Di tengah hiruk pikuk dunia digital yang serba cepat dan kadang bikin pusing, ada secercah harapan. Bayangkan, di tengah lautan gadget dan notifikasi yang tak berkesudahan, orang-orang justru mencari pelarian ke hal-hal yang… klasik? Iya, kayak kaset jadul yang diputar lagi setelah puluhan tahun nganggur di gudang.
Ketika Teknologi Bikin Mumet, Analog Jadi Obat
Fenomena ini nggak cuma melanda generasi yang lahir sebelum internet (para sesepuh dan orang tua kita), tapi juga generasi digital native yang konon katanya nggak bisa hidup tanpa smartphone. Mereka semua, dari berbagai usia, sepakat: ada sesuatu yang menenangkan dari kegiatan-kegiatan yang nggak melibatkan layar sentuh.
Mereka mulai melukis, mewarnai, merajut, main monopoli, dan bahkan mengirim kartu ucapan ulang tahun yang ditulis tangan (iya, pakai pulpen!). Ada juga yang nekat nyetir mobil manual di tengah kemacetan Jakarta, padahal mobil-mobil modern udah pada bisa nyetir sendiri. Dan yang paling mengejutkan, piringan hitam alias vinyl kembali berjaya setelah sempat divonis mati.
Martin Bispels, mantan eksekutif QVC yang kini jualan merchandise rock jadul lewat Retroactv, bilang kalau nostalgia itu memang bikin nyaman. “Masa lalu itu bisa dipahami. Masa lalu itu… ya masa lalu,” ujarnya. “Dan kita bisa mendefinisikannya sesuai dengan apa yang kita ingat.” Betul juga, kan? Lebih enak nginget mantan pas lagi baik-baiknya daripada pas lagi nagih utang.
Tapi, kenapa generasi muda juga ikutan latah balik ke analog? Pamela Paul, penulis buku “100 Things We’ve Lost To The Internet,” punya teorinya. Katanya, generasi muda itu kangen sama sesuatu yang nyata. Mereka merasa hidup mereka terlalu digital, terlalu ephemeral, terlalu… nggak bisa dipegang.
“Generasi muda punya semacam kerinduan karena sedikit sekali dari hidup mereka yang terasa nyata,” kata Paul. “Mereka mulai sadar bagaimana internet telah mengubah hidup mereka, dan mereka mencoba menghidupkan kembali lingkungan low-tech yang dulu dianggap remeh oleh generasi yang lebih tua.” Kayak nyari sinyal Wi-Fi di tengah hutan belantara, tapi yang dicari bukan internet, melainkan… sentuhan manusia.
Kartu Ucapan: Antara Nostalgia dan Sentuhan Personal
Ngirim kartu ucapan itu udah jadi tradisi selama berabad-abad. Tapi, tradisi ini terancam punah karena tsunami teks dan postingan media sosial. Selain lebih cepat dan praktis, komunikasi digital juga lebih murah. Harga perangko naik terus, bro! Dulu cuma 33 sen, sekarang udah 78 sen. Mending buat beli kopi, kan?
Untungnya, masih ada orang-orang kayak Megan Evans yang berjuang melestarikan tradisi ini. Dia bikin grup Facebook bernama “Random Acts of Cardness” sepuluh tahun lalu, saat dia masih 21 tahun. Tujuannya sederhana: menjalin koneksi yang lebih manusiawi di dunia yang semakin impersonal. Nggak kayak komen pedas di Twitter yang isinya cuma nyinyir.
“Semua orang bisa ngirim pesan teks yang isinya ‘Selamat Ulang Tahun!’ Tapi, ngirim kartu itu jauh lebih niat,” kata Evans. “Itu sesuatu yang udah disentuh sama pengirimnya, dan bakal kamu pegang juga.” Romantis juga ya, kayak surat cinta zaman Siti Nurbaya.
Grup Facebook Evans kini beranggotakan lebih dari 15.000 orang. Salah satunya adalah Billy-Jo Dieter, yang ngirim minimal 100 kartu per bulan untuk berbagai momen. “Seni yang sekarat,” begitu katanya. Emang sih, kayak dinosaurus yang tinggal nunggu asteroid.
“Tujuan saya adalah membuat setidaknya satu orang tersenyum setiap hari,” kata Dieter. “Saat kamu duduk dan nulis sesuatu di atas kertas, itu jadi sesuatu yang lebih personal.” Lebih personal daripada sticker hati-hati di WhatsApp, jelas!
Tongkat Persneling: Simbol Kontrol di Era Mobil Pintar
Sebelum Ray Kurzweil memperkenalkan konsep “Singularity” yang membayangkan komputer bersatu dengan manusia, jalanan udah dipenuhi mobil manual yang bekerja sama dengan manusia. Tapi, mobil manual kayaknya bakal punah seiring dengan perkembangan teknologi yang mengubah mobil jadi komputer berjalan. Kurang dari 1% mobil baru yang dijual di AS punya transmisi manual. Dulu tahun 1980 masih 35%, lho!
Tapi, masih ada juga penggemar setia mobil manual kayak Prabh dan Divjeev Sohi. Dua bersaudara ini nyetir mobil manual ke kampus mereka di San Jose State University, di jalanan Silicon Valley yang penuh dengan Tesla. Mereka suka mobil manual gara-gara main video game dan naik mobil manual punya bokap dan kakeknya.
Pas udah cukup umur buat nyetir, Prabh (22) dan Divjeev (19) bertekad buat menguasai keterampilan yang jarang banget dilakuin sama anak muda zaman sekarang: ngopling. Hasilnya? Jeep Wrangler tahun 1994 mereka mati mesin di tengah jalan, bikin pengendara lain frustrasi.
“Dia matiin mesin lima kali pas pertama kali nyetir,” kenang Prabh. Kayak noob main game RPG!
Meski pengalaman itu masih bikin Divjeev merinding, dia merasa itu membawanya ke tempat yang lebih baik. “Kamu lebih hadir di momen itu pas nyetir mobil manual. Kamu cuma fokus nyetir dan nggak ngelakuin hal lain,” kata Divjeev. “Kamu paham mobilnya, dan kalau kamu nggak nanganin dengan benar, mobilnya nggak bakal jalan.” Bener juga ya, kayak hubungan, kalau nggak ditanganin dengan benar, ya bubar.
Vinyl: Ketika Suara Jadul Lebih Menggoda
Kepunahan vinyl kayaknya udah nggak bisa dihindari pas CD muncul di tahun 1980-an. Penjualan vinyl merosot tajam hingga mencapai titik terendah di tahun 2006, cuma 900.000 keping. Padahal, di tahun 1977, penjualan vinyl mencapai 344 juta keping. Kayak harga Bitcoin yang naik turun nggak jelas.
Tapi, penjualan vinyl tiba-tiba melonjak lagi. Dalam dua tahun terakhir, sekitar 43 juta keping vinyl terjual setiap tahunnya, padahal sekarang ada layanan streaming musik yang memungkinkan kita buat dengerin lagu apa aja kapan aja. Gratis pula!
Bukan cuma baby boomer yang nostalgia, generasi muda juga mulai demen sama suara vinyl yang lebih “berisi”. Lebih berisi daripada dompet anak kos akhir bulan.
“Saya suka banget dengerin album vinyl dari awal sampai akhir. Rasanya kayak lagi duduk bareng sama artistnya,” kata Carson Bispels (24). “Vinyl itu kayak nambahin kesan permanen yang bikin musiknya terasa lebih orisinal. Cuma kamu dan musiknya, seharusnya emang gitu.”
Carson adalah anak dari Martin Bispels, mantan eksekutif QVC tadi. Beberapa tahun lalu, Martin ngasih beberapa koleksi vinylnya ke Carson, termasuk album Bob Marley “Taklin’ Blues” yang udah sering banget diputar sampai berisik karena goresan. Udah kayak dengerin mantan nyanyi di kamar mandi.
“Saya masih dengerin album itu karena setiap kali denger, saya jadi inget sama ayah saya,” kata Carson. So sweet!
Awalnya cuma punya 10 album vinyl dari ayahnya, sekarang Carson udah punya sekitar 100 album dan berencana buat nambah terus koleksinya. “Era digital musik itu emang fantastis, tapi nggak ada yang ngalahin sensasi masuk ke toko vinyl dan milih-milih album sambil ngobrol sama pengunjung lain buat nyari tahu apa yang lagi mereka dengerin,” kata Carson. Lebih seru daripada scroll TikTok, lah!
Paul, penulis buku tentang kegiatan analog yang udah ditelan internet, bilang kalau kebangkitan vinyl ini bikin dia kepikiran buat bikin sekuel. “Kembalinya sentuhan manusia,” katanya, “bisa jadi bahan buat buku lain.”
Jadi, di tengah gempuran teknologi yang semakin canggih, jangan lupa buat sesekali “balik kampung” ke hal-hal yang sederhana. Siapa tahu, di sana kamu bisa nemuin sesuatu yang lebih bermakna daripada sekadar notifikasi.


