Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Paralimpiade: Belajar dari Milan & Paris, Los Angeles Siapkan 2028 Kian Inklusif

Melihat kota-kota besar bersolek menyambut event olahraga akbar memang menarik, tapi pernahkah terpikir bahwa di balik kemegahan itu ada otak-otak jenius yang beradu strategi merancang segalanya agar ramah bagi semua? Ternyata, duo penggawa UCLA Luskin, John Kerr dan Peyton Johnson, belum lama ini mampir ke Milan untuk menilik kesiapan Paralimpiade Musim Dingin 2026, lalu lanjut ngobrol serius di Paris perihal hajatan Olimpiade. Singkat kata, mereka dapat front-row seat menyaksikan langsung bagaimana sebuah acara internasional dirajut, dijalankan, dan diorganisir dengan prinsip utama: aksesibilitas.

Perjalanan epik ini terwujud berkat kolaborasi antara UCLA Luskin dan David Bohnett Foundation. Bagi Kerr, seorang mahasiswa master perencanaan kota dan wilayah, serta Johnson, yang mendalami kesejahteraan sosial, ini adalah kesempatan emas mencicipi langsung tantangan dan seluk-beluk penyelenggaraan Olimpiade dan Paralimpiade. Ini bukan sekadar jalan-jalan melihat venue, melainkan infiltrasi mendalam ke jantung logistik global, di mana setiap detail diperhitungkan demi kelancaran dan keadilan.

Milan & Paris: Pelajaran Aksesibilitas dari Arena Global

Di Milan, kedua fellow ini tenggelam dalam sesi intensif bersama pejabat kota dan panitia penyelenggara Milano Cortina (MiCo OCOG). Fokus utama mereka adalah Cultural Olympiad – perhelatan seni dan budaya yang mengiringi kompetisi atletik – serta segala logistik yang dibutuhkan demi menciptakan pengalaman yang inklusif dan merata bagi para atlet, penonton, dan seluruh komunitas. Bayangkan saja, bagaimana sebuah kota yang punya sejarah panjang harus beradaptasi menyambut era modern dengan segala tuntutannya.

Setelah tuntas di Milan, rombongan beranjak ke Paris. Di sana, agenda mereka bergeser ke studi pasca-Olimpiade 2024, fokus pada perencanaan dan upaya peningkatan aksesibilitas yang telah diimplementasikan. Ini adalah momen untuk melihat legacy sebuah event besar, bagaimana dampaknya terasa bahkan setelah obor olimpiade padam.

Tim dari Office of Major Events bahkan berkesempatan menyambangi Verona Arena yang bersejarah, lokasi upacara pembukaan Paralimpiade. Mereka diajak tur aksesibilitas yang impresif, melihat bagaimana koloseum abad pertama ini bertransformasi. Pemasangan lift pertama, misalnya, sebuah langkah revolusioner yang tetap menjaga keaslian arsitektur klasik. Para fellow juga mengamati bagaimana MiCo26 mengubah ruang tersebut menjadi panggung megah untuk upacara pembukaan yang menampilkan lebih dari 600 atlet dari 55 negara, serta pertunjukan artistik yang menggaungkan kekuatan olahraga.

“Berdiri di stadion berusia 2.000 tahun, dibangun oleh Romawi, dan melihat bagaimana tempat itu diperbarui agar dapat diakses oleh orang-orang dengan berbagai kebutuhan mobilitas, menunjukkan bahwa transformasi positif itu mungkin terjadi di mana saja dan kapan saja,” ujar Kerr. “Aksesibilitas adalah sebuah tantangan dan harus menjadi prioritas utama dalam setiap perencanaan, termasuk untuk Olimpiade 2028 mendatang.” Komentar ini menegaskan betapa krusialnya pemikiran jangka panjang dalam setiap megaproyek.

Produksi Olimpiade: Juggling Kompleksitas Tanpa Batas

Bagi Kerr, pengalaman di lapangan ini semakin memperjelas betapa kompleks dan dinamisnya sebuah gelaran olahraga internasional. Setiap siklus empat tahun, seolah-olah ada pembangunan besar-besaran dari nol. Pendekatan setiap kota tuan rumah pun sangat bervariasi. Los Angeles, misalnya, tidak perlu bersusah payah meniru kesuksesan tuan rumah sebelumnya; justru ada ruang besar untuk mendefinisikan pengalaman uniknya sendiri.

Poin ini semakin terkonfirmasi lewat dialog langsung dengan para perencana di luar negeri. Kerr terkesan melihat kesamaan visi di antara para perencana kota di Milan dan Paris. Mereka berbagi tujuan yang sama: meningkatkan kualitas kota setahap demi setahap, demi kemajuan komunitas. Ini menunjukkan bahwa meski skala dan konteksnya berbeda, prinsip dasar pembangunan kota yang lebih baik tetaplah universal.

Observasi langsung terhadap Paralimpiade memberikan pemahaman mendalam bagi kedua fellow mengenai bagaimana infrastruktur, kebijakan, dan desain beririsan untuk menciptakan pengalaman yang adil bagi semua pihak. Ini bukan hanya soal estetika, tapi lebih kepada fungsionalitas yang melayani kebutuhan beragam.

Legacy Event: Lebih dari Sekadar Pertandingan

Johnson secara khusus menyoroti bagaimana sebuah kota dapat memanfaatkan major event sebagai pemicu perubahan jangka panjang. Melihat langsung jalannya Winter Games di Milan dan mengunjungi Paris pasca-Olimpiade Musim Panas, membuka mata akan potensi perubahan signifikan yang bisa dipantik oleh acara olahraga akbar.

Di Milan, investasi pada sektor transportasi dan institusi budaya diprioritaskan untuk meningkatkan aksesibilitas. Sementara itu, Paris terus melakukan redesign pada berbagai kawasan perkotaan demi memastikan ruang publik yang inklusif. Keduanya sadar betul bahwa sebuah event berskala global, jika dikelola dengan bijak, bisa menjadi katalisator untuk meninggalkan warisan positif bagi generasi mendatang.

“Dari institusi budaya hingga karya publik dan organisasi olahraga, baik Paris24 maupun MiCo26 telah mengubah event global sekali waktu menjadi warisan aksesibilitas dan inklusi yang akan terus bermanfaat bagi warga selama beberapa generasi,” ungkap Johnson. Ini adalah pandangan yang optimistis, bahwa setiap penyelenggaraan adalah peluang emas untuk meninggalkan jejak positif.

Dari Arena Global ke Panggung Lokal: Misi Bohnett Fellows

Sebagai Bohnett Fellows di Mayor’s Office of Major Events, Kerr dan Johnson berada dalam posisi strategis untuk menerjemahkan pelajaran global ini menjadi dampak nyata di tingkat lokal. Program fellowship yang didirikan sejak 2007 ini memberikan pengalaman praktis di pemerintahan kota kepada mahasiswa pascasarjana UCLA Luskin pilihan, menempatkan mereka pada peran krusial untuk berkontribusi dalam penyelesaian tantangan perkotaan yang mendesak.

Bagi Johnson, perjalanan ini semakin memperkuat misi besar di balik persiapan Los Angeles untuk Olimpiade 2028. Kesempatan ini bukan hanya tentang penyelenggaraan kompetisi, melainkan transformasi kota secara menyeluruh. Ini adalah momentum untuk memajukan kesetaraan dan mereimaginasikan kembali sistem pemerintahan yang ada.

“Olimpiade dan Paralimpiade adalah tugas yang tidak ringan, namun kembali pada prinsip panduan aksesibilitas dan kesetaraan selalu menjadi motivasi utama dalam setiap pekerjaan,” pungkas Johnson. Sebuah pernyataan tegas yang menunjukkan komitmen pada nilai-nilai fundamental di balik setiap langkah persiapan LA28. Ini bukan sekadar tentang menjadi tuan rumah, tapi tentang menjadi tuan rumah yang lebih baik, lebih adil, dan lebih inklusif.

Previous Post

Artificial Detective: Detektif Robot Bijak Pecahkan Misteri Kehilangan Manusia

Next Post

ADHD: Antrean Diagnosis Bikin Orang Tua Terjebak ‘Limbo’ Permanen

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *