Sikapi saja begini: kalau ada developer yang mati-matian merilis sebuah game, lalu game itu tidak sesuai selera, bahkan tidak sedikit pun ada minat untuk memainkannya, lantas apa gunanya meributkan soal itu? Jeff Kaplan, tokoh yang dulu memimpin proyek Overwatch, dengan ketus menyarankan agar orang-orang semacam ini, yang hobinya mengoceh soal game yang bahkan tidak pernah mereka sentuh, sebaiknya segera menekan tombol mute pada diri sendiri. Kata kasarnya? “Shut the f*** up.” Poinnya jelas: tidak ada yang peduli dengan keluhan orang yang bahkan tidak punya pengalaman langsung dengan objek keluhannya.
Dalam sebuah livestream yang lumayan panjang, Kaplan yang kini sedang menggarap proyek terbarunya, The Legend of California, sebuah game shooter action-survival open-world berlatar era demam emas di Amerika Serikat fiktif, menyuarakan keheranan terhadap fenomena orang-orang yang justru paling keras bersuara negatif terhadap game yang jelas-jelas bukan untuk mereka. Ini bukan soal kurangnya kesopanan, ini soal nalar yang seharusnya berlaku: jika sebuah produk bukan audiens targetnya, apalagi jika produk itu belum pernah dicoba, lalu kenapa suaranya harus didengar?
“Kalau ada game rilis, dan tidak ingin memainkannya, dan belum pernah memainkannya? Diam saja. Tidak ada yang tertarik mendengarnya,” ujar Kaplan, mengulang kembali inti pesannya dengan penekanan. Argumennya sederhana namun menusuk: mengeluarkan opini negatif tentang sesuatu yang tidak pernah dicoba sama saja seperti mengkritik rasa masakan yang belum pernah dicicip. Keberanian untuk menyukai sesuatu, kata dia, justru membutuhkan usaha lebih dibandingkan sekadar menjatuhkan. Sebuah observasi yang cukup telak mengenai budaya komplain tanpa dasar yang marak di ranah gaming.
Kaplan melanjutkan, “Tidak perlu mendengar keluhan bahwa ‘saya tidak suka ini’. Sungguh aneh melihat orang yang merasa kesal karena ada game yang dibuat padahal mereka sama sekali tidak punya ketertarikan. Saya tidak akan heboh berkomentar soal acara TV yang tidak pernah saya tonton. Siapa yang butuh opini seseorang tentang sesuatu yang tidak akan pernah ia gunakan atau nikmati? Terlebih jika belum pernah sekalipun mencobanya? Mengapa opini itu harus dianggap penting?”
Kebangkitan Sang Mantan, Tumbangnya Sang Pengeluh Tanpa Basis
Pernyataan Kaplan ini bisa jadi merupakan cerminan frustrasi banyak developer yang telah mencurahkan energi dan kreativitas mereka untuk sebuah proyek. Mereka ingin umpan balik yang konstruktif dari para gamer yang benar-benar terlibat dalam game tersebut, bukan sekadar suara-suara sumbang dari pinggir lapangan. Sebuah review atau komentar yang valid muncul dari pengalaman bermain, dari pemahaman mendalam tentang mekanika gameplay, narasi, dan desain. Mengeluh soal monetization tanpa pernah merasakan dampak langsungnya, misalnya, adalah keluhan yang datang dari ruang hampa.
“Jika player memainkannya – bagus! Punya opini yang terinformasi, dan itu hal yang baik,” pungkas Kaplan. Ia menambahkan, “Tapi harus ada lebih banyak semangat berbagi kecintaan.” Perkataannya ini menyoroti pentingnya komunitas yang saling mendukung dan menghargai. Alih-alih fokus pada kekurangan yang mungkin subjektif atau bahkan tidak relevan bagi sebagian besar player, alangkah baiknya jika energi diarahkan pada apresiasi terhadap karya yang telah dibuat. Ini bukan berarti menutup mata terhadap kritik yang valid, melainkan membedakan antara kritik berbasis pengalaman dan sekadar opini tanpa substansi.
Di luar pidatonya yang tajam, Kaplan sendiri memiliki rekam jejak yang tidak bisa dianggap remeh. Kepergiannya dari Blizzard, perusahaan yang telah memberinya hampir dua dekade karier, diungkapkan belakangan, disebabkan oleh tekanan finansial ekstrem dari Activision Blizzard. Ancaman PHK massal menghantuinya jika target finansial tidak tercapai, sebuah dilema etis yang berat bagi seorang pemimpin proyek.
Pengumumannya keluar dari Blizzard pada Agustus 2021, saat Overwatch 2 masih dalam tahap pengembangan. Ia bergabung dengan Blizzard pada tahun 2002, memulai kariernya sebagai desainer di World of Warcraft. Ia bahkan sempat memimpin proyek ambisius bernama Titan, sebuah MMORPG baru yang akhirnya dibatalkan setelah menghabiskan puluhan juta dolar. Perjalanan panjang di industri ini memberinya perspektif unik tentang dinamika pengembangan game dan ekspektasi publik.
Overwatch 2: Dari Jurang Kontroversi Menuju Api Performa Baru
Perjalanan Overwatch 2 sendiri, sejak peluncurannya, penuh liku. Sekuel yang sangat dinanti ini mengalami awal yang “berantakan”, seperti yang diakui pihak Blizzard. Meskipun sempat mencatat lonjakan pemain yang masif di awal peluncuran, angka tersebut mengalami penurunan drastis dalam setahun berikutnya. Ulasan pengguna mulai dipenuhi keluhan mengenai berbagai masalah, mulai dari monetization yang agresif hingga kontroversi seputar pembatalan mode PvE Hero yang telah lama dijanjikan.
Situasi ini menciptakan citra negatif yang cukup sulit dihilangkan. Banyak gamer merasa kecewa karena janji-janji awal tidak terpenuhi, terutama terkait konten yang lebih kaya dan mendalam. Kegagalan dalam mengembangkan mode PvE secara signifikan meruntuhkan kepercayaan sebagian komunitas, yang merasa bahwa fokus utama telah bergeser dari pengalaman bermain yang memuaskan ke model bisnis yang lebih menguntungkan perusahaan.
Namun, dinamika industri game selalu menarik. Baru-baru ini, game yang kini dikenal hanya sebagai Overwatch (setelah ditinggalkan embel-embel ‘2’) menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang signifikan. Dengan peluncuran story-driven era pertamanya, “The Reign of Talon,” basis pemain di Steam mengalami lonjakan luar biasa. Data SteamDB mencatat lebih dari 165.000 pemain simultan, jauh melampaui puncak sebelumnya. Ini menandakan sebuah awal yang sangat positif untuk hero shooter yang telah mengalami restrukturisasi besar ini.
Perubahan nama dan fokus pada narasi yang lebih kuat tampaknya berhasil menarik kembali minat para gamer. Adaptasi ini menunjukkan bahwa studio pengembang mampu belajar dari kesalahan masa lalu dan melakukan penyesuaian yang diperlukan untuk merespons keinginan pasar. Upaya untuk membangun kembali kepercayaan melalui konten yang lebih kohesif dan pengalaman cerita yang lebih menarik patut diacungi jempol, meskipun perjalanan untuk sepenuhnya memulihkan reputasi masih panjang.
Saat ini, Jeff Kaplan sedang berfokus penuh pada The Legend of California. Proyek barunya ini menawarkan sebuah dunia terbuka yang imersif, penuh dengan aksi dan tantangan bertahan hidup di era demam emas yang keras. Dengan pengalaman bertahun-tahun di industri, mulai dari pengembangan MMORPG legendaris hingga memimpin sebuah hero shooter yang penuh gejolak, tampaknya Kaplan telah menemukan kembali panggilan jiwanya dalam menciptakan pengalaman bermain yang baru dan menarik. Penggemar tentu menantikan apakah visi baru ini akan sesukses atau bahkan melampaui kesuksesan masa lalu.


