Di dunia musik yang kejam (lebih kejam dari rebutan waifu di forum online), band-band metal mencoba bertahan hidup. Mereka bukan lagi hidup dari kucuran dana label rekaman yang berlimpah, tapi dari keringat dan air mata – atau mungkin bir murah dan mie instan. Lacuna Coil, band gothic metal asal Italia, adalah salah satu dari sekian banyak pejuang yang terus berkarya di tengah badai finansial dan emosional ini.
Antara Cinta dan Mie Instan: Dilema Musisi Metal Masa Kini
Vokalis Lacuna Coil, Andrea Ferro, baru-baru ini membuka diri tentang realita pahit yang dihadapi musisi di era streaming dan pasca-pandemi. Dalam wawancaranya dengan Metal Global, Ferro blak-blakan soal bagaimana bandnya masih mencintai gaya hidup bermusik, meski tak menjamin kekayaan ala Sultan Andara. Mereka hidup dari musik, tapi bukan berarti bisa beli pulau pribadi untuk dijadikan gaming lair.
Ferro menekankan bahwa kecintaan pada musik adalah kunci utama. Jika tidak, lebih baik jadi Youtuber atau influencer saja. Gaya hidup tur yang melelahkan, bertemu orang baru setiap malam, dan tampil di hadapan mereka membutuhkan dedikasi yang tinggi. Ferro, bersama Marco Coti Zelati dan Cristina Scabbia, masih memiliki semangat yang sama seperti 20 tahun lalu. Semangat untuk terus berkarya, meski badan sudah mulai encok.
Mereka menyiasati jadwal tur yang padat dengan memberikan jeda istirahat yang cukup. Tiga pertunjukan, satu hari istirahat. Tujuannya jelas, agar badan tidak rontok seperti keyboard yang kena amukan gamer toxic. Namun, terkadang tuntutan tur tidak bisa dihindari. Seperti tur album terbaru mereka, “Sleepless Empire” (2025), yang memaksa mereka terbang 16 kali di Amerika Selatan dan dua bulan di Amerika Utara bersama Machine Head dan In Flames. Bayangkan jetlag-nya seperti apa.
Meski begitu, Ferro menegaskan bahwa mereka masih mencintai gaya hidup ini. Menulis musik, berbagi pengalaman dengan orang lain, dan berada di jalan bersama kru adalah hal yang sangat berharga bagi mereka. Mereka tidak berencana untuk berhenti dalam waktu dekat, selama fisik masih memungkinkan. Karena, jujur saja, siapa yang mau berhenti main musik kalau masih bisa menghibur banyak orang dan dapat uang jajan?
Evolusi Musik: Bukan Sekadar Mengulang Resep Nenek
Selain membahas soal tantangan finansial dan emosional, Ferro juga berbicara tentang evolusi musik Lacuna Coil. Menurutnya, penting bagi sebuah band untuk terus berkembang dan memasukkan pengaruh baru dalam setiap album. Ia mencontohkan AC/DC, yang tidak perlu mengubah gaya mereka karena memang itu yang diharapkan penggemar. Namun, Lacuna Coil memilih jalur yang berbeda.
Mereka selalu mencoba untuk sedikit bergeser, tidak terlalu drastis memang, tapi cukup untuk memberikan warna baru pada musik mereka. Mereka ingin memasukkan berbagai pengaruh dan membawa musik mereka ke arah yang berbeda. Dan penggemar menghargai hal ini. Mereka tahu bahwa Lacuna Coil tidak akan berpuas diri dengan mengulang resep yang sama berulang-ulang.
Ferro menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang terus berkembang dan memasukkan berbagai pengaruh dalam hidup mereka. Hal ini juga tercermin dalam musik mereka. Jika mereka merilis album di tahun 2025, mereka ingin album tersebut relevan dengan tahun tersebut. Bukan berarti harus selalu mengikuti tren terkini, tapi harus terasa kontemporer. Harus ada sentuhan yang membedakannya dari musik tahun 70-an.
Dari Comalies Hingga Sleepless Empire: Perjalanan Panjang Lacuna Coil
Inspirasi untuk menciptakan “Sleepless Empire” datang saat sesi rekaman “Comalies XX” (2022), remake dari album terobosan mereka, “Comalies”. Proses penulisan dan rekaman dilakukan di Italia utara, antara Milano dan Como. Seperti album-album sebelumnya, produksi ditangani sendiri oleh Marco “Maki” Coti Zelati. Album ini juga dimeriahkan oleh dua vokalis tamu, Randy Blythe (Lamb of God) dan Ash Costello (New Years Day).
Selain itu, Lacuna Coil juga mengalami perubahan personel. Pada Oktober 2024, Daniele Salomone menggantikan Diego Cavallotti sebagai gitaris. Salomone membuat debut live-nya bersama Lacuna Coil pada Agustus 2024 di Rockstadt Extreme Fest, Romania.
Dinamika Personel: Lebih Drama dari Sinetron Azab Indosiar
Kepergian Cavallotti diumumkan pada Juni 2024. Diego, yang bergabung dengan Lacuna Coil pada tahun 2016, mengatakan bahwa keputusannya bukan karena ketidakpuasan atau keinginan untuk mencari peluang baru. Padahal, seperti yang kita tahu, dunia musik itu penuh intrik dan drama. Siapa tahu kan, ada masalah internal yang tidak terungkap ke publik. Lebih rumit dari plot twist sinetron azab Indosiar.
Yang menarik, Cavallotti dan Salomone pernah bermain bersama di band metal Italia, Inverno. Mereka merilis album debut mereka, “Stasis”, pada Desember 2023. Jadi, bisa dibilang, Salomone sudah familiar dengan gaya bermain Cavallotti. Seperti menggantikan posisi pemain sepak bola yang cedera, tapi sudah tahu betul strategi tim.
Lacuna Coil: Tetap Metal, Tetap Relevan
Lacuna Coil membuktikan bahwa mereka adalah band yang terus beradaptasi dengan zaman. Mereka tidak terpaku pada satu gaya musik, tapi terus bereksplorasi dan memasukkan berbagai pengaruh baru. Mereka juga tidak takut untuk berbicara tentang realita pahit yang dihadapi musisi di era modern. Mereka adalah contoh nyata dari band yang tetap metal, tetap relevan, dan tetap dicintai penggemar dari berbagai generasi.
Jadi, Kapan Lacuna Coil Manggung di Warung Kopi Dekat Rumah?
Melihat perjalanan panjang dan dedikasi Lacuna Coil, kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya. Mereka adalah bukti bahwa musik metal tidak hanya soal distorsi dan growl, tapi juga soal passion, kerja keras, dan kemampuan untuk beradaptasi. Semoga saja, suatu saat nanti, Lacuna Coil bisa manggung di warung kopi dekat rumah kita, sambil minum kopi tubruk dan makan gorengan. Siapa tahu kan?


