Begini, ada band metal legendaris yang namanya Neurosis. Band ini kabarnya bikin album baru, namanya An Undying Love for a Burning World, dan rilisnya diam-diam pula. Kejutan macam apa ini? Ternyata, ada anggota baru yang bikin gebrakan, dan bukan sembarang orang. Ini bukan sekadar pergantian personel; ini adalah semacam reinkarnasi yang bikin fansnya terheran-heran. Seolah baru saja menemukan harta karun tersembunyi, para penggemar langsung heboh mengupas setiap detail, mencoba memahami bagaimana sebuah band yang sudah matang bisa melakukan manuver tak terduga semacam ini.
Apa yang terjadi sebenarnya di tubuh Neurosis? Ternyata, di balik rilis kejutan ini ada sebuah cerita yang cukup dramatis. Pada tahun 2019, band ini resmi berpisah dengan salah satu pendirinya, Scott Kelly, setelah ia mengakui perbuatan KDRT bertahun-tahun dan menyatakan pensiun dari dunia musik. Pengakuan yang mengejutkan ini bagaikan petir di siang bolong, mengguncang pondasi band sekaligus komunitas musik underground. Kehilangan sosok sentral dengan identitas musik dan publik yang kuat jelas membuat Neurosis berada di titik krusial, memaksa mereka untuk merenungkan masa depan yang penuh ketidakpastian.
Steve Von Till, gitaris/vokalis band, menggambarkan situasi ini sebagai “menaruh karya hidup ke dalam icebox“. Ada kebutuhan mendesak untuk mendapatkan perspektif baru, sebuah proses introspeksi mendalam yang mungkin juga melibatkan semacam kematian ego. Baginya, Neurosis bukan sekadar proyek musik; ini adalah mekanisme bertahan hidup di tengah kegilaan dunia, cara memproses emosi yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Ketika sebuah identitas diri begitu erat terjalin dengan kolaborasi artistik lintas manusia, kehilangan elemen krusial berarti kehilangan sebagian dari jiwa itu sendiri. Butuh waktu dan pergulatan batin untuk menemukan kembali pijakan.
Seiring berjalannya waktu, kabut ketidakpastian mulai menipis, berganti dengan kejelasan dan tujuan baru. Di sinilah Aaron Turner, kawan lama yang juga dedengkot band SUMAC dan Old Man Gloom, masuk ke dalam pusaran. Gabungan energinya dengan Neurosis menghasilkan An Undying Love for a Burning World, sebuah album yang digadang-gadang sebagai salah satu karya paling kuat dan provokatif sepanjang sejarah band. Album ini kembali mengangkat tema klasik Neurosis: jurang pemisah antara manusia dengan alam dan dirinya sendiri. Namun kali ini, taruhannya terasa lebih genting.
Kembalinya Sang Raksasa dengan Wajah Baru
Turner sendiri mengakui betapa dunia tempat kita tumbuh semakin turbulen dari dekade ke dekade. Era sekarang adalah puncak kegilaan yang mungkin paling terasa oleh generasi yang menjalaninya. Musik, seperti yang ditekankan Von Till, menjadi semacam saluran pembuangan, satu-satunya tempat untuk menyalurkan segala luapan emosi. Bagi Turner, Neurosis pernah menjadi pelarian serupa saat ia pertama kali mendengarnya, dan kini, di tengah gelombang duka, amarah, sekaligus kekaguman, ia kembali menemukan fungsi itu. Semua rasa itu kini tercurah dalam karya terbaru.
Bagaimana pemilihan Turner sebagai anggota baru ini bisa begitu pas? Von Till membandingkannya dengan era transformasi besar band dari The Word as Law ke Souls at Zero. Tantangannya sekarang bukan soal usia muda, melainkan bagaimana menciptakan kejutan artistik di usia yang tidak lagi muda. Kuncinya adalah menemukan energi yang tepat. Awalnya, ada sedikit keraguan karena tawaran ini terasa terlalu “jelas”, dan ada kekhawatiran apakah Turner punya waktu di tengah kesibukan proyeknya sendiri untuk bergabung dengan “band orang tua disfungsional” ini.
Aaron Turner sendiri mengaku terkejut, bukan karena tiba-tiba diajak gabung tanpa basa-basi, tapi karena jalur kariernya memang sudah terjalin erat dengan Neurosis selama bertahun-tahun. Proyek-proyeknya banyak dirilis di label Neurot, ia pernah membuat artwork untuk Neurosis, dan band legendari ini pernah mengajak band lamanya, ISIS, untuk tur bersama. Ada semacam dialog terbuka yang sudah terjalin lama dengan Steve Von Till, bahkan pernah ada tawaran kolaborasi di masa lalu. Jadi, meskipun secara pribadi terasa seperti momen “what the fuck“, gabung dengan band yang sangat memengaruhinya secara musikal dan ideologis, hal ini juga terasa seperti sebuah evolusi yang logis.
Pertanyaan pentingnya adalah, apakah Neurosis sengaja mencari anggota yang benar-benar berkontribusi, bukan sekadar pelengkap vokal atau gitar? Von Till menegaskan bahwa Neurosis selalu menjadi kolektif yang membutuhkan energi baru. Kerap kali, persepsi publik tentang mekanisme internal sebuah band jauh dari kenyataan. Neurosis selalu mengedepankan kolaborasi. Dengan album yang merupakan sebuah reinventasi, mereka ingin sesuatu yang segar, bukan sekadar pengulangan. Keinginan untuk menemukan pendekatan baru yang unik, seperti yang ditunjukkan Turner dalam proyeknya bersama SUMAC dengan dinamika sonik yang liar dan penguasaan emosi mentah, menjadi kunci yang dirasa akan sangat cocok dengan energi Neurosis.
Proses Kreatif di Balik Angka-Angka Gelap
Demo lagu “First Red Rays” yang dikerjakan Turner bersama Jason Roeder di rumahnya bukanlah kontribusi pertama, melainkan yang kedua. Lagu “In the Waiting Hours” juga berawal dari fondasi yang dibuatnya. Proses penulisan lagu Neurosis, menurut Turner, seperti sebuah “mesin penggiling daging Neurosis”. Ide-ide dari masing-masing anggota dimasukkan, lalu diproses secara kolektif hingga menjadi lagu utuh. Ini adalah sebuah pembelajaran baginya, di mana sebuah ide awal tidak akan menjadi lagu final sebelum setiap anggota memberikan sentuhan pribadi mereka.
Lagu pembuka, “We Are Torn Wide Open,” yang hanya menampilkan vokal, berhasil memberikan sensasi merinding. Von Till menjelaskan bahwa ia menciptakannya di studio rumah dengan niat awal sebagai intro sebuah lagu. Ia merasa seperti sedang membangkitkan pengaruh Throbbing Gristle dan Crass dari masa lalu soniknya, namun esensinya murni dari diri band sendiri. Ini bukan sekadar puisi atau metafora; ini adalah deklarasi niat, sebuah pernyataan tujuan yang lugas dan terasa pas sebagai pembuka album.
Bagi Turner, Neurosis selalu memiliki dualitas: sisi otherworldly yang menakjubkan sekaligus sisi humanistik yang sangat mendalam. Intro vokal ini, menurutnya, menampilkan sisi humanistik Neurosis dalam bentuknya yang paling telanjang. Pesan yang disampaikan Von Till secara eksplisit sejalan dengan prinsip band sejak awal: suara individu manusia sebagai gerbang menuju pengalaman yang ditawarkan album. Ini adalah undangan bagi pendengar untuk tidak hanya mendengar, tetapi merasakan dan beresonansi secara personal.
Kekuatan dan daya tarik album ini, selain fakta bahwa ini adalah album Neurosis pertama dalam satu dekade dan adanya perubahan besar dalam band, juga datang dari energi baru dan perspektif segar yang dibawa Turner. Namun, ada faktor lain yang tak kalah penting. Turner, meskipun menjadi anggota “muda” di band yang kini beranggotakan pria paruh baya, merasakan adanya urgensi yang datang seiring bertambahnya usia. Jika di masa muda energi berlimpah dan selalu siap “raring to go“, kini kesadaran akan mortalitas semakin tajam. Pertanyaan tentang sisa waktu yang dimiliki, ditambah dengan ketidakpastian kondisi dunia secara umum, mendorongnya untuk memberikan segalanya di setiap momen yang ada.
Von Till mengamini pandangan tersebut. Ada penumpukan energi kreatif selama satu dekade terakhir yang tidak tersalurkan melalui rilisan band. Meskipun ia telah menghasilkan karya-karya personal yang memuaskan dan inspiratif, ada sisi dalam dirinya sejak kecil yang selalu mencari musik terberat dan harus mengalirkannya. Album ini menjadi semacam pelepasan emosional bagi perasaan-perasaan tak terucap, sebuah aliran fisik energi intens. Tanpa kesempatan ini, rasanya seperti sebuah penyakit, atau seperti “membuka luka dan menyedot racun keluar”. Inilah esensi dari karya seni yang lahir dari kebutuhan primal.


