Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Metal Rilis Minggu Ini: Bloodbound, Depravity, Flesher & Morbikon Mengguncang!

Minggu ini? Jujur saja, dompet para metalhead mungkin aman dari guncangan dahsyat. Tidak seperti minggu-minggu sebelumnya yang penuh dengan rilis-rilis baru yang siap membobol tabungan. Tapi, hei, bukan berarti kita kekurangan amunisi untuk headbanging! Tetap ada beberapa rilisan menarik yang layak dilirik, ibarat oase di gurun pasir bernama ‘tanggal tua’.

Bloodbound: Kisah Abad Pertengahan yang Menggelegar

Field of Swords dari Bloodbound (Napalm Records) membawa kita ke medan perang Abad Pertengahan. Band power metal asal Swedia ini memang punya spesialisasi menceritakan sejarah militer lewat musik mereka. Kali ini, mereka mengisahkan tentang “evolusi peperangan dan kemajuan teknologi penempaan besi dengan karbon yang menghasilkan pendekar pedang yang unggul”. Kedengarannya seperti materi kuliah sejarah yang di-metal-kan, bukan?

Yang menarik, Bloodbound menjanjikan “kisah-kisah berdarah” yang dihidupkan dengan “penceritaan yang jelas”. Kita jadi bertanya-tanya, apakah ini berarti lirik-lirik yang penuh dengan deskripsi luka bacok dan jeritan kesakitan? Atau justru kisah heroik tentang ksatria pemberani yang membela tanah airnya? Yang jelas, dengan embel-embel “vivid storytelling”, Bloodbound sepertinya ingin lebih dari sekadar menyajikan riff-riff power metal yang ngebut.

Bagi penggemar power metal yang haus akan cerita epik dan melodi yang membangkitkan semangat, Field of Swords bisa jadi pilihan yang tepat. Tapi, bagi yang lebih suka musik metal yang lebih “membumi” dan menghindari tema-tema fantasi, mungkin album ini akan terasa sedikit berlebihan. Intinya, Bloodbound tetaplah Bloodbound: power metal dengan dosis sejarah yang cukup tinggi.

Depravity: Death Metal Klasik dengan Sentuhan Modern

Bestial Possession (Transcending Obscurity Records) dari Depravity adalah perpaduan antara death metal old school dan keganasan modern. Band asal Australia ini memang dikenal dengan gaya mereka yang terinspirasi oleh nama-nama besar seperti Morbid Angel, Suffocation, dan Deicide. Jadi, jika Anda adalah penggemar berat death metal dengan akar yang kuat di era keemasan genre ini, Depravity bisa jadi band yang Anda cari.

Setelah lima tahun absen merilis album, Depravity akhirnya kembali dengan Bestial Possession. Pertanyaannya, apakah penantian panjang ini sepadan? Apakah mereka berhasil menghadirkan sesuatu yang segar dan relevan di tengah gempuran band-band death metal modern yang semakin brutal dan teknis? Atau justru mereka terjebak dalam nostalgia dan mengulang formula lama?

Bestial Possession terdengar seperti jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Album ini memang kental dengan nuansa death metal klasik, tapi Depravity juga tidak ragu untuk menambahkan sentuhan modern dalam aransemen dan produksinya. Hasilnya adalah album yang terasa familiar namun tetap segar, brutal namun tetap terstruktur. Cocok untuk mereka yang ingin bernostalgia sekaligus mencari sesuatu yang baru.

Flesher: EP Gore yang Bikin Meringis

Oke, biasanya saya tidak terlalu tertarik untuk membahas EP di rubrik ini. Tapi, untuk Flesher, saya akan membuat pengecualian. Trio death metal ini merilis Gore on Gore (Maggot Stomp), sebuah EP berisi enam track yang siap memuaskan dahaga para penggemar gore-drenched horror death metal. Siap-siap untuk visualisasi mengerikan tentang darah, daging, dan segala sesuatu yang menjijikkan!

Gore on Gore adalah representasi sempurna dari apa yang bisa Anda harapkan dari Flesher: riff-riff death metal yang berat dan menghancurkan, vokal growl yang dalam dan tidak jelas, serta lirik-lirik yang penuh dengan detail mengerikan tentang pembunuhan, mutilasi, dan kanibalisme. Jika Anda adalah tipe orang yang suka menonton film horor kelas B yang penuh dengan efek spesial murahan dan adegan kekerasan yang berlebihan, EP ini mungkin akan menjadi soundtrack yang sempurna untuk malam minggu Anda.

Tapi, jika Anda lebih suka musik metal yang lebih “bermartabat” dan menghindari tema-tema gore yang terlalu vulgar, mungkin sebaiknya Anda menjauh dari Flesher. Karena band ini tidak punya pretensi apapun selain menyajikan death metal brutal yang penuh dengan darah dan air mata (secara harfiah maupun metaforis).

Morbikon: Supergrup yang Tidak Pernah Mengecewakan

Lost Within The Astral Crypts (Tankcrimes) dari Morbikon adalah bukti bahwa supergrup metal bisa menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekadar proyek sampingan yang membosankan. Band yang digerakkan oleh gelombang kedua black metal Skandinavia dan scene melodic death metal tahun 90-an ini memang selalu berhasil menghadirkan musik yang berkualitas dan tidak mengecewakan.

Jika Anda sudah familiar dengan rilisan-rilisan Morbikon sebelumnya, Anda pasti tahu apa yang bisa diharapkan dari Lost Within The Astral Crypts: riff-riff black metal yang dingin dan atmosferik, dipadukan dengan melodi-melodi death metal yang catchy dan vokal thrash yang agresif. Semuanya disajikan dengan produksi yang bersih dan modern, namun tetap mempertahankan nuansa old school yang kental.

Lost Within The Astral Crypts adalah album yang cocok untuk didengarkan keras-keras dan berulang-ulang. Ini adalah musik yang akan membawa Anda ke dunia lain, dunia yang penuh dengan kegelapan, misteri, dan keganasan. Siap-siap untuk terhanyut dalam astral crypts!

The Halo Effect: Cover EP yang Bikin Penasaran

The Halo Effect, band yang beranggotakan mantan personel In Flames, merilis We Are Shadows (Nuclear Blast), sebuah EP cover yang berisi lagu-lagu dari Danzig, W.A.S.P., Kent, Phenomena, dan Broder Daniel. Apakah Anda akan menyukai EP ini atau tidak, mungkin sudah bisa Anda tebak hanya dengan membaca daftar lagu tersebut.

Yang menarik dari We Are Shadows adalah pemilihan lagu-lagunya yang cukup beragam. Dari hard rock klasik W.A.S.P. hingga pop rock melankolis Kent, The Halo Effect mencoba untuk menghadirkan interpretasi mereka sendiri terhadap lagu-lagu yang berbeda genre dan era. Hasilnya adalah EP yang cukup mengejutkan dan tidak mudah ditebak.

Apakah The Halo Effect berhasil membuat lagu-lagu ini terdengar seperti milik mereka sendiri? Itu tergantung pada selera masing-masing. Tapi, yang jelas, We Are Shadows adalah bukti bahwa band ini tidak takut untuk bereksperimen dan keluar dari zona nyaman mereka. Sebuah langkah yang patut diapresiasi.

Sh*t Lain yang Rilis Hari Ini:

Annisokay, Abyss – The Final Chapter (Arising Empire)
Beast Eagle, Sorceress (Golden Robot Records)
Danko Jones, Leo Rising (Sonic Unyon Records)
Darktribe, Forgotten Reveries (Scarlet Records)
Dream Theater, The Studio Albums: 1992 – 2016 (Rhino)
Frozen Land, Icemelter (Massacre Records)
Nemorous, What Remains When Hope Has Failed (Bindrune Recordings)
Spotlights, Rarities (Ipecac Recordings)
Stryper, The Greatest Gift Of All (Frontiers Music Srl)
The Pretty Wild, zero.point.genesis (Sumerian Records)

Jadi, bagaimana? Apakah ada rilisan yang menarik perhatian Anda? Atau justru Anda merasa kecewa dengan minimnya pilihan minggu ini? Apapun itu, ingatlah: musik metal akan selalu ada untuk menemani kita, bahkan di saat-saat yang paling membosankan sekalipun.

Previous Post

PLEIO Netgem: Streaming Sat-Set Tanpa Antena, Plus Ratusan Game Cloud!

Next Post

AI Generatif ‘Teammates’ Ubisoft: NPC Jadi Teman Hidup, Game Berubah?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *