Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Nullingroots: Mimpi Dimensi Keempat, Antara Gemilang dan Gegalau

Mendengar Nullingroots kembali setelah enam tahun absen dengan Fourth Dimensional Dreamscape ibarat menemukan kembali kaset usang di loteng rumah. Ada nostalgia, ada harapan, tapi juga ada pertanyaan besar: apakah kualitas suara masih jernih, atau sudah penuh kresek tak karuan? Proyek solo Cameron Boesch yang berevolusi dari instrumental post-metal menjadi ramuan black metal yang lebih pekat, kini bergandengan tangan dengan Alex Haddad dari Dessiderium. Pendekatan ini menjanjikan, tapi apakah hasilnya secemerlang reuni band lawas yang tiba-tiba manggung lagi di festival nostalgia?

Mari kita bedah satu per satu. Sejak awal, Nullingroots punya ambisi yang patut diacungi jempol. Berbasis di Phoenix, Arizona, proyek ini lahir dari tangan dingin Cameron Boesch sebagai kanvas instrumental post-metal. Perlahan, aroma black metal mulai merasuk, seperti aroma kopi tubruk yang tiba-tiba bercampur dengan parfum bunga melati. Penambahan personel membuat formulasi ini semakin kompleks, terlebih dengan bergabungnya Alex Haddad, pentolan dari Dessiderium. Kehadiran Haddad terasa signifikan, menggemakan melodi major-key yang ceria ala Dessiderium, namun kali ini dibungkus dalam selubung post-black metal yang lebih dingin. Dibandingkan Malady’s Black Maw (2019) yang terlalu monoton dalam kegelapan, Fourth Dimensional Dreamscape menawarkan momen-momen yang lebih bernapas, terutama lewat permainan piano dan berbagai efek keyboard yang berkilauan, mengingatkan pada lanskap sonik Unreqvited.

Momen-momen terbaik dalam Fourth Dimensional Dreamscape seringkali datang dari kejutan kecil di tengah jamuan panjang. Porsi 55 menit album ini memang sarat pengalaman. Petikan gitar yang bergerak lincah di antara konsonansi dan disonansi, seperti saat mendengarkan lagu “Fourth Dimensional Dreamscape” atau “Remember My Name,” menciptakan ketegangan yang menarik. Namun, pergeseran tempo drum yang silih berganti justru terasa seperti tontonan sirkus yang agak membingungkan, alih-alih kemajuan progresif yang mulus. Ada kalanya, seperti dalam “In Reverie’s Embrace,” nuansa mistis keyboard berpadu dengan irama yang nyaris menyerupai drum beat rap virtual. Ini adalah eksperimen yang patut dicatat, walau tidak selalu berhasil sepenuhnya.

Namun, bukan berarti semua berjalan mulus. Vokal, misalnya, terkadang terasa seperti pengulangan yang membosankan. Geraman kasar (rasp) memang cocok untuk trek-trek ngebut seperti “Remember My Name,” tetapi kurang pas saat menyentuh nuansa sendu “Memoir of a Frail Past.” Ada sedikit penyelamatan lewat growl yang lebih halus di beberapa bagian (“Life Thief”), tetapi celah yang paling disayangkan adalah absennya vokal bersih. Bayangkan betapa indahnya jika nyanyian Haddad bisa berpadu dengan lapisan instrumen yang kaya. Sebuah kesempatan emas yang terlewatkan, seperti tiket konser gratis yang terinjak.

Perjalanan Kosong di Dimensi Impian

Fourth Dimensional Dreamscape, walau dikemas dengan banyak elemen, terasa kurang solid sebagai sebuah kesatuan. Album ini lebih sering menyajikan rangkaian momen independen daripada sebuah narasi yang mengalir. Beberapa momen memang memukau, seperti bagian shredding gitar di tengah “The Optimist.” Trek seperti “Memoir of a Frail Past” dan “In Reverie’s Embrace” sedikit lebih baik berkat melodi keyboard yang berulang, namun sisanya terasa tercerai-berai dan terkadang hambar. Dengan durasi minimal 7 menit per lagu, pendengar membutuhkan pegangan yang kuat agar tidak tersesat, apalagi jika intro dan outro sebuah lagu terasa opsional. Rasanya seperti diajak berputar-putar tanpa peta yang jelas, hanya diseret kasar melewati perjalanan panjang yang terasa melelahkan.

Setiap elemen dalam Fourth Dimensional Dreamscape memiliki potensinya sendiri. Permainan gitar yang meliuk-liuk, dinamika keyboard yang berkilauan, dan perubahan tempo drum yang drastis, semua itu punya tempatnya. Namun, bagaimana elemen-elemen ini saling berinteraksi adalah kunci utamanya. Terkadang, mereka bersatu seperti orkestra yang harmonis, menciptakan lanskap sonik yang memukau. Di lain waktu, mereka seperti kumpulan musisi yang bermain sendiri-sendiri, masing-masing sibuk dengan bagiannya tanpa memperhatikan keseluruhan. Ini adalah tarian yang membutuhkan koreografi yang lebih matang.

Keberadaan Alex Haddad, dengan latar belakangnya di Dessiderium, jelas memberikan warna baru. Pengaruhnya terasa dalam melodi gitar yang kadang terdengar ceria meskipun dibalut dalam nuansa post-black. Ini adalah langkah maju yang menarik dari Nullingroots, sebuah penyegaran yang sangat dibutuhkan setelah jeda panjang. Namun, keberhasilan sebuah rekaman tidak hanya diukur dari kehebatan individu para personelnya, melainkan juga dari bagaimana karya tersebut bisa menyajikan pengalaman mendengarkan yang utuh dan memuaskan. Di sinilah Fourth Dimensional Dreamscape masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup banyak.

Album ini adalah bukti bahwa Nullingroots kini memiliki fondasi yang lebih kuat, baik dari segi personel maupun visi musikal. Perpaduan antara elemen instrumental post-metal yang atmosferik dengan agresivitas black metal, ditambah sentuhan progresif dari Haddad, adalah resep yang menggugah selera. Sayangnya, eksekusi terkadang kurang sebanding dengan ambisinya. Banyak ide brilian yang terselip, namun presentasinya seringkali kurang rapi, membuat pendengar harus ekstra sabar untuk menemukannya. Bayangkan membeli kotak berisi perhiasan indah, namun setengahnya terbungkus kertas koran bekas yang lusuh.

Jejak yang Hilang dalam Kabut

Fourth Dimensional Dreamscape bisa jadi adalah penanda arah baru yang menjanjikan bagi Nullingroots pasca absen panjang. Namun, seperti tanaman muda yang baru tumbuh, ia masih membutuhkan perawatan ekstra agar tidak layu. Kemampuan instrumental para musisi tidak diragukan lagi; mereka bisa memainkan instrumennya dengan mahir. Pertanyaannya, apakah mereka bisa menyusunnya menjadi sebuah lagu yang benar-benar menggigit? Setengah pertama album ini terasa lebih mulus dicerna daripada paruh kedua, tetapi keseluruhan paket masih terasa kurang fokus dan kohesif. Sulit untuk memberikan rekomendasi penuh untuk Fourth Dimensional Dreamscape saat ini. Dengan penyesuaian dan pemolesan yang lebih tajam, ada potensi besar untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar luar biasa.

Meskipun demikian, ada beberapa momen yang patut diingat. Misalnya, bagian gitar yang memukau di “The Optimist” atau melodi keyboard yang kembali di “Memoir of a Frail Past.” Bagian-bagian ini menunjukkan apa yang bisa dicapai oleh Nullingroots ketika semua elemen bekerja selaras. Album ini terasa seperti sebuah sketsa kasar yang penuh warna, namun membutuhkan sentuhan akhir yang lebih halus agar lukisan tersebut benar-benar hidup. Ini adalah janji akan sesuatu yang lebih besar, sebuah visi yang masih dalam tahap pembentukan, namun sudah menunjukkan kilauannya.

Pada akhirnya, Fourth Dimensional Dreamscape adalah sebuah eksplorasi. Eksplorasi di wilayah musik yang belum sepenuhnya terpetakan oleh band ini. Ia menawarkan pengalaman yang kompleks, terkadang membingungkan, namun tidak pernah membosankan. Ia adalah bukti bahwa band ini tidak takut untuk bereksperimen dan mendorong batas-batas musikal mereka. Meskipun belum mencapai kesempurnaan, perjalanan ini sendiri sudah bernilai. Ia memberikan gambaran tentang potensi masa depan Nullingroots, sebuah masa depan yang, jika dikelola dengan baik, bisa sangat cerah.

Ini adalah sebuah lompatan berani dari proyek yang dulu hanya instrumental. Penambahan elemen vokal dan kompleksitas struktur lagu menunjukkan evolusi yang signifikan. Namun, evolusi ini perlu dibarengi dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana menyajikan kompleksitas tersebut agar tidak terasa seperti beban bagi pendengar. Terkadang, kesederhanaan yang elegan lebih memikat daripada kerumitan yang membingungkan. Nullingroots memiliki bakat, mereka memiliki ide, kini saatnya menyatukannya menjadi sebuah mahakarya yang tidak hanya memukau secara teknis, tetapi juga menyentuh secara emosional.


Rating: 2.5/5.0
DR: 8 | Format Reviewed: PCM
Label: Self-Release
Websites: nullingroots.bandcamp.com | facebook.com/nullingroots
Releases Worldwide: February 11th, 2026

Previous Post

Colby Covington Dicoret Dari UFC White House Card: Kok Bisa?

Next Post

SlashZero: Lari dari Waktu, Lelah tapi Tetap Keren

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *