Dunia esports itu kayak drama Korea, penuh intrik, persaingan sengit, dan kadang bikin baper. Tapi, di balik gemerlap layar dan keyboard mekanik yang cetak-cetok, ada cerita-cerita inspiratif yang layak kita simak. Salah satunya adalah kisah Skylar “Virtuosa” Hew, jawara League of Legends Game Changers yang baru-baru ini bikin heboh jagat maya.
Kemenangan Virtuosa dan timnya di turnamen bergengsi itu bukan cuma sekadar trofi. Lebih dari itu, ini adalah bukti bahwa perempuan dan kelompok marginal punya tempat di dunia esports yang selama ini didominasi kaum adam. Tapi, perjalanan Virtuosa nggak semulus skin epic yang baru dirilis Riot Games. Ada ping tinggi, jam tidur berantakan, dan segudang tantangan lain yang harus dihadapi.
Kisah Virtuosa ini ibarat side quest di game MMORPG. Awalnya nggak niat, eh malah jadi penentu alur cerita utama. Dari coba-coba ikut open qualifier sampai akhirnya terbang ke Paris dan angkat piala, semua terjadi begitu cepat. Tapi, di balik semua itu, ada kerja keras, dedikasi, dan keyakinan bahwa mimpi itu bisa diraih, asalkan nggak AFK di lane.
Ping Tinggi, Mimpi Jangan Ikutan Tinggi
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Virtuosa adalah bermain dengan ping tinggi. Buat yang nggak ngerti, ping itu kayak jarak antara otak lo dengan server game. Semakin tinggi ping, semakin lambat respons karakter lo di layar. Bayangin aja, lagi asyik war, eh, karakter lo malah jalan sendiri kayak kesurupan. Nggak lucu, kan?
Virtuosa harus berjuang dengan ping 120, angka yang buat pemain profesional udah kayak neraka dunia. Tapi, alih-alih menyerah, dia malah menjadikan keterbatasan itu sebagai motivasi. “Awalnya memang susah, apalagi playstyle gue agresif dan on the edge. Tapi, lama-lama gue terbiasa,” ujarnya. Ini nih mentalitas gamer sejati: kesulitan bukan penghalang, tapi tantangan yang harus ditaklukkan.
Selain ping tinggi, Virtuosa juga harus berjibaku dengan perbedaan waktu. Pertandingan yang dimulai jam 5 pagi waktu Amerika Serikat berarti dia harus bangun jam 3 atau 4 pagi. Kebayang nggak tuh mata masih sepet, badan remuk, eh, harus fokus micro dan macro di game? Tapi, lagi-lagi, Virtuosa membuktikan bahwa semangat itu nggak ada matinya. “Itu bagian tersulit, tapi yaudahlah ya,” katanya santai.
LCS Game Changers: Dulu Ada, Sekarang Entah ke Mana
Sebelum ada League of Legends Game Changers, di Amerika Utara ada LCS Game Changers. Tapi, sayangnya, proyek itu nggak bertahan lama. Banyak pemain yang kecewa dan patah semangat karena merasa nggak ada lagi wadah untuk berkompetisi. Virtuosa pun merasakan hal yang sama. “Banyak teman gue yang bilang, ‘Impian gue tuh main di LCS Game Changers tahun depan’. Tapi, ternyata nggak ada,” ujarnya.
Menurut Virtuosa, Riot Games perlu mengambil langkah konkret untuk menghidupkan kembali LCS Game Changers. “Mungkin awalnya pemainnya nggak banyak, tapi itu adalah langkah pertama untuk membangun kembali komunitas,” katanya. Dia mencontohkan VALORANT VCT Game Changers yang sukses menarik minat banyak pemain dan penonton. “League perlu meniru pendekatan itu,” tegasnya.
Virtuosa percaya bahwa dengan adanya turnamen yang berkelanjutan, pemain dari kelompok marginal akan semakin termotivasi untuk berkompetisi. “Setiap tahun, turnamen seperti ini menginspirasi orang-orang dari gender yang termarginalkan untuk bermain. Ini akan terus berkembang,” katanya. Dia berharap, suatu saat nanti, scene League of Legends di Amerika Utara bisa sekuat atau bahkan lebih kuat dari Eropa.
Game Changers: Lebih dari Sekadar Turnamen
Buat Virtuosa, Game Changers bukan cuma sekadar turnamen. Ini adalah bukti bahwa perempuan dan kelompok marginal punya tempat di dunia esports. “Ini adalah bukti bahwa ada pemain seperti kita di seluruh dunia. Kami punya banyak penonton dari berbagai negara, dan gue harap ini bisa menginspirasi mereka,” ujarnya.
Dia menambahkan, Game Changers adalah sesuatu yang bisa dijadikan panutan. “Ini masih sangat muda, dan ada banyak ruang untuk berkembang. Kisah kami menunjukkan itu. G2 sudah jadi juara begitu lama, semua orang pikir mereka nggak terkalahkan. Tapi, tim kami bisa mengalahkan mereka dalam waktu singkat,” katanya. Ini membuktikan bahwa potensi itu ada, tinggal bagaimana kita mengembangkannya.
Virtuosa berpesan, siapapun, tanpa memandang skill, bisa mencapai titik ini asalkan mau berusaha. “Masih ada jalan panjang yang harus ditempuh, mungkin dengan lebih banyak integrasi dengan LEC atau LCS. Tapi, Game Changers adalah awal yang baik,” katanya. Dia mengajak semua orang untuk mencoba ikut open qualifier atau turnamen kecil. “Ini menyenangkan, bermakna, dan lo bisa bertemu dengan banyak orang hebat,” pungkasnya.
Tujuan Akhir Game Changers: Menormalisasi Perempuan di Esports
Menurut Virtuosa, tujuan utama Game Changers adalah menormalisasi keberadaan perempuan di dunia esports. Dia mencontohkan VALORANT VCT Game Changers yang sukses mengubah persepsi orang tentang pemain perempuan. “Dulu, banyak yang meremehkan pemain perempuan di VALORANT. Tapi, sekarang mereka dihormati dan dihargai,” ujarnya.
Dia berharap, League of Legends bisa mengikuti jejak VALORANT. “Mungkin beberapa tahun pertama nggak akan sempurna, tapi jika kita terus berusaha, ini akan berdampak besar bagi scene League of Legends,” katanya. Dia percaya bahwa dengan adanya Game Changers, jumlah pemain perempuan akan meningkat, sikap komunitas akan membaik, dan citra League of Legends secara keseluruhan akan lebih positif.
Virtuosa juga menyoroti pentingnya turnamen lain yang menargetkan kelompok marginal untuk melonggarkan aturan residensi. “Ada banyak pemain dari Amerika Utara yang ingin berpartisipasi, tapi terhalang oleh aturan residensi yang ketat,” katanya. Dia berharap, dengan melonggarkan aturan tersebut, turnamen akan semakin kompetitif dan menarik minat banyak pemain.
Pesan Terakhir dari Virtuosa: Jangan Pernah Menyerah
Di akhir wawancara, Virtuosa menyampaikan pesan terima kasih kepada keluarga, teman, dan fans yang selalu mendukungnya. Dia juga memberikan shoutout kepada Soligo dan Shannon yang selalu memberikan semangat dan dukungan emosional. “Tanpa mereka, gue nggak akan bisa sampai di titik ini,” ujarnya.
Dia juga berpesan kepada semua orang untuk tidak pernah menyerah dalam mengejar mimpi. “Mungkin ada banyak rintangan dan tantangan yang harus dihadapi, tapi jangan biarkan itu menghentikan lo. Teruslah berusaha dan berjuang, karena suatu saat nanti lo pasti akan mencapai tujuan lo,” pungkasnya.
Kisah Virtuosa ini adalah bukti bahwa mimpi itu bisa diraih, asalkan kita punya kemauan dan keberanian untuk mengejarnya. Jadi, buat lo yang punya mimpi di dunia esports, jangan pernah menyerah. Siapa tahu, suatu saat nanti lo bisa jadi jawara kayak Virtuosa dan menginspirasi banyak orang di seluruh dunia.


