Tanggal 6 Januari 2021, demokrasi Amerika Serikat nyaris cosplay jadi film kiamat. Pendukung Donald Trump menyerbu Washington, DC, bak orc kesasar dari film fantasi. Tapi, di hari yang sama, hidup John Maus, musisi indie kultus, ikut jungkir balik. Ia dicap sebagai fans Trump garis keras – kesalahpahaman yang nyaris bikin kariernya ambyar.
Ketika John Maus Ikut Nampang di Lokasi yang Salah
Sang pencipta lagu dan komposer ini kebetulan berada di kota itu ketika para “minion” MAGA (Make America Great Again) merangsek masuk ke Gedung Capitol, upaya distopia untuk menggulingkan hasil pemilu. Tapi, tunggu dulu, John Maus ke Washington bukan buat bikin rusuh. Dia ikut-ikutan film-maker Alex Lee Moyer, yang lagi ngumpulin rekaman Alex Jones, si ahli teori konspirasi sayap kanan, untuk film dokumenter soal budaya incel. Kebayang kan, lagi bikin film soal orang-orang yang frustrasi nggak dapat pacar, eh malah nyangkut di tengah badai politik.
Maus bersikeras dia nggak tahu bakal ada kekerasan. Dia dan istrinya, Kika Karadi, seniman asal Hongaria, cabut sebelum masalah dimulai. “Dari sudut pandangku, ya kayak, ‘Oh, lihat tuh para chud (istilah pejorative untuk orang bodoh) pada kibar-kibarin bendera, manjat-manjat tembok.'” Begitu balik ke hotel, barulah mereka tahu ada yang ditembak, jelas Maus. Kejadian ini sukses bikin sebagian penggemarnya garuk-garuk kepala. “John Maus belok kanan nih?” tanya seorang warganet di Reddit. “Gue jadi nggak enak hati, Maus kok semangat banget sama hal kayak gini,” timpal yang lain.
Ariel Pink dan Kutukan Berteman dengan Kontroversi
Situasi makin runyam karena dia juga satu rombongan sama Ariel Pink, musisi underground lain yang terang-terangan pro-Trump. Ariel Pink bahkan sempat curhat ke Tucker Carlson di Fox News, ngeluh karena di-cancel dan jadi “artis rekaman yang nggak bisa rekaman”. Ya, namanya juga hidup, kadang kayak lagi main game: salah langkah dikit, langsung kena debuff.
Ketika Maus coba meluruskan kesalahpahaman, eh, malah bikin keadaan makin absurd. Dia nge-post ensiklik kepausan tahun 1937 yang isinya kecaman terhadap nazisme. Alih-alih bikin adem, tindakannya ini malah kayak ngelempar bensin ke kobaran api. Orang-orang makin bingung, “Ini maksudnya apa coba?”.
Filosofi “Bodo Amat” Ala John Maus
“Ya mungkin lo nggak usah peduli kalau ada yang bilang lo fasis, kalau lo tahu lo bukan fasis. Ironisnya, orang-orang yang ngatain lo itu malah lebih fasis daripada lo sendiri,” kata Maus dari Antwerp, Belgia, di tengah tur Eropa yang termasuk dua tanggal manggung di Dublin. “Ngeselin sih. Pengen rasanya gue balesin semua komentar, bilang ‘Gue nggak dukung Trump!’ Tapi percuma juga. Jadi ya udah lah.”
September lalu, Maus merilis Later Than You Think, album kelimanya yang keren abis. Campuran synthscape yang muram dan vokal sendu ala Ian Curtis versi cyberpunk, album ini catchy, gampang dicerna, tapi juga kelam – jelas bukan musik yang bakal didengerin sambil kampanye dukung Trump.
Later Than You Think: Ramalan Suram John Maus Soal Masa Depan
Di lagu pembuka album ini, “Because We Built It”, Maus bikin prediksi ngeri: norma politik dan budaya yang kita kenal sejak Perang Dunia II bakal segera berakhir. Terus, di “I Hate Antichrist”, yang menampilkan rekaman agen FBI dobrak pintu ala preman ICE (Imigrasi AS) yang disuruh Trump, Maus ngasih kode kalau kekuatan gelap yang bakal nggulingin kemajuan udah ada di sekitar kita.
“Gue ngerasa kita udah deket banget sama akhir dari konfigurasi pasca-perang yang udah kita jalanin selama 60, 70 tahun ini,” katanya. “Entah itu para feudalis teknologi kayak Peter Thiel dan Elon Musk yang bikin konfigurasi baru yang lebih parah dari yang sekarang, atau Perang Dunia III, kayaknya kita emang lagi di ambang perubahan besar.”
Akankah Rock dan Pop Bernasib Sama?
Akankah rock dan pop selamat dari reboot ini? Mungkin nggak. “Musik yang udah kita bikin selama 70 tahun terakhir ini, gue nganggapnya ya satu kesatuan musik aja, dari Little Richard dan Chuck Berry sampai yang gue lakuin sekarang,” kata Maus. “Itu musik yang bagian dari konfigurasi kekuasaan dan situasi ini. Dan gue rasa, kalau itu semua lewat, musiknya juga ikut lewat.”
Dari Minnesota ke Panggung Dunia: Perjalanan Panjang John Maus
Dibesarkan di kota kecil di Minnesota, Maus belajar komposisi musik di California Institute of the Arts. Di sana, dia mulai tertarik sama musik abad pertengahan dan Renaissance. Dia juga main band bareng Ariel Pink, yang dikenalnya di kampus. Setelah itu, dia ngajar filsafat politik di University of Hawaii sambil nulis lagu di malam hari. Setelah diem-diem merilis musiknya sendiri, dia jadi tokoh kultus di tahun 2011 berkat album ketiganya, We Must Become the Pitiless Censors of Ourselves. Judul album ini terinspirasi dari salah satu profesornya, filsuf Prancis Alain Badiou. Album ini jadi titik balik, bikin nama Maus dikenal luas.
Dia masih tertarik sama filsafat, dan punya kecenderungan ngebahas musik dan politik dengan bahasa yang tinggi dan agak abstrak. Orangnya sih terlalu ceria buat dibilang sok intelek, tapi ngobrol sama dia rasanya kayak lagi ikut tutorial mata kuliah yang belum lo ambil.
John Maus: Antara Republik dan Demokrat, Sama Aja Bohong
Soal kerusuhan 6 Januari, dia dengan tegas bilang kalau Partai Demokrat bukan solusi mujarab buat masalah-masalah Amerika Serikat. “Dari awal, gue udah di luar sistem parlementer. Kaum pasca-Marxis Prancis dan Italia yang gue kagumi nganggap semua itu cuma tontonan, kayak milih antara polisi baik dan polisi jahat.”
Soal Demokrat dan Republik, dia bilang, “Yang satu nge-bom Gaza terus sedih banget. Yang satu lagi ngelakuin hal yang sama sambil bikin meme nggak jelas.” Temen-temennya yang liberal sering bilang, “Udahlah, dewasa dikit. Tutup mata, coblos biru (Demokrat), siapa pun orangnya.” Ada benernya juga sih, kata Maus. “Ada konsekuensi nyata di lapangan” kalau milih Trump. “Tapi, ya tetep aja, soal imigran ilegal, Demokrat juga masih ngelakuin deportasi. Nggak ada sayap kiri radikal yang beneran populis di dalam partai itu.”
Donasi untuk Trump: Sebuah Kesalahan yang (Mungkin) Disengaja?
Upaya Maus buat move on dari tragedi 6 Januari makin berat karena ketahuan dia pernah nyumbang ke kampanye Trump. Katanya sih, dia frustrasi sama sabotase Partai Demokrat terhadap kampanye Bernie Sanders. “Gue nyumbang ke Bernie. Terus Demokrat, ya itu kedua kalinya mereka ngerjain dia.” (Sanders nyalonin diri jadi kandidat presiden dari Demokrat di tahun 2016 dan 2020).
Maus penasaran, apakah terpilihnya Zohran Mamdani, walikota New York yang sosialis, bakal bikin Demokrat belok ke kiri. Tapi kayaknya sih nggak mungkin. “Kayaknya sih mereka nggak ngambil pelajaran. Ya emang gitu dari dulu di Amerika Serikat. Mereka nggak bakal biarin sayap kiri populis naik. Kalau sayap kanan populis naik, ada miliarder yang bisa dukung. Tapi miliarder nggak punya alasan buat dukung sayap kiri populis yang beneran. Padahal, lo butuh miliarder buat nembus politik institusional Amerika. Kayaknya sih nggak bakal dibolehin.”
John Maus di Atas Panggung: Kesurupan atau Sekadar Pertunjukan?
Buat ngerasain John Maus yang full experience, lo harus nonton konsernya langsung. Bak dervish (penari sufi) yang kesetanan, rambut lepek, keringetan, tatapan kosong, nggak bisa diem, kayak lagi kerasukan lagu-lagunya sendiri. Di satu sisi, dia lagi ngomentarin soal esensi pertunjukan: “Lihat nih, gue konyol banget kan? Nari kayak kelinci Duracell yang error.” Di sisi lain, dia cuma cowok biasa yang lagi freaking out di depan umum. Kata salah satu reviewer, dia “pogo, headbang, dan teriak-teriak nggak jelas sambil salto-salto di pinggang”.
“Ya itu yang gue pikirin,” kata Maus. “Dulu pas gue masih remaja, sama musik punk rock, lo emang harus totalitas di atas panggung. Nggak ada koreografinya. Bukan tontonan dalam arti itu. Lebih ke manusia yang lagi di titik nadir. Gue suka banget sama ide soal tubuh histeris – suku kata nggak jelas, serangan terhadap makna. Keliatan konyol, lucu, dan absurd. Itu antagonis sama rezim ‘konsumsi dan nikmati’. Nggak bisa didamaikan. Itu yang pengen gue capai.”
John Maus bakal manggung di Button Factory, Dublin, hari Sabtu, 6 Desember, dan Minggu, 7 Desember.


