Dengar-dengar, empat gadis di pelataran pusat kebudayaan Santiago rupanya lebih fasih berhitung langkah tarian dengan bahasa Korea ketimbang bahasa Spanyol. Di depan mereka, layar YouTube menampilkan How You Like That-nya Blackpink bergemuruh, mengubah area publik yang tadinya mungkin hanya jadi tempat nongkrong jadi panggung flashmob dadakan. Jika sepuluh tahun lalu pemandangan seperti ini bakal bikin geleng-geleng kepala, sekarang justru jadi bukti nyata fenomena hallyu alias gelombang Korea yang nggak cuma menginvasi, tapi sudah menancapkan akarnya dalam-dalam di seluruh Amerika Latin. Dari urusan perut, hiburan layar kaca, hingga ritual perawatan kulit, semuanya kini beraroma khas Negeri Ginseng, jauh melampaui sekadar tren sesaat bagi kalangan tertentu.
Hallyu: Dari Gangnam ke Kampus UNAM
Di Meksiko, Sujin Kim, alias Chingu Amiga, telah menjelma jadi bintang internet dengan lebih dari 12 juta pengikut. Kontennya yang menggali dunia K-drama dan merekomendasikan produk skincare Korea laris manis. Sementara di Kolombia, Zion Hwang, seorang YouTuber Korea, bahkan nekat membuka jaringan restoran karaoke demi meraup untung dari lonjakan popularitas ini, seiring dengan gelaran K-pop World Festival yang diselenggarakan di sana. Tak ketinggalan Brasil, di mana mantan duta besar Korea sempat viral karena kemampuannya menyanyikan lagu samba. Kini, influencer seperti Arthur Paek dengan 6,3 juta pengikut di Instagram, turut mempromosikan budaya dan kuliner Korea.
Fenomena hallyu, yang dulu dibawa oleh musik, film, dan drama Korea, kini telah sepenuhnya melanda Amerika Latin. Meksiko bahkan menduduki peringkat kelima pasar global K-pop. Begitu besarnya permintaan tiket konser BTS di Meksiko sampai-sampai presidennya, Claudia Sheinbaum, sampai berkirim surat ke rekannya di Korea untuk meminta bantuan penjadwalan konser tambahan. Tur akbar ini dijadwalkan menyambangi Bogotá, Lima, Santiago, Buenos Aires, dan São Paulo. Ini bukan sekadar tren musik; ini adalah pergerakan budaya masif yang mengubah lanskap hiburan dan gaya hidup di kawasan ini.
Daniela Im, yang tinggal dan bekerja di Patronato, Santiago, bercerita bahwa semuanya bermula saat pandemi. Lingkungan kecil yang pada tahun 1970-an menerima migran ekonomi dari Korea itu kini menjadi pusat perhatian berkat hallyu. K-drama dan film seperti Parasite meroket popularitasnya di masa lockdown. Setelah pembatasan dilonggarkan, bengkel tekstil keluarga Im pun diubah menjadi restoran Korea tradisional. “Dulu orang nggak terlalu peduli sama budaya kami,” ujar Im. “Sekarang, kalau ada karakter di drama minum soju atau makan samgyeopsal, besoknya anak-anak langsung datang nyari.” Ia mengaku harus bekerja ekstra keras untuk memenuhi permintaan yang meledak ini.
Jejak K-Pop dan Bisnis Kuliner Korea
Beberapa blok dari sana, toko-toko kecil berjejer menjual kimchi kalengan dan saus ssamjang dengan label dwibahasa Spanyol dan Hangul. Di kawasan yang dulunya sunyi ini, kini terdapat lebih dari 40 restoran Korea, hampir semuanya baru buka dalam lima tahun terakhir. Ekspansi budaya Korea di Amerika Latin didorong oleh kampanye soft power yang cerdas, memperkenalkan musik, film, televisi, mode, dan kulinernya ke seluruh dunia.
Bahkan menteri kesehatan Brasil, Alexandre Padilha, mengaitkan meningkatnya minat Amerika Latin pada budaya Asia dengan menurunnya daya tarik AS di bawah Donald Trump. Ia mengamati bahwa generasi muda tidak lagi menjadikan AS sebagai tujuan impian mereka, melainkan beralih ke budaya-budaya dari Timur yang semakin memengaruhi gaya hidup mereka. Pernyataan ini muncul setelah pejabat AS mencabut visa putrinya dan sang istri, sebuah upaya menekan pemerintah Brasil.
Sejarah migrasi Korea ke Amerika Latin dimulai jauh sebelum era hallyu. Gelombang pertama tiba di Meksiko pada tahun 1905, di kapal S.S. Ilford, terpedaya janji pekerjaan yang manis namun berakhir dengan kerja keras di perkebunan agave. Gelombang kedua dan ketiga menyusul pada tahun 1960-an hingga 1980-an, didorong oleh kondisi ekonomi dan politik Korea yang tidak stabil. Kini, sekitar 100.000 warga Korea dan keturunannya tersebar di Amerika Latin, namun jejak budaya mereka terasa di hampir setiap kota besar.
Di Mexico City, kehadiran Korea meluas jauh melampaui kawasan yang dikenal sebagai Little Seoul, yang dipenuhi restoran, bar karaoke, dan toko kosmetik Korea. Christian Burgos, seorang presenter TV Meksiko yang kini berkarier di Korea Selatan, mengenang masa remajanya pada tahun 2010 ketika minatnya pada budaya Korea masih sangat niche. Ia menjadi salah satu dari sedikit orang yang belajar bahasa Korea di universitas negeri di Mexico City sebelum pindah ke Korea pada tahun 2014. “Dulu kalau bilang lagi belajar bahasa Korea, orang bakal nanya ‘Korea? Di mana tuh?’ Sekarang hampir semua orang tahu sesuatu tentang Korea,” ujarnya.
Spotify mencatat ada 14 juta penggemar K-pop di Meksiko. Taman-taman kota dipenuhi remaja yang berdandan ala idola K-pop, melakukan tarian diiringi musik dari pengeras suara portabel. Burgos menambahkan, daya tarik video K-pop yang penuh warna dan perubahan visual yang cepat membuat sulit untuk berhenti menonton, bahkan bagi yang tidak terlalu menyukai musiknya sekalipun. Fenomena ini mendorong lahirnya talenta-talenta lokal; sebuah boyband beranggotakan lima orang, Santos Bravos, yang bernaung di bawah label BTS, memiliki anggota dari Brasil, Peru, Meksiko, Puerto Riko, dan AS.
Menjembatani Dua Dunia
Liry Onni, lahir di Argentina dari orang tua Korea, merasa terpanggil untuk membangun jembatan antara kedua identitasnya. Ia pindah ke Seoul pada tahun 2024. Sejak kecil, ia lebih memilih tontonan Korea daripada televisi Argentina. Pada tahun 2018, ia diundang ke sebuah acara YouTube untuk membahas perbedaan budaya Asia Timur yang sering kali disamaratakan oleh orang Argentina. “Sejak kecil, saya merasa ada ketidaktahuan yang besar tentang Asia di Amerika Latin, dan sebaliknya. Bukan karena niat buruk, mungkin karena jarak yang sangat jauh,” ungkapnya.
Awalnya pemalu, Onni kemudian meluncurkan kanal YouTube sendiri untuk menjelaskan perbedaan budaya Argentina dan Korea. Pada tahun 2023, ia dan suaminya pindah ke Seoul. Hingga Desember 2024, ia sudah berhasil mewawancarai bintang Squid Game, Lee Jung-jae, untuk kanal media sosialnya. Kisahnya menunjukkan bagaimana individu dapat memanfaatkan hallyu untuk terhubung kembali dengan akar budaya mereka dan menjadi duta budaya.
Di tingkat akademis, minat terhadap Korea juga menunjukkan peningkatan signifikan. Dr. Jinok Choi, direktur Rey Sejong Institute di Universidad Central, Santiago, melaporkan bahwa program studi Korea yang dimulainya pada tahun 2019 dengan 60 mahasiswa kini telah berkembang pesat, mengajar ratusan mahasiswa dalam 15 kelas. “Ini bukan sekadar minat sesaat. Generasi muda Chile menunjukkan komitmen nyata untuk mempelajari Korea lebih dari sekadar budayanya,” jelasnya. “Ada ketertarikan mendalam terhadap Korea, dan jalur-jalur baru dalam hubungan kedua negara terus terbuka.” Jelas saja, ketika K-pop bisa membuat remaja di Santiago menghitung langkah dalam bahasa Korea, pemahaman yang lebih dalam tentang negara asal fenomena ini pun tak terhindarkan.


