Pernahkah Anda merasa seperti Steve Bolton? Bukan, bukan karena skill gitarnya yang dewa. Tapi karena sering “salah masuk ruangan” dan berakhir jamming bareng legenda musik? Kisah hidupnya lebih seru dari plot twist sinetron, dari nongkrong bareng Keith Richards sampai bikin Ray Davies nyaris baper karena Chrissie Hynde. Mari kita kulik, siapa tahu ketularan hoki.
Dari Hotel Mewah ke Panggung Dunia: Kisah “Boltz” Bolton
Steve “Boltz” Bolton, bagi sebagian mungkin nama ini terdengar asing. Tapi di kalangan musisi rock, ia adalah “Zelig”-nya dunia musik. Bayangkan, lagi asik-asikan tur, eh, tiba-tiba Steve Jordan (drummer Rolling Stones) nyolek, “Mau ketemu Keith Richards nggak?”. Alhasil, malam itu Bolton berakhir di kamar hotel, New York bersalju, jamming bareng gitaris legendaris tersebut. Sungguh, rejeki anak soleh memang nggak ke mana.
Tapi jangan salah sangka, keberuntungan Bolton bukan cuma modal “nongkrong di tempat yang tepat”. Ia punya skill gitar mumpuni yang mengantarkannya manggung bareng Pete Townshend (The Who), jadi anak buah Paul Young, hingga akhirnya gabung dengan Atomic Rooster. Intinya, Bolton ini bukan sekadar nebeng nama besar, tapi musisi yang memang punya kapasitas.
Ray Davies dan “Dia yang Tak Boleh Disebut”
Salah satu kisah paling menarik dari Bolton adalah saat ia bekerja sama dengan Ray Davies (The Kinks) di album solo “Other People’s Lives” (2006). Sebelum rekaman, banyak yang mewanti-wanti agar Bolton hati-hati karena Davies dikenal “aneh” dan nggak suka orang bodoh. Tapi ternyata, Davies justru baik banget, bahkan sering nyodorin biskuit vegetarian! Mungkin karena Bolton juga seorang vegetarian, jadi ada chemistry tersendiri.
Namun, di balik kebaikan Davies, ada satu “aturan tak tertulis” yang harus dipatuhi: jangan pernah menyebut nama Chrissie Hynde (The Pretenders). Maklum, Davies dan Hynde pernah menjalin hubungan yang cukup complicated di masa lalu. Ibaratnya, menyebut nama Hynde di depan Davies sama saja dengan nge-lag saat lagi nge-rank di Mobile Legends.
Dan, tentu saja, Bolton melanggar aturan tersebut. Saat sedang rekaman, Bolton nyeletuk bahwa salah satu overdub gitarnya terdengar “terlalu mirip The Pretenders!”. Seketika, studio hening. Bolton keringat dingin, takut Davies ngamuk. Tapi, ajaibnya, Davies justru santai dan memaklumi. Mungkin Davies sudah terlalu lelah untuk berdebat, atau mungkin diam-diam ia kangen juga sama Hynde. Siapa tahu?
Telecaster vs. Synth: Membangkitkan “Sound” Khas The Kinks
Selain insiden “The Pretenders”, Bolton juga berjasa “membangkitkan” sound khas The Kinks di album solo Davies. Saat itu, Davies cenderung menggunakan gitar dengan efek flanging dan chorus yang sangat “80-an”. Bolton, dengan berani, menyarankan agar Davies kembali menggunakan Telecaster dan memainkan counter-rhythm yang menjadi ciri khas The Kinks, seperti di lagu “All Day and All of the Night”.
Awalnya, Davies ragu. Tapi Bolton meyakinkan bahwa itulah yang disukai orang dari The Kinks: sound jadul yang raw dan penuh energi. Akhirnya, Davies nurut dan hasilnya? Album “Other People’s Lives” terdengar lebih “Kinks” daripada album-album The Kinks di era 80-an. Sebuah pembuktian bahwa kadang, kembali ke akar itu lebih baik daripada mengikuti tren.
David Bowie: Strumming “Space Oddity” Bareng Alien
Kisah lain yang nggak kalah menarik adalah saat Bolton rekaman bareng David Bowie. Ia ditelepon oleh produser Tony Visconti dan diminta datang ke studio keesokan harinya. Saat tiba di studio, ternyata Bowie sudah menunggu. Mereka berdua merekam ulang beberapa lagu Bowie untuk acara TV “The Kenny Everett Video Show”.
Bolton bercerita, saat sedang memainkan gitar akustik bareng Bowie di lagu “Space Oddity”, ia merasa seperti mimpi. “Ya Tuhan, ini David Bowie!”, gumamnya. Bowie, dengan santai, menjawab, “Betul sekali”. Lalu, mereka berdua melanjutkan strumming, seolah nggak terjadi apa-apa. Mungkin bagi Bowie, jamming bareng musisi lain itu hal biasa. Tapi bagi Bolton, itu adalah momen yang nggak akan pernah ia lupakan.
Keith Richards vs. Dr. John: Rebutan Solo di Panggung Rainforest
Di tahun 2001, Bolton diajak Keith Richards untuk tampil di konser amal Save the Rainforest. Setelah konser di Santa Monica, para musisi berkumpul untuk latihan di New York. Di antara mereka ada Memphis Horns, Dr. John, Kim Simmonds (Savoy Brown), dan Clarence “Gatemouth” Brown. Steve Jordan bertugas sebagai music director.
Saat sedang latihan lagu “Right Place, Wrong Time” milik Dr. John, terjadi ketegangan. Jordan mencoba membagi solo agar semua kebagian. Ia menunjuk Simmonds untuk solo harmonica, lalu Bolton untuk solo gitar. Dr. John setuju. Tapi, saat Jordan menunjuk Keith Richards, Dr. John langsung sewot dan melontarkan kata-kata kasar. Keith Richards sampai ngumpet di belakang Bolton!
Usut punya usut, ternyata ada dendam lama antara The Rolling Stones dan Dr. John serta Ry Cooder. Konon, Cooder dan Dr. John banyak berkontribusi di album “Exile on Main St.” tapi nggak dapat kredit yang layak. Mick Jagger sendiri mengakui bahwa Dr. John pernah menawarkan rekaman lagu seharga $50 per lagu. Jagger menolak, tapi Dr. John yakin lagunya dijiplak untuk “Exile”. Drama memang selalu menghiasi dunia musik.
WAP Phone Sebagai Pemecah Ketegangan
Untungnya, Clarence “Gatemouth” Brown berhasil mencairkan suasana. Ia baru saja membeli WAP phone (ponsel yang bisa akses berita dan cuaca sebelum era smartphone) dan sangat senang dengan mainan barunya itu. “Gatemouth sangat lucu dan nyeleneh,” kata Bolton. “Dia mengurangi ketegangan antara Dr. John dan Richards dengan terus-terusan bilang, ‘Aku punya WAP phone!'”
Dari kisah-kisah Steve “Boltz” Bolton, kita belajar bahwa hidup itu kadang seperti open world game. Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan. Yang penting, punya skill yang mumpuni, berani ambil risiko, dan jangan lupa bawa WAP phone untuk jaga-jaga kalau ada yang berantem. Siapa tahu, Anda juga bisa jamming bareng legenda musik suatu hari nanti.


