Jay Weinberg, sang dewa drum yang pernah menggebuk bersama Slipknot dan Suicidal Tendencies, kini memutuskan untuk bersolo karir. Apakah ini pertanda kiamat bagi band-band metal dunia? Tentu saja tidak. Tapi, mari kita tetap heboh seolah-olah inilah momen paling penting dalam sejarah musik metal.
Weinberg, yang selama ini dikenal sebagai tukang pukul perkusi, ternyata menyimpan bakat terpendam sebagai gitaris. Ia membuktikan bahwa drummer juga bisa jadi frontman, asalkan punya cukup keberanian dan mungkin sedikit kegilaan. Proyek solonya ini diberi nama Jay Weinberg, sebuah nama yang sangat orisinal dan tidak membingungkan sama sekali.
Dari Drum ke Gitar: Sebuah Evolusi atau Krisis Identitas?
Single perdananya, “Sandstone,” menampilkan vokal dari George Clarke, pentolan band black metal Deafheaven. Kolaborasi ini terdengar seperti perpaduan antara brutalitas metalcore dan atmosfer kelam black metal. Apakah ini resep yang bagus? Tergantung selera masing-masing. Yang jelas, Weinberg mencoba keluar dari zona nyaman dan bereksperimen dengan suara yang berbeda.
Proses rekaman “Sandstone” dilakukan di dua kota besar, Nashville dan Los Angeles. Ini seperti menggabungkan dua dunia yang berbeda: Nashville dengan musik country-nya yang kalem, dan Los Angeles dengan hingar bingar Hollywood. Mungkin Weinberg ingin menciptakan musik yang bisa dinikmati oleh semua orang, dari koboi hingga anak metal.
Weinberg mengaku bahwa ide untuk “Sandstone” sudah ada di benaknya selama 6-8 tahun. Ini seperti menyimpan dendam kesumat yang akhirnya bisa dilampiaskan. Ia juga mengungkapkan bahwa gitar adalah instrumen pertamanya, sebelum akhirnya jatuh cinta pada drum. Jadi, proyek solo ini bisa dibilang sebagai comeback seorang gitaris yang sempat tersesat di balik drum set.
“Gitar itu cinta pertamaku. Drum itu… selingkuhan,” kira-kira begitu pengakuan Weinberg, jika ia seorang tokoh di sinetron azab.
Kolaborasi Anti-Mainstream: Ketika Metal Bertemu Black Metal
Weinberg menjelaskan bahwa ia ingin berkolaborasi dengan banyak vokalis untuk proyek solonya. Ia tidak ingin terjebak dalam proyek sampingan yang kaku, tapi lebih memilih kolaborasi yang santai dan menyenangkan. Pendekatan ini terdengar seperti ajang reuni teman lama yang kebetulan jago bermusik. Atau mungkin, Weinberg hanya ingin pamer bahwa ia punya banyak teman musisi.
“Saya ingin mengajak teman-teman untuk bermain musik bersama, tanpa tekanan atau ekspektasi yang berlebihan. Seperti main jam session di garasi, tapi direkam dan dirilis secara profesional,” ujar Weinberg, mencoba merendah.
Soal kolaborasinya dengan George Clarke, Weinberg merasa bahwa musik yang ia ciptakan sangat cocok dengan karakter vokal Clarke yang unik. Clarke pun menyambut tawaran Weinberg dengan tangan terbuka dan langsung memberikan sentuhan magis pada “Sandstone.” Hasilnya adalah lagu yang gelap, intens, dan penuh emosi. Seperti soundtrack untuk film horor yang disutradarai oleh David Lynch.
“George Clarke itu seperti penyihir. Ia bisa mengubah kata-kata menjadi mantra yang menghantui,” puji Weinberg, berlebihan.
EP di Tahun 2026: Sebuah Janji atau Ancaman?
Weinberg berencana merilis EP debutnya di awal tahun 2026. EP ini akan menampilkan berbagai kolaborasi dengan musisi lain. Ia berharap EP ini bisa menjadi awal dari perjalanan panjangnya sebagai solois. Atau mungkin, EP ini akan menjadi batu sandungan yang membuatnya kembali ke pelukan Slipknot.
“EP ini adalah wujud dari eksplorasi musik saya. Saya ingin mencoba hal-hal baru dan berkolaborasi dengan orang-orang yang saya kagumi. Ini adalah cara saya untuk berkembang sebagai musisi,” jelas Weinberg, terdengar sangat ambisius.
Namun, kita sebagai pendengar hanya bisa berharap bahwa EP ini tidak akan mengecewakan. Kita sudah terlalu sering dikecewakan oleh janji-janji manis dari musisi yang ingin bereksperimen. Kita hanya ingin musik yang bagus, bukan musik yang sok-intelektual.
Jay Weinberg: Antara Drum, Gitar, dan Eksistensi
Lantas, apa sebenarnya motivasi Weinberg untuk bersolo karir? Apakah ia ingin membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar drummer? Apakah ia ingin mencari pengakuan yang lebih besar? Atau apakah ia hanya bosan menggebuk drum dan ingin mencoba hal yang baru?
Mungkin semua alasan itu benar. Weinberg adalah musisi yang kompleks, dengan banyak lapisan dan ambisi. Ia ingin terus berkembang, bereksperimen, dan menantang dirinya sendiri. Ia tidak ingin terjebak dalam satu genre atau satu peran. Ia ingin menjadi lebih dari sekadar Jay Weinberg, sang drummer Slipknot.
Kita sebagai pendengar hanya bisa menyaksikan dan menikmati perjalanan musiknya. Siapa tahu, proyek solo Weinberg ini akan menjadi sesuatu yang besar dan mengubah lanskap musik metal dunia. Atau mungkin, proyek ini hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah musik metal. Yang jelas, kita tidak akan pernah tahu sampai kita mendengarkannya sendiri.
Jadi, mari kita dengarkan “Sandstone” dan bersiap-siap untuk EP Weinberg di tahun 2026. Siapa tahu, kita akan terkejut dengan apa yang ia ciptakan. Atau mungkin, kita akan kecewa dan kembali mendengarkan album-album Slipknot yang lama. Tapi, setidaknya kita sudah mencoba.


