Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Krisis Mozambique: 300 Ribu Mengungsi, Bantuan Menipis, Masa Depan Suram?

Bayangkan lagi asyik grinding buat level up di game favorit, eh, tiba-tiba notifikasi muncul: “300 ribu orang kehilangan tempat tinggal.” Bukan di game, tapi di Mozambik. Kayak kena nerf mendadak, kan? Insurgensi ISIS bikin ratusan ribu orang jadi pengungsi, dan dunia kayaknya lagi sibuk sama quest lain.

Mozambik: Negara yang Dilupakan di Tengah Konflik Global

Perang di Ukraina, Gaza, dan Sudan memang lagi jadi trending topic. Bantuan asing pun ikut-ikutan FOMO, larinya ke sana semua. Alhasil, konflik di Mozambik jadi kayak karakter NPC yang nggak dianggap. Padahal, lebih dari sejuta orang udah jadi korban, sebagian bahkan udah pindah rumah lebih sering dari anak kos akhir bulan.

Baik tentara Mozambik maupun intervensi Rwanda, nggak ada yang berhasil bikin ISIS-Mozambik ini uninstall dari wilayah utara. Serangan pertama mereka terjadi di Mocímboa da Praia sejak Oktober 2017. Ingat kan, waktu itu lagi heboh meme apa?

Palma dan Janji Gas Alam yang Bikin Ngiler

Maret 2021, mereka bikin geger dunia dengan menyerang kota Palma. Lebih dari 600 nyawa melayang, termasuk pekerja asing dari proyek LNG Total yang nilainya setara gaji YouTuber selama seratus tahun. Rwanda, yang militernya lebih OP dari Mozambik, ikut turun tangan. Awalnya sih berhasil bikin militan kocar-kacir, tapi lama-lama kayak main ranked match ketemu cheater, susah juga.

Katanya nih, fokus utama operasi militer itu buat ngamanin proyek LNG senilai 20 miliar dolar AS. Total udah bilang mau lanjutin proyek ini setelah dapat lampu hijau dari pemerintah. Jadi, prioritasnya memang bukan buat jagain rakyat sipil, tapi jagain “telur emas” yang bisa bikin negara kaya mendadak. Mirip kayak rebutan buff di Mobile Legends, yang penting dapat duluan.

Korban Sipil Terus Berjatuhan: Game Over?

Data dari Acled (bukan merek AC, ya) menunjukkan, kekerasan terhadap warga sipil justru meningkat tahun ini. Lebih dari 500 orang tewas dalam 302 serangan, dan sebagian besar korbannya adalah warga sipil. Tragisnya, angka kematian sipil udah 56% lebih tinggi dari tahun lalu. Sejak 2017, hampir 2.800 warga sipil tewas, dan 80% pelakunya adalah ISIS-Mozambik, sisanya… ya, bisa ditebak.

Peneliti Acled, Tomás Queface bilang, gerilyawan ini makin berani aja. Pasukan Rwanda dan Mozambik juga nggak se-imba dulu. “Rwandan udah jarang patroli kayak dulu,” katanya. Pemerintah Mozambik juga pengen tentaranya yang pegang kendali, sementara Rwanda jadi support dari belakang. Ibarat main Dota, core-nya malah nggak jago.

Presiden Baru, Harapan Baru? Atau Sekadar Lip Service?

Presiden Mozambik yang baru, Daniel Chapo, bilang pengen dialog sama pemberontak. Tapi, Borges Nhamirre dari Institute for Security Studies skeptis. “Yang penting bukan omongan politisi, tapi tindakan mereka,” ujarnya. Setelah delapan tahun, belum ada inisiatif dialog yang efektif. Kayak janji developer game yang sering PHP.

Anak-anak Jadi Korban: Pay to Win di Dunia Nyata

Sementara itu, ISIS makin getol nyulik anak-anak buat dijadiin pekerja paksa, dinikahin paksa, atau dipaksa jadi tentara. Human Rights Watch (HRW) mencatat, ada peningkatan tajam dalam kasus penculikan anak. Sheila Nhancale dari HRW bilang, pengungsian ini meningkatkan risiko kekerasan seksual, eksploitasi, dan pelecehan, terutama buat perempuan dan anak-anak. Dari 100 ribu pengungsi di bulan November, 70 ribu di antaranya adalah anak-anak. Ini bukan lagi main game, ini udah level kejahatan kemanusiaan.

Bantuan Menyusut: Ketika Healing Lebih Mahal dari Perang

Para pengungsi juga makin susah dapat bantuan. Donatur udah ngasih 195 juta dolar AS tahun ini, tapi itu cuma 55% dari kebutuhan. Tahun lalu, angkanya masih 246 juta dolar AS. Sebastián Traficante dari Médecins Sans Frontières bilang, para pengungsi terpaksa tinggal di tempat yang kondisinya mengenaskan, akses ke layanan dasar juga minim. Mereka cuma pengen semua ini berakhir, pengen balik ke rumah, bertani, dan hidup normal. Tapi, realitanya kayak main gacha, harapan selalu lebih kecil dari kenyataan.

Investasi Lebih Penting dari Nyawa?

Ironisnya, pengamanan proyek LNG jadi prioritas utama. Ini kayak negara lebih peduli sama investasi daripada nyawa warganya. Borges Nhamirre bilang, kalau tujuannya buat jamin keamanan manusia, ya jelas gagal. Tapi, kalau tujuannya buat ngamanin proyek LNG, ya lumayan berhasil lah. Proyek LNG emang lebih aman dari tahun 2021, tapi rakyatnya?

Jadi, intinya apa? Konflik di Mozambik ini kayak side quest yang terlupakan di tengah hiruk pikuk konflik global. Dunia kayaknya lebih tertarik sama loot daripada nasib para pengungsi. Kita bisa aja sih cuma geleng-geleng kepala sambil bilang “sad,” tapi apa nggak sebaiknya kita coba bantu, sekecil apapun itu? Siapa tahu, dengan sedikit uluran tangan, kita bisa bantu mereka respawn dan mulai hidup baru.

Previous Post

VENOM Reuni: Mantan Anggota Gebrak Tokyo, Undang Cronos Ikut Anniversary!

Next Post

Krauser Bangkit Kembali? SNK Teases Season 2 DLC Fatal Fury: City Of The Wolves! (Witty)

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *