Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Album Baru Soundgarden: Sentuhan Chris Cornell Hadir, Bikin Nostalgia!

Bayangkan begini, lagi asyik main game, tiba-tiba listrik mati. *Loading…* pun gagal total. *Nyesek* kan? Nah, kurang lebih begitulah rasanya kalau sebuah band legendaris seperti Soundgarden, yang lagunya menemani masa-masa galau kita dulu, tiba-tiba menghilang tanpa karya baru. Tapi tunggu dulu, sepertinya *power-up* telah diaktifkan. Kabar baiknya, mereka bangkit dari kubur (eh, maksudnya hiatus) dengan album baru yang berisi rekaman mendiang Chris Cornell. Tapi apakah ini *revival* yang epik atau sekadar *nostalgia trip* yang bikin batre hape boros?

Soundgarden: Dari Grunge ke Gerbang Keabadian

Buat yang belum tahu Soundgarden, mereka ini bukan band kemarin sore yang lagunya cuma viral di TikTok. Mereka adalah salah satu pilar grunge Seattle di era 90-an, bersama Nirvana, Pearl Jam, dan Alice in Chains. Musik mereka adalah perpaduan antara heavy metal, punk rock, dan psychedelia, dengan lirik yang gelap dan vokal Chris Cornell yang khas. Mereka adalah soundtrack pemberontakan anak muda yang merasa dunia ini *nggak* adil.

Namun, seperti banyak band rock lainnya, Soundgarden juga mengalami pasang surut. Mereka sempat bubar di tahun 1997, lalu reuni di tahun 2010. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Pada tahun 2017, Chris Cornell ditemukan meninggal dunia, meninggalkan duka yang mendalam bagi para penggemar dan anggota band lainnya.

Kematian Cornell seperti *nerf* yang mematikan bagi Soundgarden. Banyak yang mengira band ini akan benar-benar berakhir. Tapi ternyata, para personel yang tersisa, Kim Thayil, Matt Cameron, dan Ben Shepherd, punya rencana lain. Mereka memutuskan untuk menyelesaikan album yang berisi rekaman-rekaman lama Chris Cornell, dengan bantuan produser Terry Date.

Album Baru: Babak Baru atau Sekadar Nostalgia?

Proyek album baru ini tentu saja menimbulkan berbagai reaksi. Ada yang antusias, ada yang skeptis. Ada yang berharap ini akan menjadi karya monumental, ada yang khawatir ini hanya akan merusak warisan Soundgarden. Maklum, ekspektasi penggemar itu kadang lebih berat dari cicilan KPR.

Matt Cameron sendiri mengakui bahwa proses pengerjaan album ini sangat emosional. Di satu sisi, ia senang karena musik yang mereka buat bisa didengar oleh banyak orang. Di sisi lain, ia merasa sedih karena Chris Cornell tidak bisa ikut merayakan momen ini. “Ini seperti *roller coaster* emosi,” ujarnya.

Terry Date: Produser yang Tidak Mau Jadi Sutradara

Salah satu kunci dari proyek ini adalah Terry Date. Produser yang pernah menggarap album-album klasik Soundgarden seperti “Louder Than Love” dan “Badmotorfinger” ini punya pendekatan yang unik. Ia tidak mau memaksakan gayanya sendiri ke dalam musik band. Ia lebih memilih untuk menjadi fasilitator yang membantu band mengeluarkan potensi terbaiknya.

“Terry tidak pernah memaksakan gaya produksinya pada band manapun. Dia belajar dari band,” kata Kim Thayil. “Dia ingin ini menjadi proyek *co-production*. Dia membantu band menjadi band itu sendiri.” Pendekatan ini tentu saja sangat penting, mengingat Soundgarden adalah band yang punya identitas yang kuat.

Dengan kata lain, Terry Date ini seperti *support* dalam game MOBA. Tugasnya bukan untuk *kill* sebanyak-banyaknya, tapi untuk membantu *carry* (dalam hal ini, Soundgarden) agar bisa menang. Ia memastikan bahwa musik yang dihasilkan tetap setia pada akar Soundgarden, namun tetap terdengar segar dan relevan.

“The Road Less Traveled”: Sebuah Lagu, Sebuah Kisah

Salah satu lagu yang akan masuk ke dalam album baru ini adalah “The Road Less Traveled”. Lagu ini ditulis oleh Matt Cameron dan Chris Cornell sekitar tahun 2015-2016. Cameron awalnya tidak yakin apakah musiknya cocok untuk Soundgarden, tapi Cornell sangat menyukainya.

“Liriknya memukau, seperti biasa,” kata Cameron. “Lagu ini punya semua elemen yang familiar bagi penggemar Soundgarden, namun juga ada sedikit wilayah baru. Ini *hard rock*, sedikit *bluesy*, sedikit *psychedelic*, sedikit *folky*. Semua hal yang membuat kami dikenal.”

“The Road Less Traveled” bisa jadi adalah metafora yang tepat untuk perjalanan Soundgarden saat ini. Mereka sedang menempuh jalan yang tidak biasa, jalan yang belum pernah mereka lalui sebelumnya. Mereka sedang mencoba untuk menghidupkan kembali masa lalu, sambil tetap melihat ke masa depan.

Warisan yang Harus Dijaga

Terlepas dari bagaimana nanti hasil akhirnya, proyek album baru ini adalah bukti bahwa Soundgarden adalah band yang punya warisan yang kuat. Mereka tidak hanya sekadar band rock biasa. Mereka adalah bagian dari sejarah musik dunia. Mereka adalah soundtrack bagi generasi yang tumbuh besar di era grunge.

Kim Thayil mengatakan bahwa menyelesaikan album ini adalah hadiah untuk para penggemar, dan juga untuk Chris Cornell. “Ini adalah cara untuk memberi penghormatan kepada saudara terkasih kami,” ujarnya. “Semua ini memiliki bobot emosional dan kreatif yang lebih besar, dan kami tidak menganggapnya enteng.”

Soundgarden dan Kisah Panjang Hak Cipta

Sebelumnya, rilis album ini sempat terhambat permasalahan hak cipta dengan janda Chris Cornell, Vicky Cornell. Bahkan, media sosial Soundgarden sempat dikuasai oleh Vicky. Setelah perseteruan panjang, kedua belah pihak akhirnya mencapai kesepakatan damai.

Kasus Soundgarden ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya hak cipta. Bahwa karya seni itu bukan hanya sekadar hiburan, tapi juga aset yang punya nilai ekonomi. Bahwa ada hak-hak yang harus dilindungi, baik hak pencipta maupun hak ahli waris.

Apakah Album Ini Akan Mengubah Dunia?

Mungkin tidak. Tapi album ini punya potensi untuk mengobati kerinduan para penggemar Soundgarden. Untuk mengingatkan kita semua tentang betapa hebatnya band ini. Untuk memberi penghormatan terakhir kepada Chris Cornell, salah satu vokalis terbaik yang pernah ada.

Jadi, siapkah kita untuk kembali *moshing* di kamar sambil mendengarkan lagu-lagu baru Soundgarden? Siapkah kita untuk merasakan kembali energi grunge yang dulu pernah mengguncang dunia? Semoga saja, album ini tidak hanya menjadi *flashback* yang menyenangkan, tapi juga menjadi *legacy* yang abadi.

Previous Post

Esports: Hype & Way Susul SlowQ dan 113, Gabung Misa Esports!

Next Post

Endeavour: Intip Isi Samuel Oschin Air & Space Center, Bikin Takjub!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *