Bayangkan dunia di mana smartphone jadi barang antik, kayak pager atau Walkman. Kedengarannya absurd? Mungkin nggak buat Jon Callaghan, co-founder True Ventures. Dia berani bilang, dalam lima tahun ke depan, cara kita pakai smartphone bakal berubah drastis. Bahkan, sepuluh tahun lagi, mungkin kita udah nggak pakai smartphone sama sekali. Wah, ini bukan sekadar omongan iseng, tapi investasi serius. Kira-kira, Callaghan lihat masa depan macam apa, ya?
Smartphone: Dari Penguasa ke Penghuni Museum?
True Ventures bukan pemain kemarin sore. Mereka udah dua dekade malang melintang di dunia modal ventura, dengan portofolio mentereng seperti Fitbit, Ring, dan Peloton. Jadi, kalau Callaghan ngomong, dunia teknologi patut mendengarkan. Mereka nggak ikut arus mainstream. Di saat VC lain sibuk bangun personal branding di media sosial, True Ventures malah asyik membangun jaringan founder yang loyal. Strategi ini terbukti jitu: 63 exit dengan keuntungan dan tujuh IPO dari sekitar 300 perusahaan.
Salah satu alasan Callaghan pesimis sama smartphone adalah karena benda itu dianggap nggak efisien sebagai penghubung manusia dan kecerdasan. Bayangin aja, buat kirim pesan singkat atau email, kita harus buka kunci, cari aplikasi, ngetik, dan seterusnya. Ribet! Belum lagi notifikasi yang ganggu konsentrasi. Smartphone, alih-alih membantu, malah jadi sumber distraksi.
Lantas, apa dong solusinya? True Ventures udah bertahun-tahun eksplorasi antarmuka alternatif – dari software sampai hardware. Mereka pernah nekat investasi di Fitbit saat wearable belum populer, atau di Peloton saat VC lain bilang “No!”. Bahkan, mereka berani kasih modal ke Ring, padahal Jamie Siminoff, founder-nya, sampai ditolak mentah-mentah di acara “Shark Tank”. Intinya, True Ventures selalu mencari cara baru yang lebih alami buat manusia berinteraksi dengan teknologi.
Sandbar: Cincin Ajaib Pengganti Asisten Pribadi?
Manifestasi terbaru dari visi True Ventures adalah Sandbar, sebuah cincin yang disebut Callaghan sebagai “teman berpikir” (thought companion). Secara sederhana, ini adalah cincin yang diaktifkan dengan suara, dipakai di jari telunjuk. Fungsinya cuma satu: merekam dan mengatur pikiran kita lewat catatan suara. Bukan buat saingan sama Humane AI Pin atau Oura. Sandbar fokus pada satu hal yang dianggap Callaghan penting, yaitu kebutuhan dasar manusia yang belum terpenuhi oleh teknologi saat ini.
Ide di baliknya bukan sekadar merekam suara di sekitar, tapi hadir saat ide muncul. Sandbar berfungsi sebagai mitra berpikir. Terhubung ke aplikasi, didukung AI, dan merepresentasikan filosofi baru tentang cara kita berinteraksi dengan kecerdasan.
Bukan Sekadar Gadget, Tapi Perubahan Perilaku
True Ventures tertarik dengan Sandbar bukan cuma karena produknya, tapi juga karena kesamaan visi dengan founder-nya, Mina Fahmi dan Kirak Hong. Keduanya pernah kerja bareng di CTRL-Labs, startup yang fokus di antarmuka saraf dan diakuisisi Meta pada 2019. Callaghan bilang, yang penting bukan cincinnya, tapi perilaku yang dihasilkannya. Perilaku yang akan segera kita sadari sebagai sesuatu yang nggak bisa kita tinggalkan.
Filosofi ini mirip dengan pandangan Callaghan soal Peloton: “Ini bukan tentang sepedanya.” Sepeda mungkin menarik, tapi Peloton sebenarnya tentang perilaku dan komunitas yang diciptakannya. Sepeda cuma medianya. Nah, filosofi ini juga yang bikin True Ventures tetap disiplin soal modal. Di saat startup AI lain bisa dapat ratusan juta dolar dengan valuasi selangit, True Ventures tetap fokus kasih seed check $3 juta sampai $6 juta buat 15%-20% saham di startup yang mereka lihat potensinya.
Di Balik Gemerlap AI: Ada Risiko yang Mengintai
Callaghan mengakui potensi OpenAI yang bisa mencapai valuasi triliunan dolar. Dia juga bilang, gelombang komputasi saat ini sangat kuat. Tapi, dia juga lihat tanda bahaya dalam pendanaan yang berputar-putar di sekitar hyperscaler dan proyeksi belanja modal (CapEx) $5 triliun buat pusat data dan chip. “Kita ada di siklus yang sangat padat modal, dan itu mengkhawatirkan,” katanya.
Meski begitu, Callaghan tetap optimistis soal peluang yang ada di depan mata. Dia yakin, nilai terbesar ada di lapisan aplikasi, bukan infrastruktur. Di sanalah antarmuka baru akan memunculkan perilaku baru.
Ketika Investasi Awal Terasa Sepi dan Menakutkan
Semua balik lagi ke filosofi investasi Callaghan yang terdengar agak romantis: “Investasi awal yang benar itu harusnya terasa menakutkan dan sepi. Kamu harus dianggap gila. Situasinya harusnya buram dan ambigu, tapi kamu harus bareng tim yang benar-benar kamu percaya.” Lima sampai sepuluh tahun kemudian, baru kelihatan apakah kamu benar atau nggak.
Selamat Tinggal, Smartphone?
Dengan rekam jejak True Ventures yang berhasil memprediksi tren wearable (Fitbit), sepeda terhubung (Peloton), dan bel pintu pintar (Ring), patut didengarkan saat Callaghan bilang umur smartphone udah nggak lama lagi. Tren juga mendukung tesisnya: pasar smartphone udah jenuh, pertumbuhannya cuma 2% per tahun. Sementara itu, pasar wearable – jam tangan pintar, cincin, dan perangkat yang diaktifkan dengan suara – tumbuh dua digit.
Ada pergeseran dalam cara kita berinteraksi dengan teknologi. True Ventures menempatkan taruhannya sesuai dengan perubahan itu.
Mau Tahu Lebih Banyak? Pantengin Podcast Ini!
Buat yang penasaran dengan obrolan lengkapnya bareng Callaghan, dengerin aja podcast StrictlyVC Download. Episode baru hadir setiap hari Selasa.


