Bayangkan punya teman yang hobinya nuduh orang lain bohong. Nyebelin, kan? Sekarang, bayangkan teman itu adalah… AI. Nah, kabar baiknya (atau buruknya?), AI ternyata nggak jago-jago amat soal mendeteksi kebohongan. Bahkan, cenderung lebih parah dari manusia. Kok bisa?
Sebuah studi dari Michigan State University (MSU) mencoba menguji kemampuan AI dalam mendeteksi kebohongan. Hasilnya? Mengejutkan sekaligus bikin ngakak. AI, yang digadang-gadang sebagai solusi anti-mainstream untuk masalah deteksi kebohongan, ternyata masih harus banyak belajar dari pinokio.
Penelitian ini melibatkan lebih dari 19.000 “partisipan” AI (iya, banyak juga ya yang nganggur jadi tukang deteksi kebohongan). Mereka ditugaskan untuk menilai apakah seseorang berbohong atau jujur berdasarkan rekaman video atau audio. Hasilnya dibandingkan dengan kemampuan manusia dalam situasi serupa. Kira-kira, siapa yang lebih jago?
Untuk memahami cara kerja AI dalam mendeteksi kebohongan, para peneliti menggunakan teori yang disebut Truth-Default Theory (TDT). Teori ini menyatakan bahwa manusia cenderung percaya bahwa orang lain jujur. Kita lebih sering berasumsi bahwa orang mengatakan yang sebenarnya, kecuali ada bukti yang kuat untuk sebaliknya. Lalu, bagaimana dengan AI?
“Manusia punya kecenderungan alami untuk percaya pada kebenaran – kita umumnya berasumsi bahwa orang lain jujur, terlepas dari apakah mereka benar-benar jujur,” kata David Markowitz, profesor komunikasi di MSU yang memimpin penelitian ini. “Kecenderungan ini dianggap berguna secara evolusioner, karena terus-menerus meragukan semua orang akan membutuhkan banyak usaha, membuat kehidupan sehari-hari sulit, dan membebani hubungan.”
AI: Lebih Curiga dari Ibu-Ibu Arisan?
Dalam penelitian ini, AI diberikan tugas untuk menilai rekaman audio visual dan audio saja dari manusia. Mereka diminta untuk menentukan apakah subjek berbohong atau mengatakan yang sebenarnya, dan memberikan alasan di balik penilaian mereka. Berbagai variabel dievaluasi, seperti jenis media (audio visual atau audio saja), latar belakang kontekstual, proporsi kebohongan dan kejujuran, dan “persona” AI (identitas yang dibuat untuk bertindak dan berbicara seperti orang sungguhan) untuk melihat bagaimana akurasi deteksi AI terpengaruh. Apakah AI jadi lebih curiga dari ibu-ibu arisan yang selalu mencari gosip terbaru?
Hasilnya menunjukkan bahwa AI cenderung lebih curiga daripada manusia. AI lebih akurat dalam mendeteksi kebohongan (85,8%) dibandingkan dengan kebenaran (19,5%). Dalam situasi interogasi singkat, akurasi deteksi kebohongan AI sebanding dengan manusia. Namun, dalam situasi non-interogasi (misalnya, saat mengevaluasi pernyataan tentang teman), AI menunjukkan bias kebenaran, yang lebih sesuai dengan kinerja manusia. Secara umum, hasilnya menemukan bahwa AI lebih bias kebohongan dan jauh kurang akurat daripada manusia.
Singkatnya, AI lebih jago mendeteksi kebohongan daripada kebenaran. Mungkin karena AI belum pernah merasakan pahitnya dikhianati mantan, jadi lebih mudah percaya sama omongan orang. Tapi, bukan berarti AI bisa langsung dipakai jadi alat pendeteksi kebohongan profesional. Masih banyak yang perlu diperbaiki.
AI Nggak Lebih Jago dari Detektif Konan?
“Tujuan utama kami adalah untuk melihat apa yang bisa kami pelajari tentang AI dengan memasukkannya sebagai peserta dalam eksperimen deteksi kebohongan. Dalam studi ini, dan dengan model yang kami gunakan, AI ternyata sensitif terhadap konteks – tetapi itu tidak membuatnya lebih baik dalam menemukan kebohongan,” kata Markowitz.
Temuan ini menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh AI tidak sesuai dengan hasil atau akurasi manusia. Ini mengindikasikan bahwa “kemanusiaan” mungkin menjadi batasan penting bagi penerapan teori deteksi kebohongan. Penelitian ini menyoroti bahwa menggunakan AI untuk deteksi mungkin tampak tidak bias, tetapi industri perlu membuat kemajuan signifikan sebelum AI generatif dapat digunakan untuk deteksi kebohongan. Jadi, jangan harap AI bisa menggantikan peran Detektif Konan dalam mengungkap kasus kebohongan.
Atau mungkin, AI ini terlalu sering nonton sinetron azab, jadi gampang suudzon sama orang lain? Kita kan nggak tahu.
Kenapa AI Belum Bisa Dipercaya Soal Kebohongan?
Ada beberapa alasan kenapa AI belum bisa diandalkan untuk mendeteksi kebohongan. Pertama, AI masih kesulitan memahami konteks sosial dan emosi manusia. AI hanya melihat data dan pola, tanpa bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang sedang berbohong. Padahal, emosi seringkali menjadi petunjuk penting dalam mendeteksi kebohongan.
Kedua, AI terlalu bergantung pada stereotip dan bias. Misalnya, AI mungkin menganggap seseorang berbohong hanya karena dia gugup atau menghindari kontak mata. Padahal, kegugupan dan penghindaran kontak mata bisa disebabkan oleh banyak faktor lain, seperti rasa malu atau trauma.
Ketiga, AI belum bisa membedakan antara kebohongan yang disengaja dan ketidaktahuan. Seseorang mungkin mengatakan sesuatu yang tidak benar karena dia tidak tahu informasi yang sebenarnya, bukan karena dia berniat untuk menipu. AI belum bisa membedakan kedua hal ini.
Jadi, Kapan AI Bisa Jadi Tukang Deteksi Kebohongan Profesional?
Mungkin butuh waktu yang lama sebelum AI bisa benar-benar diandalkan untuk mendeteksi kebohongan. Para peneliti perlu mengembangkan algoritma yang lebih canggih dan sensitif terhadap konteks sosial dan emosi manusia. Selain itu, AI juga perlu dilatih dengan data yang lebih beragam dan representatif.
“Sangat mudah untuk melihat mengapa orang mungkin ingin menggunakan AI untuk menemukan kebohongan – ini tampak seperti solusi berteknologi tinggi, berpotensi adil, dan mungkin tidak bias. Tetapi penelitian kami menunjukkan bahwa kami belum sampai di sana,” kata Markowitz. “Baik peneliti maupun profesional perlu membuat peningkatan besar sebelum AI benar-benar dapat menangani deteksi kebohongan.”
Tapi, sambil menunggu AI jadi jagoan deteksi kebohongan, kita bisa belajar dari penelitian ini. Bahwa nggak semua yang kelihatan canggih itu beneran canggih. Kadang, intuisi dan pengalaman manusia masih lebih unggul daripada teknologi yang paling mutakhir sekalipun. Jadi, jangan terlalu percaya sama AI, ya. Apalagi kalau urusannya sama hati.
Intinya, jangan sampai kita kayak robot yang gampang ketipu sama rayuan gombal. Tetap kritis, tetap waspada, dan tetap gunakan akal sehat. Karena, pada akhirnya, yang bisa menyelamatkan kita dari kebohongan adalah diri kita sendiri.


