Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

VENOM Reuni: Mantan Anggota Gebrak Tokyo, Undang Cronos Ikut Anniversary!

Pernah nggak sih, lagi asyik dengerin lagu metal, tiba-tiba muncul notifikasi sidang isbat? Atau lagi headbang brutal, eh, inget belum bayar cicilan motor? Nah, kayaknya itu yang lagi dialamin sama band legendaris VENOM. Bukannya fokus bikin album baru, mereka malah sibuk urusan logo dan siapa yang paling berjasa. Metal sih metal, tapi drama mereka lebih panas dari knalpot motor yang baru digeber.

Venom Reuni? Nggak Semuanya Berjalan Mulus

Buat yang belum tahu (atau pura-pura lupa), VENOM itu kayak *founding fathers*-nya musik black metal. Mereka yang ngerintis jalan buat band-band kayak MAYHEM, CELTIC FROST, sampe BEHEMOTH. Bayangin aja, tanpa mereka, mungkin kita masih dengerin lagu cinta-cintaan terus. Tapi, namanya juga band, isinya pasti ada aja drama. Mulai dari masalah internal, ego yang bentrok, sampe urusan hak cipta yang bikin pusing tujuh keliling.

Nah, baru-baru ini, dua mantan personel VENOM, yaitu Jeff “Mantas” Dunn (gitar) dan Antony “Abaddon” Bray (drum), memutuskan buat reuni. Mereka manggung di Jepang, bawain lagu-lagu klasik VENOM bareng musisi lokal. Gokil sih, tapi reuni ini nggak sepenuhnya mulus. Soalnya, ada satu personel penting yang nggak ikut, yaitu Conrad “Cronos” Lant, si vokalis/bassis yang ikonik.

Konon katanya, Cronos ini nggak tertarik buat ikutan reuni. Alasannya? “Nggak worth it,” katanya. Wah, pedes juga ya. Padahal, banyak fans yang pengen banget ngeliat formasi klasik VENOM manggung bareng lagi. Tapi, ya sudahlah, namanya juga hidup, nggak semua yang kita mau bisa kejadian.

Antara Hak Cipta dan Kenangan Masa Lalu

Selain masalah reuni, VENOM juga lagi dirundung masalah hukum. Cronos menggugat Abaddon dan perusahaan merchandise karena dianggap melanggar hak cipta logo dan desain VENOM. Intinya sih, Cronos ngaku dialah yang bikin semua desain ikonik itu, tapi Abaddon malah ngejual merchandise tanpa izin. Drama banget, kan?

Mantas sendiri punya pandangan yang menarik soal masalah ini. Katanya, dulu waktu mereka masih muda, nggak ada tuh urusan siapa yang nulis lagu atau siapa yang bikin desain. Semuanya satu tim, satu tujuan. Tapi, begitu udah masuk ke industri musik, barulah muncul ego dan kepentingan pribadi. Mirip lah kayak cerita boyband atau girlband K-Pop yang sering kita denger.

Mantas juga bilang, yang paling penting dari sebuah band itu musiknya, bukan logo atau merchandise-nya. Percuma aja logo keren atau album cover bagus, kalo lagunya nggak enak, ya tetep aja ditinggalin. Bener juga sih, kayak pepatah “don’t judge a book by its cover”. Tapi, ya namanya juga bisnis, tetep aja visual itu penting.

“Welcome To Hell” Anniversary: Sebuah Selebrasi Nostalgia?

Terlepas dari semua drama itu, Mantas dan Abaddon tetep berencana buat ngerayain 45 tahun album debut VENOM, “Welcome To Hell”, di beberapa festival musik tahun 2026. Mereka bakal ngajak beberapa musisi tamu buat ngebawain lagu-lagu VENOM. Katanya sih, ini buat ngenang masa lalu dan ngasih penghormatan buat band yang udah ngasih banyak pengaruh ke dunia metal.

Tapi, ada juga yang mikir, ini cuma cara buat nyari duit aja. Soalnya, sekarang ini ada tiga band yang pake nama VENOM dengan berbagai embel-embel. Ada VENOM-nya Cronos, ada VENOM INC.-nya Tony “Demolition Man” Dolan, dan sekarang ada Mantas dan Abaddon yang reunian. Jadi, kayak rebutan kue gitu deh.

Mantas sendiri nggak terlalu peduli sama omongan orang. Dia cuma pengen ngerayain musik VENOM bareng temen-temennya dan para fans. Katanya, dia nggak mau kayak band-band lain yang nggak pernah ngerayain anniversary atau momen penting dalam sejarah mereka. Ya, semoga aja beneran tulus, bukan cuma buat nyari sensasi.

Tiga VENOM: Sebuah Ironi atau Strategi Marketing Cerdas?

Fenomena tiga VENOM ini sebenernya ironis banget. Sebuah band legendaris yang seharusnya jadi panutan, malah pecah belah dan saling sikut. Tapi, di sisi lain, ini juga bisa jadi strategi marketing yang cerdas. Soalnya, dengan adanya tiga VENOM, nama mereka jadi makin sering disebut-sebut dan dibicarakan orang. *Any publicity is good publicity*, gitu kan?

Coba bayangin, kalo cuma ada satu VENOM, mungkin kita udah bosen dan nggak terlalu merhatiin lagi. Tapi, dengan adanya tiga VENOM, kita jadi penasaran, mana sih yang paling “asli”? Mana yang paling bagus? Mana yang paling metal? Akhirnya, kita jadi pengen dengerin semua lagu mereka dan nonton semua konser mereka. Pinter juga ya mereka.

Mantas dan Abaddon: Nggak Ada Nama, yang Penting Musik!

Yang menarik dari reuni Mantas dan Abaddon ini, mereka nggak pake nama band resmi. Mereka cuma nulis “Mantas and Abaddon” di bawah logo VENOM-nya Abaddon. Katanya sih, mereka nggak mau terlalu mikirin nama, yang penting bisa mainin musik VENOM bareng-bareng. Wah, *attitude* punk rock banget nih.

Mantas juga bilang, dia nggak mau bikin album baru. Soalnya, menurut dia, dunia ini nggak butuh album VENOM baru. Orang-orang tetep pengen dengerin lagu-lagu klasik kayak “Black Diamond”-nya KISS atau “The Ripper”-nya JUDAS PRIEST. Bener juga sih, kadang nostalgia itu lebih kuat daripada inovasi.

Lebih Baik Reunian daripada Balikan sama Mantan?

Terakhir, Mantas ngasih analogi yang kocak soal hubungannya sama Cronos. Katanya, bayangin aja hubungan paling *toxic* yang pernah kamu alamin, terus kamu ngajak dia balikan lagi. Nah, kayak gitu lah rasanya kalo dia harus kerja bareng Cronos lagi. Wah, dalem banget nih. Kayaknya emang udah nggak ada harapan buat formasi klasik VENOM bersatu lagi.

Jadi, buat para fans VENOM, mendingan nikmatin aja reuni Mantas dan Abaddon ini. Anggap aja ini kayak *side quest* di game RPG. Nggak terlalu penting buat cerita utama, tapi tetep seru buat dimainin. Siapa tahu aja, mereka bisa ngasih kejutan yang nggak terduga. Atau, minimal, bisa ngobatin rasa kangen kita sama musik metal klasik yang brutal dan *raw*.

Venom yang “Asli”: Sebuah Perdebatan yang Tak Berujung

Pada akhirnya, perdebatan soal siapa VENOM yang “asli” ini kayaknya nggak bakal pernah selesai. Ada yang bilang, VENOM ya tetep Cronos, karena dia satu-satunya personel yang tersisa dari formasi klasik. Ada juga yang bilang, Mantas dan Abaddon lebih “asli”, karena mereka yang nulis lagu-lagu awal VENOM. Ya, namanya juga opini, bebas-bebas aja.

Tapi, satu hal yang pasti, VENOM udah ngasih kontribusi yang besar buat dunia musik metal. Mereka udah jadi inspirasi buat banyak musisi dan band. Dan, terlepas dari semua drama dan masalah internal, musik mereka tetep abadi dan terus didengerin sama jutaan orang di seluruh dunia. Metal till death!

Mungkin, daripada pusing mikirin siapa yang paling “asli”, mendingan kita dengerin aja semua lagu VENOM dari berbagai era. Siapa tahu aja, kita bisa nemuin sesuatu yang baru dan menarik dari setiap versi VENOM. Atau, minimal, bisa buat *soundtrack* buat *nge-game* atau ngopi di warung.

Jadi, Mau Pilih Venom yang Mana?

Intinya, drama VENOM ini lebih seru dari sinetron azab Indosiar. Ada reuni, ada masalah hukum, ada rebutan nama, sampe sindiran pedas antar personel. Tapi, di balik semua itu, ada satu hal yang nggak boleh kita lupain: musik mereka yang udah ngasih warna baru buat dunia metal. Jadi, mau pilih VENOM yang mana? Terserah elo, yang penting tetep metal!

Previous Post

Op Shop Hastings: Kisah Unik, Marijuana dalam Buku & Berkah Setelah Badai Gabrielle

Next Post

Krisis Mozambique: 300 Ribu Mengungsi, Bantuan Menipis, Masa Depan Suram?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *