Dunia virtual reality (VR) ini memang kadang bikin bingung. Dulu, kita cuma bisa main ular tangga di layar Nokia 3310, sekarang sudah bisa keliling dunia tanpa keluar kamar. Sony dengan PlayStation VR dan VR2-nya, Samsung dengan Galaxy XR, sampai Apple yang (katanya) merevolusi dengan Vision Pro, semua ikut meramaikan pesta VR. Tapi, tunggu dulu, Valve—si empunya Steam—baru saja ikutan nimbrung dengan Steam Frame. Kira-kira, headset baru ini bakal jadi saingan berat atau cuma numpang lewat?
Steam Frame: Penantang Baru di Arena VR
Valve, yang kita kenal lewat game-game legendaris seperti Half-Life dan Portal, memang nggak pernah setengah-setengah kalau bikin sesuatu. Steam Frame ini adalah bukti terbaru. Headset VR ini digadang-gadang sebagai penerus Valve Index (2019) yang dulu sempat bikin heboh. Tapi, kali ini, Valve menjanjikan pengalaman yang lebih streaming-first, alias lebih fokus buat main game-game Steam, baik yang VR maupun bukan.
Pertanyaannya, dengan gempuran headset VR dari merek lain, Steam Frame ini punya amunisi apa saja? Mari kita bedah spesifikasinya satu per satu.
Spesifikasi: Pertarungan di Atas Kertas
Sebelum kita bahas lebih dalam, mari kita lihat dulu spesifikasi masing-masing headset. Anggap saja ini seperti kartu truf di dunia VR. Kalau kamu bukan tipe yang peduli sama RAM atau storage, ya, silakan langsung scroll ke bawah.
Sayangnya, kita baru bisa menjajal Steam Frame ini di tahun 2026 nanti. Sambil menunggu, kita bedah dulu spesifikasinya:
- Processor: 4 nm Snapdragon® 8 Gen 3, Arsitektur: ARM64
- RAM: 16GB Unified LPDDR5X RAM
- Storage: 256GB / 1TB UFS storage options, slot kartu microSD
- Resolusi: 2160 x 2160 (per mata)
- Refresh Rate: 72-144Hz refresh rate (144Hz eksperimental)
- Kapasitas Baterai: 21.6Wh
- Field of View: Hingga 110 derajat
- Eyetracking: Ya
- Harga: TBA (to be announced, alias masih dirahasiakan)
Apple sendiri baru saja merilis Vision Pro versi M5 di bulan Oktober. Secara garis besar, headset ini sama dengan versi sebelumnya (2023), tapi ditenagai oleh chip M5. Berikut detailnya:
- Processor: Apple M5 chip
- RAM: 16G
- Storage: 256GB, 512GB, 1TB
- Resolusi: 3,660 × 3,200 (per mata)
- Refresh Rate: 90Hz, 96Hz, 100Hz, 120Hz
- Kapasitas Baterai: Hingga 2.5 jam penggunaan umum, video playback hingga 3 jam
- Field of View: ~100 derajat
- Eyetracking: Ya
- Harga: $3,499 (setara harga motor bekas)
Terakhir, ada Meta Quest 3 dengan spesifikasi:
- Processor: Snapdragon XR2 Gen 2
- RAM: 8GB
- Storage: 512GB
- Resolusi: 2064 x 2208 (per mata)
- Refresh Rate: 72Hz, 90Hz, 120Hz
- Kapasitas Baterai: 19.44Wh
- Field of View: 110 derajat horizontal dan 96 derajat vertikal
- Eyetracking: Tidak
- Harga: $499.99 (harga yang lebih manusiawi)
Gaming: Steam Frame Jagoannya?
Kalau bicara soal gaming, Steam Frame punya satu keunggulan yang sulit ditandingi: kompatibilitas dengan seluruh library Steam. Bayangkan, semua game yang sudah kamu beli di Steam, dari game AAA sampai game indie yang absurd, bisa dimainkan di headset ini. Meta Quest 3 dan Apple Vision Pro? Mereka cuma bisa memainkan game yang memang dirancang atau di-port khusus untuk platform mereka. Ibaratnya, Steam Frame ini punya kunci surga game, sementara yang lain cuma punya kunci kamar kos.
Selain itu, Steam Frame juga kompatibel dengan hardware Steam lainnya, seperti Steam Machine, Deck, dan controller. Ini membuatnya jadi headset yang lebih fleksibel dibandingkan kompetitornya. Bisa dibilang, Valve memang nggak mau tanggung-tanggung dalam memanjakan para gamer.
AR vs VR: Bedanya di Mana?
Istilah augmented reality (AR) dan virtual reality (VR) ini sering bikin kepala berasap. Singkatnya, VR itu mengajak kita masuk ke dunia virtual yang sepenuhnya palsu. Sementara, AR itu menumpang-nampakkan elemen virtual di dunia nyata. Nah, yang bikin rumit, headset AR seperti Vision Pro juga bisa menjalankan pengalaman VR. Jadi, batasannya agak kabur.
Sejauh yang kita tahu, Steam Frame ini lebih condong ke VR murni. Headset ini hanya punya kamera passthrough monochrome, alias cuma bisa menampilkan gambar hitam putih dari dunia nyata. Sementara, Apple Vision Pro dan Meta Quest 3 punya kamera berwarna, sehingga bisa mendukung AR dan mixed reality.
Secara teknis, ini mungkin terdengar seperti kemunduran. Tapi, Steam Frame punya “user accessible front expansion port,” alias port ekspansi di bagian depan yang bisa dimanfaatkan untuk menambahkan fitur di masa depan, termasuk kamera berwarna. Siapa tahu, nanti ada modder yang bikin Steam Frame jadi headset AR dadakan.
Harga: Meta Quest 3 Masih yang Paling Bersahabat
Valve memang belum mengumumkan harga resmi Steam Frame. Tapi, ada rumor yang bilang kalau mereka menargetkan harga di bawah $1,000 (sekitar 15 jutaan), yang mana adalah harga Valve Index dulu. Meta Quest 3 masih jadi yang paling murah di antara ketiganya, dengan harga sekitar $500. Apple Vision Pro? Jangan ditanya. Harganya mencapai $3,500, setara dengan DP rumah di pinggiran kota.
Tentu saja, harga ini sebanding dengan komponen yang lebih canggih, desain premium, dan fitur AR yang futuristik. Tapi, kalau cuma mau main game VR, Meta Quest 3 masih jadi pilihan yang paling masuk akal.
Jadi, Steam Frame Ini Menarik?
Dengan spesifikasi yang menjanjikan dan kompatibilitas Steam yang nggak ada duanya, Steam Frame punya potensi besar untuk jadi headset VR yang sukses. Tapi, dengan peluncuran yang masih jauh di tahun 2026, banyak hal yang masih bisa berubah. Yang jelas, persaingan di dunia VR ini semakin panas. Konsumen—seperti kita—yang diuntungkan. Tinggal siapkan dompet saja.
Apakah Steam Frame akan jadi game changer, atau cuma jadi pemain figuran? Kita tunggu saja nanti. Sambil menunggu, mari kita kembali ke dunia nyata. Siapa tahu, di dunia nyata, kita bisa dapat diskon kopi atau ketemu jodoh. Siapa tahu, kan?


