virus sebenarnya menyebar. Orang keturunan Asia terus menghadapi permusuhan lama setelah konsensus epidemiologis terbentuk. Kasus absinthe menunjukkan pola yang sama: begitu kambing hitam diidentifikasi, momentum yang terbangun membentuk persepsi terhadap bukti, alih-alih dikoreksi olehnya.

Amukan Tak Berdasar Melawan Mesin Media Sosial?

Sebuah kasus yang terus berkembang secara real-time sangatlah instruktif – perdebatan sengit mengenai media sosial dan kesehatan mental remaja. Angka kecemasan, depresi, dan menyakiti diri sendiri di kalangan remaja telah meningkat tajam di banyak negara Barat sejak sekitar tahun 2012. Pertanyaannya: apa penyebabnya? Jawaban yang paling mudah diterima: media sosial. Di kalangan orang tua yang setidaknya sedikit khawatir tentang kesehatan mental remaja, 44% menyatakan media sosial memiliki dampak negatif terbesar pada remaja saat ini. Bahkan US Surgeon General telah mengeluarkan peringatan tentang potensi bahaya, dan para legislator bergegas mengusulkan larangan serta pembatasan. Buku laris Jonathan Haidt, The Anxious Generation, menjadi semacam manifesto pandangan ini, berargumen bahwa perubahan besar pada pola asuh anak melalui smartphone menyebabkan epidemi penyakit mental. Namun, gambaran ilmiahnya jauh lebih keruh daripada yang disuguhkan konsensus publik.

Studi memang menunjukkan penggunaan media sosial terkait dengan tingkat depresi, kecemasan, dan perilaku bunuh diri yang lebih tinggi di kalangan remaja, namun efek sampingnya seringkali moderat. Para ilmuwan terus memperdebatkan seberapa besar krisis kesehatan mental remaja dapat secara langsung diatribusikan pada media sosial. Ini bukan berarti media sosial tidak berbahaya. Ada kekhawatiran yang sah tentang amplifikasi algoritmik, gangguan tidur, dan kerentanan kaum muda. Namun, tergesa-gesa menyalahkan mungkin telah melampaui bukti yang ada. Apa yang membuat kasus ini begitu mengungkap adalah jurang pemisah antara keyakinan dan bukti nyata. Keyakinan bahwa media sosial menghancurkan satu generasi telah mengambil kualitas akal sehat, diulang begitu sering sehingga mempertanyakannya terasa kontraproduktif atau bahkan tidak bertanggung jawab.

Menyalahkan media sosial memungkinkan kita untuk menghindari pertanyaan yang lebih sulit tentang ketidakpastian ekonomi, tekanan pendidikan, penurunan institusi komunitas, dan kegagalan sistem kesehatan mental. Mengapa repot mencari akar masalah yang kompleks dan sulit dipecahkan jika ada satu target yang jelas terlihat dan mudah diserang? Ini adalah mentalitas lama yang sama yang membuat Peri Hijau harus dibasmi.

Kesalahan sebagai Akal Sehat?

Polanya sangat mudah dikenali: kecemasan yang nyata, target yang nyaman, para pemain industri menjauhkan diri dari yang paling dikritik, dan politisi mencari solusi yang tampak jelas. Ini bukan berarti kita harus mengabaikan kekhawatiran tentang efek teknologi pada kaum muda. Namun, ini berarti kita harus curiga terhadap kepastian dan dorongan kita sendiri. Ketika sebuah masyarakat sedang gelisah dan mencari penjelasan, target yang paling terlihat cenderung menarik permusuhan paling besar, terlepas dari apakah itu pantas atau tidak. Keinginan untuk mengidentifikasi pelaku jelas untuk masalah kompleks adalah naluri manusiawi yang mendalam. Namun, kasus absinthe dan gema kontemporernya mengingatkan kita bahwa kepastian tentang siapa yang harus disalahkan sering kali lebih mencerminkan dinamika sosial pengkambinghitaman daripada perhatian cermat terhadap bukti.

Di dunia yang dibanjiri kecemasan tentang kesehatan, imigrasi, identitas, dan ketidaksetaraan, kehati-hatian sangat diperlukan sekarang lebih dari sebelumnya. Nasib Peri Hijau mengingatkan bahwa menyalahkan terasa benar di saat itu. Seabad kemudian, absinthe legal kembali di Prancis, bahayanya sebagian besar mitologis. Apa yang akan kita pikirkan, jika melihat ke belakang, tentang kambing hitam yang nyaman di zaman sekarang?

Previous Post

Exit 8: Teror Ruang Kosong Paling Bikin Merinding, Anak Bayi Ikut Menangis

Next Post

Samsung ‘Cuan’ Layar iPhone Lipat Apple

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *