Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

AI Kacau! Asisten Digital Rutin Salah Informasi Berita, Kepercayaan Publik Terancam

Bayangkan, kita hidup di dunia di mana asisten pintar seharusnya memberikan informasi akurat, eh malah nyebarin hoaks lebih cepat dari ibu-ibu komplek arisan. Ini bukan episode Black Mirror, tapi hasil penelitian terbaru yang bikin kita garuk-garuk kepala.

Sebuah studi internasional yang dipimpin oleh BBC dan dikoordinasi oleh European Broadcasting Union (EBU) menemukan bahwa asisten AI, yang seharusnya jadi andalan kita mencari berita, ternyata lebih jago bikin berita bohong. Mau bahasanya Inggris, Prancis, atau bahasa kalbu sekalipun, hasilnya sama saja: ambyar!

Penelitian ini melibatkan 22 organisasi media dari 18 negara yang mencoba menguji coba ChatGPT, Copilot, Gemini, dan Perplexity. Lebih dari 3.000 jawaban dianalisis, dan hasilnya? Bikin geleng-geleng kepala. Mari kita bedah satu per satu.

AI: Antara Asisten Pintar dan Agen Penyebar Hoaks

Well, ternyata 45% jawaban dari AI memiliki masalah yang cukup signifikan. Bayangkan, hampir separuh informasi yang kita dapat dari asisten digital itu zonk. Tapi, tunggu dulu, ini belum seberapa. Saking parahnya, 31% jawaban punya masalah dengan sumber informasi. Alias, sumbernya nggak jelas, menyesatkan, atau bahkan salah total. Serem?

Nggak cuma itu, 20% jawaban mengandung kesalahan akurasi yang fatal. Ada detail yang diada-adakan alias halusinasi, sampai informasi yang sudah kedaluwarsa. Ini sama saja kayak dikasih tahu harga Bitcoin tahun 2010 pas lagi mau trading sekarang. Nggak membantu, malah bikin rugi!

Gemini: Bintang Terjelek di Kelas Asisten AI

Dari semua asisten AI yang diuji, Gemini ternyata jadi yang paling bermasalah. 76% jawabannya punya masalah signifikan. Lebih dari dua kali lipat dari asisten lainnya. Biang keroknya adalah masalah sumber informasi yang amburadul. Ini kayak dikasih resep masakan sama orang yang nggak pernah masak.

Mungkin ada yang mikir, “Ah, mungkin sekarang sudah lebih baik.” Penelitian sebelumnya yang dilakukan BBC memang menunjukkan ada sedikit perbaikan. Tapi, tetap saja, tingkat kesalahannya masih tinggi. Jadi, jangan terlalu berharap banyak.

Kenapa Informasi yang Distorsi Ini Penting?

Asisten AI sudah mulai menggantikan mesin pencari bagi banyak orang. Menurut laporan dari Reuters Institute, 7% konsumen berita online menggunakan AI untuk mendapatkan informasi. Angka ini bahkan naik jadi 15% di kalangan anak muda di bawah 25 tahun. Artinya, semakin banyak orang yang mengandalkan AI untuk mendapatkan berita.

Jean Philip De Tender, Direktur Media dan Wakil Direktur Jenderal EBU, bilang bahwa masalah ini bukan sekadar insiden terisolasi. Ini masalah sistemik yang lintas batas negara dan bahasa. Dampaknya? Bisa merusak kepercayaan publik. Kalau orang nggak tahu apa yang bisa dipercaya, ujung-ujungnya mereka nggak percaya apa pun. Dan itu bisa menghambat partisipasi dalam demokrasi.

BBC Juga Ikut Angkat Bicara

Peter Archer, Direktur Program Generative AI BBC, juga punya pandangan serupa. Dia bilang bahwa BBC sangat antusias dengan potensi AI. Tapi, orang harus bisa percaya dengan apa yang mereka baca, tonton, dan lihat. Meskipun ada perbaikan, masih banyak masalah yang perlu dibenahi. BBC terbuka untuk bekerja sama dengan perusahaan AI agar alat ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat.

Terus, Apa yang Harus Dilakukan?

Tim peneliti sudah merilis News Integrity in AI Assistants Toolkit yang bisa membantu mencari solusi atas masalah yang ditemukan. Toolkit ini berisi panduan untuk meningkatkan respons AI dan meningkatkan literasi media di kalangan pengguna. Ada dua pertanyaan utama yang dijawab: “Apa yang membuat respons AI yang baik terhadap pertanyaan berita?” dan “Masalah apa yang perlu diperbaiki?”

Selain itu, EBU dan anggotanya mendesak regulator Uni Eropa dan nasional untuk menegakkan hukum yang ada tentang integritas informasi, layanan digital, dan pluralisme media. Mereka juga menekankan bahwa pemantauan independen terhadap asisten AI sangat penting. Mengingat perkembangan AI yang sangat pesat, mereka mencari cara untuk melanjutkan penelitian ini secara berkelanjutan.

Tentang Proyek Ini

Penelitian ini adalah kelanjutan dari riset yang dilakukan BBC pada Februari 2025 yang pertama kali menyoroti masalah AI dalam menangani berita. Penelitian kedua ini memperluas cakupan secara internasional, dan hasilnya mengkonfirmasi bahwa masalah ini sistemik dan tidak terkait dengan bahasa, pasar, atau asisten AI.

Implikasi Lebih Jauh: Reputasi Media Jadi Taruhan

Riset dari BBC menunjukkan bahwa banyak orang percaya bahwa ringkasan berita dari AI itu akurat. Padahal, kenyataannya nggak begitu. Dan yang lebih parah, ketika ada kesalahan, orang cenderung menyalahkan penyedia berita dan pengembang AI. Padahal, kesalahan itu murni produk dari AI.

Ujung-ujungnya, kesalahan ini bisa berdampak negatif pada kepercayaan orang terhadap berita dan merek berita. Ini kayak lagi main game online, terus ada bug yang bikin karakter kita mati. Pasti kita nyalahin developer-nya, kan?

Jadi, gimana? Apakah kita harus sepenuhnya meninggalkan asisten AI? Tentu saja tidak. Tapi, kita juga nggak boleh terlalu percaya begitu saja dengan informasi yang mereka berikan. Anggap saja mereka teman yang kadang-kadang suka ngawur. Tetap kritis, tetap skeptis, dan jangan lupa verifikasi informasi dari sumber lain. Kalau tidak, kita bisa jadi korban hoaks tanpa sadar.

Previous Post

Prioritaskan Rehabilitasi Penglihatan: Ribuan Tuna Netra Terisolasi Akibat Antrean Panjang

Next Post

Reuni Kata: Gim Puzel Merriam-Webster Jadi Penyelamat Usai Kecelakaan

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *