Pernah dengar soal grup Britpop paling agung yang balik lagi tahun ini dengan gegap gempita yang merajai musim panas? Nggak? Ya sudah, nggak penting juga. Yang penting, Oasis juga reuni. Iya, Oasis yang itu. Band yang lagunya lebih sering dinyanyiin di tongkrongan daripada lagu kebangsaan.
Aneh memang kalau sekarang bilang Live ’25 itu bukan jaminan sukses. Pertanyaan bertebaran: Apakah dua bersaudara yang super labil itu bisa nahan ego dan insting rebutannya? Mungkinkah mereka menghindari reputasi karena main terlalu lambat sampai nyawa pun kabur dari para loyalis yang paling setia? Adakah harapan setlist mereka bakal nunjukkin eksistensi mereka setelah tahun 2002? (Iya, iya, nggak.) Permintaan tur mereka gila-gilaan, sekitar 14 juta orang ngantri buat tanggal di Inggris aja, lonjakan hampir 600 persen dari sepasang pertunjukan Knebworth tahun 1996 yang abadi itu.
Begitu confetti dari pembukaan di Cardiff memastikan kalau mereka nggak cuma dalam kondisi lumayan, tapi malah melebihi semua ekspektasi, semacam getaran lucu nyapu para Anglophile di seluruh dunia, kayak aftershock dari bom kebahagiaan. Dengan tabloid dan media musik yang terobsesi buat ngelacak setiap gerakan dua bersaudara itu, bahkan tepukan singkat di punggung pun bikin orang jadi linglung. Hilang sudah atasan minim dan rokok, muncul topi ember dan lebih banyak rokok, saat Planet Gallagher menutupi matahari. Dan lihatlah, kalau-kalau kalian pikir mereka belum cukup ngeruk duit, inilah edisi ulang tahun ke-30 dari (What’s the Story?) Morning Glory, reissue dari reissue dari reissue. Mungkin kalian nggak suka, tapi inilah puncak kejayaan Oasis.
Oasis Lebih Besar dari The Beatles? Nggak Mungkin… Atau Mungkin?
Sebagai pendukung Lennonisme paling bersemangat di dunia, satu-satunya perbandingan yang bakal diterima Liam dan Noel belakangan ini adalah dengan idola mereka. Jadi mari kita mulai dari situ. Secara sosial, di tahun 2025, Oasis lebih besar dari The Beatles. Salahkan persaingan ketat di tahun 60-an, atau keruntuhan total perkembangan estetika sejak tahun 90-an, tapi kalian cuma bisa ngadepin kekosongan di depan kalian, dan Oasis ngelakuin itu dengan efisiensi brutal. Kalau kalian masang telinga sekarang buat balada pria pub, kalian nggak bakal nemuin pria dengan setelan abu-abu tanpa kerah yang nyanyiin “Day Tripper” pas jam tutup. Yang bakal kalian temuin, bagaimanapun, adalah pria paruh baya yang mulai beruban di pelipis dan pasangan muda dengan tato live forever dengan huruf kursif di betis mereka, bergandengan tangan, nyanyiin salah satu standar rock’n’roll modern yang universal: “Champagne Supernova,” “Wonderwall,” “Don’t Look Back in Anger,” atau, mungkin, semuanya.
Mari kita lupakan sejenak soal siapa yang lebih inovatif secara musikal, lebih relevan secara kultural, atau lebih puitis secara lirik. Saatnya mengakui kebenaran yang nggak nyaman: Oasis, dengan segala kesederhanaan dan kesombongannya, sudah jadi bagian dari DNA budaya pop modern. Mereka itu kayak cheat code buat nostalgia, kayak tombol reset buat masa lalu yang lebih sederhana, saat musik rock masih jadi raja dan nggak ada yang peduli soal TikTok.
Bahkan kalau kalian benci Oasis sekalipun, kalian nggak bisa ngelewatin kenyataan bahwa lagu-lagu mereka itu ada di mana-mana. Mereka itu kayak iklan yang nggak bisa di-skip di YouTube. Kalian mungkin menghindari mereka di playlist kalian, tapi kalian pasti denger mereka di radio, di karaoke, atau pas tetangga kalian lagi barbeque-an. Mereka itu kayak virus yang nyebar lewat udara, menjangkiti telinga dan pikiran tanpa ampun.
Nostalgia Adalah Senjata Paling Ampuh: Sebuah Analisis Taktik Reuni Oasis
Lalu, kenapa reuni ini begitu sukses? Apakah ini cuma nostalgia semata? Ataukah ada sesuatu yang lebih dalam? Jawabannya, tentu saja, adalah keduanya. Nostalgia adalah senjata yang ampuh, terutama di era di mana masa depan terasa nggak pasti dan menakutkan. Orang-orang kangen masa lalu yang lebih sederhana, saat mereka masih muda dan naif, dan musik adalah cara yang sempurna buat ngunjungin kembali masa lalu itu.
Tapi reuni Oasis lebih dari sekadar nostalgia. Ini juga soal identitas. Oasis adalah band yang identik dengan Inggris Raya, dengan kelas pekerja, dengan semangat pemberontakan. Mereka itu kayak versi musik dari Fish and Chips, atau teh celup. Mereka mewakili sesuatu yang otentik dan nggak dibuat-buat, sesuatu yang makin langka di dunia yang serba digital ini.
Dan mari kita nggak lupa soal drama. Liam dan Noel Gallagher adalah dua bersaudara yang paling terkenal bermusuhan di dunia musik. Perseteruan mereka itu udah jadi legenda, dan reuni mereka itu kayak reuni keluarga yang paling ditunggu-tunggu, lengkap dengan potensi ledakan emosi dan kata-kata kasar. Ini itu kayak sinetron opera sabun yang nggak pernah bosen buat ditonton.
(What’s the Story?) Morning Glory: Antara Album Legendaris dan Mesin Pencetak Uang
Ngomong-ngomong soal mesin pencetak uang, edisi ulang tahun ke-30 dari (What’s the Story?) Morning Glory adalah bukti nyata bahwa nostalgia itu nggak cuma soal perasaan, tapi juga soal bisnis. Album ini udah jadi klasik, dan nggak ada keraguan bahwa ini adalah salah satu album Britpop yang paling penting. Tapi apakah kita beneran butuh reissue dari reissue dari reissue? Mungkin nggak, tapi itu nggak bakal nghentiin orang buat beli.
Di dunia di mana musik bisa diakses secara instan di Spotify dan Apple Music, memiliki salinan fisik album klasik adalah pernyataan. Ini itu kayak bilang, “Gue peduli sama musik, gue nggak cuma dengerin secara kasual.” Ini juga soal mendukung artis, walaupun dalam kasus Oasis, mereka mungkin nggak terlalu butuh dukungan finansial. (Tapi siapa yang nolak duit tambahan, kan?).
Jadi, apakah (What’s the Story?) Morning Glory edisi ulang tahun ke-30 itu layak dibeli? Itu tergantung. Kalau kalian udah punya versi sebelumnya, mungkin nggak terlalu perlu. Tapi kalau kalian fans berat Oasis, atau kalau kalian cuma pengen punya sepotong sejarah musik, kenapa nggak? Anggap aja itu kayak investasi, atau kayak beli tiket buat konser nostalgia. Yang penting, jangan lupa dengerin musiknya. Karena pada akhirnya, itulah yang paling penting.
Di Balik Gemerlap Reuni: Oasis dan Ironi Industri Musik Modern
Tapi di balik semua gemerlap reuni dan penjualan album, ada ironi yang lebih dalam. Oasis adalah band yang lahir dari semangat anti-kemapanan, dari keinginan buat memberontak melawan sistem. Sekarang, mereka udah jadi bagian dari sistem itu sendiri. Mereka adalah raksasa industri yang menghasilkan jutaan dolar, dan lagu-lagu mereka diputar di iklan dan film Hollywood.
Apakah ini berarti mereka udah jual diri? Mungkin. Tapi mungkin juga mereka cuma mainin perannya dalam drama besar industri musik. Mereka adalah badut dan raja, pemberontak dan konservatif, semuanya sekaligus. Mereka itu kayak meme yang terus berevolusi, berubah bentuk sesuai dengan konteksnya.
Dan mungkin itulah kenapa kita masih peduli sama Oasis. Karena mereka mewakili kontradiksi yang ada dalam diri kita semua. Kita pengen jadi unik dan individual, tapi kita juga pengen jadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Kita pengen memberontak melawan sistem, tapi kita juga pengen sukses di dalamnya. Oasis adalah cerminan dari diri kita sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangan kita.
Jadi, next time kalian denger “Wonderwall” di radio, jangan langsung ganti saluran. Coba dengerin baik-baik. Mungkin kalian bakal nemuin sesuatu yang baru, atau mungkin kalian cuma bakal ngerasa nostalgia. Tapi yang pasti, kalian nggak bakal bisa ngelupain Oasis. Karena mereka udah jadi bagian dari kita, suka atau nggak suka.
Reuni Oasis dan segala pernak-perniknya, mulai dari tur yang bikin dompet bolong sampai reissue album yang bikin kantong jebol, adalah pengingat bahwa nostalgia itu kadang kala lebih kuat dari inovasi. Kita hidup di era di mana masa lalu dijual kembali dengan harga premium, dan kita dengan senang hati membelinya. Ironis, bukan?


