Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Prioritaskan Rehabilitasi Penglihatan: Ribuan Tuna Netra Terisolasi Akibat Antrean Panjang

Bayangkan kamu lagi asyik main game, udah level dewa, eh tiba-tiba listrik mati. Gelap gulita, semua progres hilang. Frustrasi? Nah, itulah yang dirasakan sebagian teman-teman kita yang kehilangan penglihatan. Tapi, masalahnya bukan cuma listrik mati, tapi juga “lampu” dari pemerintah yang seringkali redup dalam memberikan dukungan yang dibutuhkan.

Kisah pilu David Brookmyre, seorang pria 43 tahun dari Middlesbrough, Inggris, adalah salah satu contohnya. Akibat glaukoma yang dideritanya sejak lahir semakin parah, ia terpaksa berhenti kerja dan kembali tinggal bersama orang tuanya. Jangankan menikmati hidup mandiri, untuk keluar rumah saja butuh perencanaan matang. Miris, kan?

David hanyalah satu dari ribuan orang dengan gangguan penglihatan yang terpaksa antre berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk mendapatkan pelatihan rehabilitasi penglihatan dari pemerintah setempat. Padahal, layanan ini krusial untuk membantu mereka belajar kembali melakukan aktivitas sehari-hari dan hidup mandiri. Tanpa bantuan yang tepat waktu, mereka terancam terisolasi dari masyarakat.

Antrean Mengular, Harapan Meredup

Royal National Institute of Blind People (RNIB) melakukan investigasi dan menemukan fakta yang bikin geleng-geleng kepala. Dua puluh persen pemerintah daerah di Inggris, termasuk kota-kota besar seperti Newcastle, Brighton, dan Croydon, membiarkan warganya menunggu lebih dari setahun hanya untuk mendapatkan asesmen awal! Bayangkan, cuma asesmen doang, bukan tindakan nyata.

Lebih parah lagi, 85 persen pemerintah daerah gagal memenuhi rekomendasi RNIB untuk menyelesaikan asesmen rehabilitasi penglihatan dalam 28 hari. Ironisnya, seperempat dari mereka bahkan kesulitan mencari tenaga ahli yang kompeten untuk mengisi posisi yang kosong. Ibaratnya, mau bangun rumah, tukangnya nggak ada.

Alexis Horam, seorang spesialis rehabilitasi penglihatan dengan pengalaman 30 tahun, menegaskan betapa pentingnya layanan ini. Setiap hari, ia membantu orang-orang belajar kembali aktivitas dasar seperti membuat teh atau menyeberang jalan setelah kehilangan penglihatan. “Jika kamu tidak bisa keluar rumah, kamu kehilangan segalanya. Kehilangan kemampuan bersosialisasi, kehilangan teman, kehilangan pekerjaan… Tanpa intervensi yang tepat waktu… Saya pernah menemui orang yang ingin bunuh diri,” ujarnya.

Ketika Rumah Sendiri Terasa Asing

Bhavini Makwana, 43 tahun, merasakan dampak buruk kehilangan penglihatan. Setelah didiagnosis dengan retinitis pigmentosa pada usia 16 tahun, penglihatannya terus memburuk selama 12 tahun. Ia sudah menikah, punya anak, dan pindah rumah beberapa kali. “Yang paling berat adalah saya tidak bisa menemukan rumah saya sendiri,” katanya. Perjalanan pulang dari sekolah yang seharusnya hanya 10 menit bisa memakan waktu 45 menit karena ia kesulitan menemukan pintu rumahnya.

Beruntung, rehabilitasi penglihatan membantunya. Sebuah garis kuning di depan pintu rumahnya dengan lampu yang menyorotinya membantunya mengenali rumahnya. Perjalanan pulang pun kembali normal, hanya 10 menit. Tapi, tidak semua orang seberuntung Bhavini. Banyak yang masih berjuang dalam kegelapan, menunggu bantuan yang tak kunjung datang.

Vivienne Francis, Chief Strategy and Public Affairs Officer RNIB, mengatakan bahwa banyak orang dengan gangguan penglihatan menceritakan pengalaman mereka tentang tahun-tahun isolasi dan rendahnya kepercayaan diri tanpa rehabilitasi. “Rehabilitasi penglihatan sangat penting untuk menghentikan spiral ini dan memulai kembali hidup mereka,” tambahnya. “Ini mendukung orang buta dan tunanetra untuk berkembang dan mendapatkan kembali kemandirian, baik itu menggunakan transportasi umum, memasak makanan, atau kembali ke tempat kerja. Ini memulihkan martabat, kemandirian, dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, layanan yang kekurangan sumber daya merampas kesempatan ini dari banyak orang.”

Pemerintah Daerah Angkat Tangan?

Middlesbrough Council, pemerintah daerah tempat David Brookmyre tinggal, mengklaim bahwa mereka terus mengembangkan layanan dukungan sensorik bersama dengan penggunanya. Mereka juga mengklaim bahwa tingkat respons mereka terhadap sertifikat gangguan penglihatan saat ini mencapai 97 persen dalam 10 hari. Namun, klaim ini tidak serta merta menyelesaikan masalah antrean panjang dan kurangnya sumber daya.

Seorang juru bicara Local Government Association (LGA) mengakui bahwa gangguan penglihatan dapat berdampak serius pada kualitas hidup dan kemandirian seseorang. Mereka juga mengakui bahwa pemerintah daerah memainkan peran penting dalam memastikan sebanyak mungkin orang dapat mengakses asesmen, dukungan, dan perawatan. Namun, mereka juga mengeluhkan kurangnya pendanaan jangka panjang dan kekurangan pekerja, terutama di bidang keterampilan khusus seperti rehabilitasi penglihatan.

LGA menambahkan bahwa pemerintah daerah melakukan apa yang mereka bisa untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang terus meningkat, tetapi investasi berkelanjutan diperlukan untuk memberikan layanan yang memadai. The Independent telah menghubungi Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial untuk memberikan komentar, tetapi belum ada tanggapan.

Saatnya “Upgrade” Layanan Rehabilitasi Penglihatan

Kisah David dan Bhavini adalah potret buram layanan rehabilitasi penglihatan di Inggris. Antrean panjang, kurangnya sumber daya, dan tenaga ahli yang terbatas adalah masalah klasik yang terus menghantui. Pemerintah daerah seakan “lag” dalam memberikan respons yang cepat dan efektif terhadap kebutuhan warganya.

Padahal, rehabilitasi penglihatan bukan hanya sekadar membantu orang belajar membuat teh atau menyeberang jalan. Lebih dari itu, ini adalah tentang memulihkan martabat, kemandirian, dan harapan hidup. Ini adalah tentang memberikan kesempatan kepada mereka untuk kembali berpartisipasi dalam masyarakat, bekerja, bersosialisasi, dan menikmati hidup sepenuhnya.

Jangan Biarkan Mereka Hidup dalam “Mode Gelap”

Sudah saatnya pemerintah pusat dan daerah memberikan perhatian lebih serius terhadap masalah ini. Investasi yang berkelanjutan, peningkatan kualitas layanan, dan pelatihan tenaga ahli yang memadai adalah kunci untuk memecahkan masalah ini. Jangan biarkan teman-teman kita yang kehilangan penglihatan terus hidup dalam “mode gelap”. Berikan mereka “cheat code” untuk membuka kembali potensi mereka dan meraih kehidupan yang lebih baik.

Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami masalah serupa, jangan ragu untuk mencari bantuan. Ada banyak organisasi dan lembaga yang siap memberikan dukungan dan informasi yang dibutuhkan. Ingat, kamu tidak sendirian. Bersama, kita bisa menciptakan dunia yang lebih inklusif dan ramah bagi semua orang, tanpa terkecuali.

Previous Post

Dave McClain Cabut dari Sacred Reich: Apa Dampaknya Bagi Band Thrash Metal Ini?

Next Post

AI Kacau! Asisten Digital Rutin Salah Informasi Berita, Kepercayaan Publik Terancam

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *