Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

E-bike Berulah: Siapa yang Disalahkan, Pengendara Atau Aspal Licin?

Entah mengapa, hiruk-pikuk jalanan kini punya soundtrack baru: deru motor listrik yang entah mengapa seringkali berujung pada drama medis yang bikin ngeri. Dari trotoar yang tadinya damai, kini jadi arena sirkuit mini bagi para penunggang kuda besi berdaya baterai. Para dokter di unit gawat darurat mungkin harus ganti almamater jadi kostum pembalap, saking banyaknya kasus cedera akibat e-bike yang masuk. Tapi jangan salah, di balik keprihatinan kolektif atas gaya ngebut yang sok jago, ada perdebatan sengit: apakah kita perlu infrastruktur yang lebih baik atau cukup regulasi ketat yang bikin e-bike menjerit?

E-bike: Tren Baru yang Bikin Ngeri

Peningkatan jumlah cedera traumatis yang disebabkan oleh e-bike di Amerika Serikat telah menarik perhatian berbagai pihak, mulai dari tenaga medis, pembuat kebijakan, pejalan kaki, hingga semua orang yang kebetulan lewat. Ada kekhawatiran bersama mengenai pengendara yang seenaknya melibas jalanan dengan mesin trendi ini. Namun, aroma perpecahan mulai tercium di kalangan pegiat keselamatan jalan raya mengenai solusi paling jitu untuk mencegah kecelakaan. Salah satu poin krusialnya adalah apakah pemerintah harus fokus pada perbaikan infrastruktur atau malah lebih getol mengatur e-bike itu sendiri. Alexa Sledge, juru bicara Transportation Alternatives, organisasi yang memperjuangkan jalanan New York yang lebih aman, memberikan pandangan yang cukup gamblang. Ia menekankan bahwa mayoritas kasus kematian terkait e-bike justru melibatkan mobil dan truk yang menabrak pengendara e-bike, bukan sebaliknya. Ini menegaskan bahwa masalahnya bukan semata-mata perilaku pengendara e-bike, tapi juga interaksi mereka dengan kendaraan yang lebih besar di jalanan yang belum tentu ramah bagi mereka.

Sledge menambahkan, fokus utama seharusnya pada pengembangan dan perluasan infrastruktur yang mampu melindungi semua pengguna jalan. Ini mencakup area terproteksi bagi pesepeda, pejalan kaki, dan berbagai moda transportasi lainnya. Konsep ini bukan sekadar permintaan idealis, melainkan sebuah kebutuhan mendesak mengingat data cedera yang terus merangkak naik. Pengalaman Roberta Simon, seorang pengacara, menjadi bukti nyata betapa berbahayanya situasi ini ketika infrastruktur tidak memadai. Ia mengalami cedera otak traumatis parah setelah ditabrak oleh seorang remaja pengendara e-bike saat berjalan di Central Park. Setelah terbangun empat hari kemudian di rumah sakit dengan kepala dijahit 40 kali dan selang di tenggorokan, ia membutuhkan waktu enam bulan untuk kembali beraktivitas normal. Ia sendiri mengakui betapa beruntungnya ia masih hidup.

Angka Kematian dan Cedera: Peringatan Keras

Angka kematian di New York City akibat kecelakaan e-bike mencapai 17 orang pada tahun 2024, demikian data dari departemen transportasi kota. Ini bukan angka kecil, dan menjadi sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan. Secara nasional, cedera akibat e-bike terus meningkat tajam. Laporan di jurnal medis Jama Surgery mencatat 1.600 kasus di seluruh AS pada tahun 2018, namun angka tersebut melonjak drastis menjadi 23.000 hanya dalam kurun waktu empat tahun, tepatnya pada 2022. Peningkatan eksponensial ini sejalan dengan lonjakan penjualan e-bike. Dari 50.000 unit terjual di tahun 2018, angka tersebut meroket menjadi 527.000 unit pada tahun 2022, menurut riset pasar dari Circana. Pasar e-bike Amerika diprediksi akan terus tumbuh, dari sekitar 4,4 miliar dolar pada 2026 menjadi lebih dari 6,2 miliar dolar pada 2031. Pertumbuhan pasar yang masif ini seharusnya dibarengi dengan kesadaran dan kesiapan infrastruktur yang memadai, bukan sekadar euforia tren.

Dr. Ashley Pfaff, seorang ahli bedah trauma dan perawatan kritis di Rumah Sakit Bellevue, New York, bahkan menyatakan bahwa ia melihat cedera terkait kendaraan listrik setiap hari. Fenomena ini bukan hanya terjadi di New York. Di Tampa Bay, Florida, setidaknya 28 orang tewas dalam kecelakaan e-bike selama lima tahun terakhir. Seorang dokter di unit gawat darurat anak di wilayah tersebut bahkan menyebut bahwa cedera traumatis ini telah menciptakan “pergeseran paradigma dalam praktik kedokteran darurat”. California pun tak luput dari gelombang kecelakaan e-bike yang mengkhawatirkan. Dua kota dekat San Diego bahkan sampai mendeklarasikan keadaan darurat menyusul kecelakaan fatal. Angka 901 cedera e-bike di New York City pada tahun 2025, yang merupakan peningkatan 41% dari tahun sebelumnya, semakin menegaskan skala masalah ini. Studi di Bellevue menunjukkan bahwa 7% dari total kunjungan trauma antara 2018-2023 disebabkan oleh cedera terkait micromobility—sepeda, e-bike, dan skuter listrik—dengan hampir 69% pasien memerlukan rawat inap dan sepertiga di antaranya membutuhkan perawatan intensif. Ini bukan sekadar angka statistik; ini adalah cerita tentang kehidupan yang terganggu atau bahkan terenggut.

Priscilla’s Law: Solusi Kontroversial

Untuk menekan angka cedera ini, sebuah aliansi bernama NYC E-Vehicle Safety Alliance mengusulkan sebuah undang-undang legislatif tingkat kota dan negara bagian yang diberi nama Priscilla’s Law. Nama ini diambil dari Priscilla Loke, seorang pendidik anak usia dini yang tewas tertabrak saat berjalan di Manhattan pada tahun 2023 oleh seorang pengendara electric Citi Bike. Undang-undang ini, jika disahkan, akan mewajibkan pemilik e-bike dan skuter listrik untuk mendaftarkan kendaraan mereka ke departemen kendaraan bermotor negara bagian dan memasang pelat nomor. Tanpa pelat nomor, para pegiat berpendapat bahwa kota akan kesulitan menegakkan batas kecepatan 15 mil per jam untuk e-bike yang diberlakukan pada tahun 2025. Pengendara yang melanggar aturan akan dapat dikenali melalui kamera lalu lintas, mirip dengan mobil. Janet Schroeder, salah satu pendiri aliansi tersebut, menyuarakan keyakinannya bahwa ini adalah cara efektif untuk meningkatkan akuntabilitas.

Namun, usulan ini tidak serta merta disambut baik oleh semua pihak. Transportation Alternatives, misalnya, dengan tegas menentang undang-undang tersebut. Menurut mereka, Priscilla’s Law akan memaksa kota untuk menciptakan sebuah “lembaga baru yang sangat besar” dan melakukan perubahan yang “tidak akan membuat siapa pun lebih aman”. Michelle Cruz, warga New York lainnya, justru mendukung penuh Priscilla’s Law. Ia kehilangan ayahnya, Luis Cruz, tahun lalu akibat ditabrak e-bike saat menyeberang jalan di Brooklyn. Ayahnya, yang merupakan imigran Meksiko dan kini warga negara AS, saat itu sedang mengantarkan makanan, sama seperti si penabrak. Michelle Cruz berargumen bahwa para pengendara e-bike seringkali mengabaikan rambu lalu lintas dan hukum berkendara. Ia merasa mereka seharusnya memiliki lisensi dan pelat nomor agar patuh pada regulasi yang sama seperti pengemudi mobil. Namun, ia juga mengakui bahwa banyak imigran yang terpaksa bekerja sebagai pengantar makanan menggunakan sepeda karena tidak memiliki lisensi kendaraan bermotor. Ia menyarankan opsi lain, yaitu menggunakan sepeda non-motor.

Di luar Amerika Serikat, Toronto pernah mempertimbangkan sistem registrasi sepeda serupa. Namun, pemerintah kota akhirnya memutuskan bahwa birokrasi yang perlu diciptakan tidak sepadan dengan manfaat yang diperoleh. Di Amerika sendiri, New Jersey telah mengesahkan undang-undang yang mewajibkan semua pengendara e-bike memiliki lisensi, mendaftarkan, dan mengasuransikan kendaraan mereka. People for Bikes menentang undang-undang ini, menganggapnya menciptakan pembatasan yang memberatkan bagi e-bike berkecepatan rendah, sementara kendaraan berisiko lebih tinggi seperti moped dan motor listrik tidak mendapatkan regulasi tambahan. Transportation Alternatives juga menyatakan kekhawatiran bahwa registrasi e-bike akan menyebabkan pemberhentian polisi yang tidak perlu terhadap pengendara sepeda dan pengguna e-micromobility lainnya, serta berpotensi menimbulkan penegakan hukum yang tidak setara oleh petugas. Sebagai gantinya, mereka mendorong pendanaan publik untuk program berbagi sepeda, perluasan jalur sepeda yang terlindungi, peningkatan ketinggian penyeberangan jalan, dan penghapusan tempat parkir di dekat persimpangan untuk meningkatkan visibilitas.

Mencari Titik Temu: Infrastruktur vs. Regulasi

Ligia Guallpa, salah satu pendiri Los Deliveristas Unidos, sebuah kelompok advokasi pekerja pengantar makanan, menyuarakan keprihatinan bahwa sistem registrasi dapat disalahgunakan oleh penegak hukum untuk menargetkan imigran tidak berdokumen, yang banyak di antaranya bekerja di perusahaan pengantaran. Guallpa, bagaimanapun, mendukung batas kecepatan baru. Ia berpendapat bahwa kota seharusnya mendorong produsen untuk menciptakan teknologi yang memastikan batas kecepatan terjaga pada 15 mil per jam, alih-alih mengerahkan lebih banyak polisi yang justru dapat mengkriminalisasi dan melakukan pengawasan berlebihan terhadap komunitas yang sudah terbebani. Kekhawatiran ini merujuk pada kebijakan di era Walikota Adams sebelumnya yang menerbitkan surat panggilan pidana bagi pengendara e-bike dan pesepeda untuk pelanggaran lalu lintas ringan. Walikota New York City saat ini, Zohran Mamdani, telah mencabut kebijakan tersebut, dan kini pengendara hanya menerima tilang seperti layaknya pengemudi kendaraan bermotor. Schroeder dari NYC E-Vehicle Safety Alliance menolak anggapan bahwa lisensi akan mengkriminalisasi imigran. Ia juga mempertanyakan efektivitas usulan Transportation Alternatives: “Bagaimana jalur sepeda yang lebih lebar bisa membuat pengendara e-bike berhenti ngebut? Bagaimana jalur sepeda yang lebih lebar bisa membuat pengendara e-bike berhenti menerobos lampu merah saat pejalan kaki sedang menyeberang? Itu bukan solusinya.”

Seorang juru bicara departemen transportasi kota menyatakan bahwa pemerintahan Mamdani sedang mengadaptasi desain jalan untuk mengakomodasi pejalan kaki dan e-bike dengan lebih baik, sambil mengatasi akar masalah praktik pengiriman yang tidak aman: perusahaan yang mendorong pengemudi untuk melakukan pengiriman secepat mungkin tanpa memperhatikan keselamatan warga New York. Mamdani mendorong regulasi yang mewajibkan perusahaan pengiriman memberikan data tingkat perjalanan, penalti pekerja, dan insiden keselamatan kepada departemen transportasi. Ia juga ingin kota menetapkan standar waktu pengiriman. Schroeder menambahkan, “Kamera lalu lintas tidak diskriminatif. Ketika seorang pengendara e-bike meninggalkan seseorang berlumuran darah di tanah… mereka harus dimintai pertanggungjawaban.” Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah kita akan terus melihat darah berceceran di jalanan sebagai harga yang harus dibayar untuk sebuah tren, atau akhirnya kita akan menemukan keseimbangan antara inovasi teknologi dan keselamatan manusia yang sebenarnya?

Previous Post

Bug Legendaris Team Fortress 2: Programmer Pemula Taklukkan Masalah Sejak 2018

Next Post

Jam Canggih IWC: Kalender Abadi Makin Gampang, Gak Perlu Ribet!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *