Radiohead main lagi, Gaes! Setelah tujuh tahun lamanya bikin para penggemarnya garuk-garuk aspal saking rindunya, band asal Oxford ini akhirnya memutuskan untuk menampakkan diri di atas panggung. Madrid jadi saksi bisu comeback mereka yang maha dahsyat. Tapi, apakah konser ini se-worth it penantian panjangnya? Mari kita bedah setlist-nya sambil ngopi di warung virtual Mojok.
Radiohead: Antara Nostalgia dan Ekspektasi Selangit
Buat generasi 90-an dan awal 2000-an, Radiohead itu kayak soundtrack kehidupan. Lirik-lirik depresif Thom Yorke menemani masa-masa puber yang penuh kegalauan. Sekarang, setelah sekian lama, mereka kembali. Tapi, dunia sudah berubah, Gaes. Musik sudah bergeser, dan anak-anak muda sekarang mungkin lebih kenal BTS daripada “Creep”. Pertanyaannya, apakah Radiohead masih relevan? Apakah mereka bisa mengimbangi ekspektasi yang sudah menggunung selama tujuh tahun?
Konser di Madrid ini jadi semacam ujian bagi Radiohead. Mereka harus membuktikan bahwa mereka bukan sekadar band nostalgia, tapi juga punya sesuatu yang baru untuk ditawarkan. Setlist jadi kartu truf mereka. Apakah mereka akan memainkan lagu-lagu hits yang aman, atau berani bereksperimen dengan materi baru? Jawabannya, ternyata, ada di tengah-tengah.
Setlist: Campuran Klasik dan Kejutan Manis
Radiohead memanggang campuran antara lagu-lagu klasik yang bikin nostalgia dan kejutan manis yang menyegarkan. “Paranoid Android,” “Karma Police,” dan “Everything in Its Right Place” tetap jadi andalan. Penonton yang sudah lama menunggu auto koor massal. Tapi, mereka juga menyelipkan beberapa lagu yang jarang dimainkan, seperti “Pyramid Song” dan “There There.” Ini seperti easter egg buat penggemar berat yang sudah khatam semua album mereka.
Namun, ada satu hal yang cukup menarik perhatian: tidak ada “Creep.” Yap, lagu yang melambungkan nama mereka itu absen di setlist. Beberapa fans mungkin kecewa, tapi keputusan ini sebenarnya cukup bisa dimengerti. “Creep” memang ikonik, tapi Radiohead sudah berkali-kali mencoba untuk melepaskan diri dari bayang-bayang lagu itu. Mereka ingin dikenal bukan hanya sebagai band yang punya satu lagu hits, tapi sebagai band yang terus berevolusi.
Kontroversi Mengiringi: Antara Musik dan Politik
Di balik gegap gempita konser comeback ini, ada satu isu yang cukup sensitif: lokasi konser. Radiohead memilih untuk menggelar tur di negara-negara yang punya catatan HAM yang kurang baik, termasuk Israel. Keputusan ini menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk musisi lain dan aktivis kemanusiaan. Banyak yang menuduh Radiohead mengabaikan isu politik demi keuntungan ekonomi.
Radiohead sendiri punya pembelaan tersendiri. Mereka mengatakan bahwa mereka percaya pada dialog dan pertukaran budaya, dan bahwa memboikot suatu negara tidak akan menyelesaikan masalah. Mereka juga menekankan bahwa mereka tidak mendukung pemerintah Israel, tapi mendukung hak semua orang untuk menikmati musik. Tapi, argumen ini tidak sepenuhnya meredakan kontroversi. Banyak yang tetap merasa bahwa Radiohead seharusnya lebih berhati-hati dalam memilih lokasi konser.
Radiohead di 2025: Masih Relevan?
Pertanyaannya, setelah konser comeback dan kontroversi yang menyertainya, apakah Radiohead masih relevan di tahun 2025? Jawabannya tidak sesederhana membalikkan telapak tangan. Secara musikalitas, mereka masih sangat mumpuni. Thom Yorke masih punya suara yang khas, dan Jonny Greenwood masih bisa menciptakan riff-riff gitar yang bikin merinding. Tapi, dunia sudah berubah, Gaes.
Anak-anak muda sekarang punya selera musik yang berbeda. Mereka lebih suka musik yang upbeat dan mudah dicerna. Musik Radiohead yang kompleks dan melankolis mungkin terasa kurang cocok dengan zaman sekarang. Tapi, bukan berarti mereka tidak punya pendengar. Radiohead masih punya basis penggemar yang loyal, dan mereka terus menarik pendengar baru dengan musik mereka yang unik. Kuncinya adalah bagaimana mereka bisa beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Radiohead dan Algoritma Spotify: Bertemu di Mana?
Di era algoritma Spotify ini, tantangan bagi musisi adalah bagaimana membuat musik mereka ditemukan oleh pendengar baru. Radiohead punya satu keuntungan: nama mereka sudah sangat besar. Tapi, itu saja tidak cukup. Mereka harus pintar-pintar memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Mungkin mereka bisa belajar dari Taylor Swift yang sangat aktif berinteraksi dengan penggemarnya di media sosial.
Tapi, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: Radiohead adalah Radiohead. Mereka tidak bisa dipaksa untuk menjadi sesuatu yang bukan diri mereka. Mereka harus tetap setia pada visi artistik mereka, tanpa peduli apa kata pasar. Kalau mereka berhasil menjaga keseimbangan antara inovasi dan identitas, mereka akan tetap relevan untuk waktu yang lama. Intinya, jadi Radiohead itu kayak main Dark Souls, susah tapi nagih.
Radiohead: Lebih dari Sekadar Band, Sebuah Fenomena
Radiohead bukan hanya sekadar band, tapi sebuah fenomena. Mereka adalah soundtrack bagi generasi yang tumbuh di era internet, era ketidakpastian, dan era perubahan yang konstan. Musik mereka adalah cerminan dari kegelisahan, harapan, dan mimpi kita semua. Dan, meskipun dunia terus berubah, pesan-pesan dalam lagu mereka tetap relevan. Konser comeback mereka di Madrid adalah bukti bahwa Radiohead masih punya tempat di hati para penggemarnya. Semoga saja, mereka tidak perlu menunggu tujuh tahun lagi untuk kembali ke atas panggung.
Jadi, apakah Radiohead masih relevan? Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi, satu hal yang pasti: mereka akan terus menjadi bagian penting dari sejarah musik dunia. Dan, buat para penggemar yang sudah lama menunggu, konser comeback mereka adalah hadiah yang tak ternilai harganya. Sekarang, mari kita kembali mendengarkan “OK Computer” sambil merenungkan arti kehidupan.


