Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Keselamatan Jalan: Jurnalisme Berkualitas Tingkatkan Kepercayaan di Era Misinformasi dan AI

Bayangkan jalanan kota sebagai server game online. Macet adalah lag yang bikin frustrasi, lampu merah adalah buff yang nggak guna, dan pengemudi ugal-ugalan adalah cheater yang merusak gameplay. Nah, di Vietnam, mereka punya admin khusus yang memantau “server” jalanan 24/7. Tujuannya? Biar kita nggak emosi jiwa saat kena macet.

Di kantor pusat stasiun TV nasional Vietnam, ada 20 jurnalis dari berbagai negara yang nongkrongin layar berisi live feed dari CCTV di jalanan Hanoi. Kerjaannya bukan cuma lihatin orang pacaran di lampu merah, tapi juga ngasih info penting ke publik. Kalo ada kemacetan, langsung diumumin. Kalo ada kecelakaan atau tindak kriminal, polisi dan ambulans langsung dikontak.

Tang Hai Ha, seorang jurnalis yang pernah ikut pelatihan keselamatan jalan dari WHO, bilang kalo informasi yang akurat dan cepat itu kunci sukses stasiun radio tempat dia kerja. Sejak diluncurkan tahun 2009, stasiun radio ini makin populer dan berkembang ke kota-kota lain di Vietnam. “Orientasi dan interaksi dengan pendengar itu yang utama. Mereka percaya sama kita karena tahu bakal dapat info cepat, jadi bisa cari jalan lain buat menghindari risiko,” katanya.

Kebutuhan akan informasi yang akurat dan kepercayaan publik jadi tema utama dalam pelatihan peliputan keselamatan jalan yang diadakan WHO dan Asia-Pacific Institute for Broadcasting Development (AIBD) di Hanoi. Pelatihan ini ngasih pencerahan ke para jurnalis tentang pentingnya peran mereka dalam membentuk opini publik tentang keselamatan jalan.

Keselamatan Jalan: Bukan Sekadar Angka, Tapi Nyawa!

Setiap tahun, ada 1,2 juta orang tewas karena kecelakaan lalu lintas. Ini bukan cuma angka statistik, tapi juga nyawa manusia, cerita hidup, dan masa depan yang hilang. Di balik angka-angka ini, ada masalah yang lebih dalam: infrastruktur yang nggak aman, kurangnya perlengkapan keselamatan, respons darurat yang lambat, dan dampak kecelakaan terhadap keluarga, sistem kesehatan, dan ekonomi.

Dr. Angela Pratt, Perwakilan WHO di Vietnam, bilang kalo jurnalis punya peran penting dalam mengubah pemahaman publik tentang keselamatan jalan. Mereka bisa mengungkap akar masalah dan menyoroti solusi yang efektif. “Keselamatan jalan punya citra yang buruk, dan kami butuh bantuan kalian buat mengubahnya. Ini adalah salah satu krisis kesehatan masyarakat yang paling diabaikan saat ini,” ujarnya.

Laporan berita punya kekuatan buat mempengaruhi opini publik dan permintaan akan solusi. Cerita tentang manusia bikin isu-isu kompleks jadi lebih relatable. Di negara yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat, jurnalisme bahkan bisa mempengaruhi kebijakan publik.

Reframing Keselamatan Jalan: Jangan Sebut Itu “Kecelakaan”!

Sayangnya, kecelakaan lalu lintas sering disalahpahami dan disalahartikan dalam berita. Ini secara nggak langsung menyesatkan publik tentang skala dan sifat sebenarnya dari krisis di jalanan. Berita seringkali menyebut kecelakaan sebagai “insiden” yang terisolasi dan nggak terhindarkan. Padahal, kematian di jalan itu bisa dicegah dengan mengatasi penyebab sistemiknya dan menerapkan solusi yang terbukti efektif.

Selain itu, media seringkali menyalahkan korban, seperti pejalan kaki, pesepeda, atau pengendara motor. Padahal, infrastruktur jalan yang buruk, aturan lalu lintas yang lemah, dan kurangnya penegakan hukum juga punya andil besar. Sama kayak nyalahin noob padahal item-nya kurang.

Padahal, perubahan kecil dalam redaksi bisa berdampak besar pada siapa yang disalahkan publik atas kecelakaan dan apa yang mereka inginkan buat mencegahnya di masa depan. Mengganti kata “kecelakaan” dengan “tabrakan” atau “benturan” menghilangkan kesan kalo kematian itu nggak bisa dihindari. Nambahin konteks ke berita tentang kecelakaan maut juga bisa menyoroti skala masalahnya dan menarik perhatian ke penyebab yang kurang jelas, kayak infrastruktur dan hukum yang nggak aman.

“Cara jurnalis mengubah cara kita ngomongin bunuh diri nunjukkin apa yang bisa kita lakuin soal ini,” kata Anonna Dutt, Koresponden Khusus di Indian Express. “Sekarang orang nggak bilang ‘melakukan’ bunuh diri lagi. Mereka bilang ‘meninggal karena bunuh diri,’ dan berita seringkali nyantumin nomor telepon bantuan.”

Menggali Lebih Dalam: Keselamatan Harus Jadi Prioritas!

Dalam sesi interaktif, Dr. Nhan Tran, Kepala Pencegahan Kekerasan dan Cedera di WHO, nge-share evolusi pendekatan terhadap transportasi jalan. Dia menekankan kalo keselamatan harus selalu jadi prioritas utama. “Keselamatan harus jadi jantung dari mobilitas seiring dengan evolusi sistem transportasi kita,” katanya.

Kelly Larson, Direktur di Bloomberg Philanthropies, nunjukkin gimana strategi berbasis data ngebantu negara-negara ngurangin kematian melalui Bloomberg Initiative for Global Road Safety. “Setiap negara yang mengubah hasilnya mengubah percakapannya, dan jurnalis memimpin perubahan itu,” ujarnya.

Solutions Journalism: Bukan Cuma Ngasih Tahu Masalah, Tapi Juga Solusinya!

Jurnalis didorong buat nyeritain apa yang berhasil, apa yang nggak, dan kenapa, melalui solutions journalism. Pendekatan ini nggeser fokus cerita dari masalah ke analisis respons terhadap masalah tersebut. Ini ngebantu nyampein solusi, dan keterbatasannya, ke perhatian pembuat kebijakan dan publik. Kayak ngasih walkthrough ke pemain yang kesulitan.

“Ini jadi pembuka mata buat kami para jurnalis karena alih-alih cuma fokus pada berita yang sensasional, kami jadi ngeliat gimana cara ngatasin masalahnya. Ini adalah jurnalisme konstruktif yang bener-bener dibutuhin masyarakat,” kata Amirul Aiman, News Anchor di Astro Awani News Malaysia.

Bergerak Bersama Waktu: Adaptasi atau Punah?

Di dunia yang penuh disinformasi, kepercayaan pada berita yang menurun, pergeseran dari media “lama” ke influencer dan konten yang digerakkan AI, apa yang bakal terjadi pada jurnalisme tradisional? Kayak meta game yang terus berubah.

Dalam sesi tentang ‘AI dan media sosial: perkembangan terbaru dan praktik terbaik buat jurnalis,’ Yolanda Ma, Programme Lead tentang AI dan Inovasi buat Jurnalisme di University of Hong Kong, ngebedah gimana media harus beradaptasi dengan dunia yang berubah dengan cepat. “Pada tahun 2035, AI bakal nanganin sebagian besar interaksi online, bikin interaksi manual di media sosial jadi usang. Sebagian besar interaksi bakal terjadi antara AI dan AI, bukan manusia dan manusia. Ini nakutin,” katanya.

“Penurunan kepercayaan pada berita jadi salah satu tantangan terbesar di zaman kita. Tapi ada peluang buat informasi berkualitas tinggi dan konten otentik. Saat ekosistem informasi jadi lebih berantakan dan lebih kacau, permintaan akan informasi berkualitas bakal meningkat.”

Para peserta nyaranin buat memanfaatkan kepercayaan yang masih dinikmati banyak jurnalis dibanding influencer online, belajar dari mereka, memanfaatkan AI, dan bikin jurnalisme lebih partisipatif dan hidup, bisa ngebantu mastiin lebih banyak keterlibatan pada isu-isu yang mempengaruhi semua orang, kayak keselamatan jalan. Kalo kata anak zaman sekarang sih: “Don’t hate the game, hate the lag.”

Previous Post

LG Ultragear OLED: Upgrade Gaming-mu Sekarang, Diskon 44%! Visual Jaw-dropping!

Next Post

VR Steam Frame Ungguli Vision Pro & Quest 3? Spek Gahar, Harga?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *