Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Vaksin Cacar Air Ternyata Bisa Tangkal Demensia, Jangan Sampai Nyesel Nanti!

Satu dari tiga orang di Amerika Serikat bakal kena herpes zoster, alias cacar ular. Tapi kok angka vaksinasinya rendah amat ya? Sekitar 35% doang untuk lansia di atas 60 tahun. Ironisnya, ada aja yang bilang “vaksin lelah” padahal ada vaksin ampuh yang bukan cuma ngejaga dari cacar ular tapi konon katanya bisa nangkis risiko demensia, stroke, dan serangan jantung. Bingung nggak tuh? Yuk, kita bedah kenapa para ahli ngotot banget soal suntikan pelindung ini.

Cacar Ular: Musuh yang Nggak Main-Main

Herpes zoster, atau yang akrab disapa cacar ular, itu sebenarnya ulah dari virus varicella-zoster, si biang kerok cacar air. Jadi, virus ini nggak beneran ilang setelah sembuh dari cacar air, tapi ngumpet aja di tubuh, siap-siap bangkit lagi nanti. Meski bisa menyerang usia berapa pun, biasanya sih baru nongol setelah kepala empat atau lima. Beda sama cacar air yang nyebar ke mana-mana, cacar ular ini kayak punya “peta” sendiri, ngikutin jalur saraf sampai ke kulit, dan wujudnya berupa ruam melepuh yang sakitnya minta ampun.

Nyeri biasanya jadi sinyal pertama. Selain itu, ada rasa sensitif berlebih di kulit, gatal-gatal, ruam merah, sampai demam dan sakit kepala. Nah, uniknya, ruam ini biasanya cuma muncul di satu atau dua area kulit aja. Walaupun secara teori bisa nongol di mana saja, pola paling umum adalah garis-garis lepuhan di satu sisi tubuh. Komplikasi serius emang jarang, tapi sekitar 1-4% pasien harus masuk rumah sakit. Buat lansia dan orang yang sistem imunnya lemah, risikonya makin tinggi. Untungnya, angka kematian akibat cacar ular di AS itu kecil, kurang dari 100 orang per tahun.

Kenapa Virus Jahil Ini Bangkit Lagi?

Setelah berhasil jadi “penghuni tetap” di dalam tubuh, virus varicella-zoster ini bakal “tidur” di gumpulan saraf dekat sumsum tulang belakang. Kenapa dia bangun dan bikin ulah lagi? Jawabannya masih abu-abu. Tapi yang jelas, sistem imun yang melemah, stres berat, atau kondisi medis tertentu kayak diabetes bisa jadi pemicu kebangkitannya. Penularannya pun lewat kontak langsung sama cairan lepuhan atau hirupan partikel virus dari lepuhan itu sendiri. Ingat, orang baru dianggap menular begitu lepuhan muncul, dan akan tetap menular sampai lepuhan kering dan berkerak, biasanya sekitar 7-10 hari. Lepuhan itu sendiri butuh waktu 2-4 minggu untuk benar-benar hilang.

Penting dicatat, kalau belum pernah kena cacar air, virus ini bakal bikin cacar air, bukan cacar ular. Jadi, mustahil kena cacar ular kalau belum pernah kena cacar air sebelumnya. Konsepnya kayak nggak bisa jadi penjahat kalau belum pernah jadi anak bandel dari kecil.

Vaksinasi: Senjata Ampuh Melawan Cacar Ular?

Vaksinasi itu bisa banget mengurangi risiko kena cacar air maupun cacar ular. Ada dua jenis vaksin cacar air yang disetujui di AS, pilihan tergantung usia. Buat yang dulu nggak sempat divaksin cacar air pas kecil dan belum pernah kena, vaksin ini bisa diambil pas dewasa. Vaksin cacar air sendiri sudah ada sejak 1995, harapannya generasi muda sekarang bisa terhindar dari kedua penyakit ini gara-gara vaksin.

Umumnya, orang yang sudah divaksin cacar air nggak perlu khawatir soal vaksin cacar ular. Tapi, ada aja kasus langka cacar ular atau cacar air yang tetap muncul meski sudah divaksin. Kalau mau yakin, tes darah bisa nunjukkin status kekebalan terhadap virus varicella-zoster. Nah, buat yang udah pernah kena cacar air, risiko kena cacar ular itu ada. Di sinilah vaksin cacar ular berperan buat mengecilkan peluang tersebut.

Shingrix: Bukan Sekadar Vaksin Cacar Ular Biasa

Di AS dan Inggris, vaksin cacar ular ini namanya Shingrix. Penting untuk diingat, vaksin cacar ular dan cacar air itu beda. Mereka punya target yang spesifik untuk kebutuhan imun tubuh kelompok yang berbeda: lansia dan anak-anak. Menurut CDC, Shingrix punya efektivitas lebih dari 90% dalam mencegah cacar ular pada orang dewasa 50 tahun ke atas dengan sistem imun yang sehat. Kalau pun terinfeksi, vaksin ini bisa mengurangi tingkat keparahan penyakit. Bahkan, kalau sudah pernah kena cacar ular, vaksin ini bisa mencegah kasus di kemudian hari.

Selain itu, vaksinasi juga mengurangi risiko komplikasi yang lebih parah, seperti postherpetic neuralgia, rasa nyeri terbakar di saraf dan kulit yang bisa bertahan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Sekitar 10-18% penderita cacar ular bakal ngalamin ini, dan risikonya makin tinggi seiring bertambahnya usia. Komplikasi serius lainnya termasuk pneumonia, radang otak, sampai gangguan pendengaran atau penglihatan.

Efek Samping Vaksin: Sekadar “Gigitan Nyamuk”

Menurut CDC, nggak ada efek samping serius yang dikaitkan dengan Shingrix. Tapi ya, namanya juga suntikan, ada aja efek samping minor yang bikin sebagian orang mikir dua kali. Umumnya sih cuma nyeri, bengkak di area suntikan, yang biasanya hilang dalam sehari atau dua hari. Gejala mirip flu kayak demam ringan atau pegal-pegal juga mungkin terjadi, tapi biasanya cuma beberapa hari. Efek samping ini cenderung lebih terasa setelah dosis pertama, dan berkurang setelah dosis kedua. Lansia di atas 70 tahun biasanya lebih sedikit merasakan efek samping dibandingkan orang yang lebih muda.

Siapa yang Harus Suntik? Dan Bagaimana Caranya?

Di AS, CDC merekomendasikan dua dosis Shingrix untuk orang dewasa 50 tahun ke atas, dengan jeda 2 sampai 6 bulan antar dosis. Vaksin ini juga disarankan untuk orang dewasa 19 tahun ke atas dengan sistem imun yang lemah. Buat mereka, dosis kedua bisa diberikan 1-2 bulan setelah dosis pertama. Nggak ada rekomendasi dosis booster. Yang lagi kena cacar ular, lagi hamil, atau punya riwayat alergi parah terhadap Shingrix sebaiknya nggak ambil risiko ini.

Ada tren menarik nih, orang dewasa yang lebih muda justru makin banyak didiagnosis kena cacar ular. Penyebabnya belum sepenuhnya dipahami, tapi kalau kena cacar ular sebelum usia 50, saran ahli adalah jangan vaksin dulu sampai usia genap 50. Untuk orang dewasa muda yang sehat, belum ada bukti signifikan kalau vaksinasi dini itu bermanfaat, dan kemungkinan besar nggak ditanggung asuransi. Meskipun ada beberapa perubahan pada jadwal imunisasi anak di AS, nggak ada prediksi perubahan besar pada rekomendasi vaksin cacar ular. Studi nunjukkin efektivitas Shingrix bisa bertahan antara 4 sampai 11 tahun, tergantung studinya dan kalau suntikan diberikan lengkap dua dosis. Kalau cuma satu dosis, efektivitasnya jelas menurun.

Vaksin Cacar Ular dan Otak Kita: Ada Hubungannya?

Menariknya, ada beberapa penelitian lama yang nunjukkin hubungan antara cacar ular dengan risiko demensia yang lebih tinggi, meski ada juga temuan yang kontra. Sebagian penelitian bahkan mengindikasikan vaksinasi bisa memberikan efek protektif terhadap penurunan fungsi kognitif ini. Kebanyakan penelitian ini menggunakan vaksin lama yang sudah nggak diproduksi lagi. Tapi, riset terbaru soal Shingrix juga menjanjikan.

Emily Rayens, seorang postdoctoral fellow di Kaiser Permanente, menyebutkan bahwa demensia itu kompleks dengan banyak faktor penyebab. Namun, ia menegaskan ada “bukti kuat” soal korelasi antara vaksin cacar ular dan penurunan risiko demensia. Dalam sebuah riset tahun 2026, tim Rayens menemukan penurunan risiko demensia sebesar 51% pada individu yang menerima Shingrix, bahkan setelah memperhitungkan faktor status sosial ekonomi dan gaya hidup. Ada dua kemungkinan kenapa ini terjadi.

Pertama, virus yang menetap di tubuh, seperti varicella-zoster, diduga punya peran dalam perkembangan demensia. Virus-virus ini terus berusaha aktif kembali. Hipotesisnya, ini jadi semacam “stresor kronis” bagi sistem imun yang bisa memicu penuaan imun atau jalur inflamasi, yang merupakan proses kunci dalam penyakit kronis termasuk demensia. Penjelasan kedua adalah efek vaksinasi pada sistem imun bisa melampaui tujuan awalnya dan memberikan perlindungan terhadap penyakit lain.

Meski begitu, uji klinis masih dibutuhkan untuk memahami mekanisme pastinya dan menetapkan hubungan sebab-akibat. Dr Pascal Geldsetzer, seorang profesor di Stanford University, berupaya menggalang dana untuk uji klinis tersebut. Ia berujar, “Kita berpotensi punya intervensi yang sangat murah, mudah diskalakan, dan tersedia luas, yang bisa memberikan dampak besar dalam pencegahan atau bahkan pengobatan demensia.” Dr Rosanne Leipzig, seorang profesor emeritus di Icahn School of Medicine, antusias dengan potensi ini, mengingat minimnya pilihan untuk menurunkan risiko gangguan kognitif. Jadi, kalau sudah ada alasan kuat untuk vaksinasi demi mencegah nyeri kronis akibat cacar ular, dan ada kemungkinan tambahan untuk melindungi otak, kenapa tidak?

Manfaat Tambahan yang Nggak Disangka

Penelitian awal yang masih terbatas juga mengindikasikan bahwa vaksin cacar ular berhubungan dengan penurunan risiko serangan jantung dan stroke. Sebagai contoh, sebuah tinjauan di tahun 2025 terhadap 19 studi menemukan bahwa vaksinasi cacar ular secara umum dikaitkan dengan risiko stroke dan serangan jantung yang lebih rendah dibandingkan tanpa vaksinasi sama sekali.

Mengobati Cacar Ular: Jurus Pamungkasnya

Kalau terlanjur kena cacar ular, pengobatan utamanya adalah obat antivirus. Menurut WHO, obat ini paling efektif kalau diminum dalam 72 jam setelah ruam muncul. Gejala bisa saja muncul 2-5 hari sebelum ruam, jadi penting banget konsultasi ke dokter sebelum ruam terlihat. Selain itu, pereda nyeri bebas resep, losion calamine, dan kompres dingin juga bisa membantu. Yang terpenting, area ruam harus dijaga kebersihan dan kekeringannya.

Previous Post

Houdini & Unreal: Kolaborasi Vertex Color, Banjir Prosedural yang Menawan

Next Post

Rockefeller Foundation Suntik Miliar ke Misi ‘Hardtech’: Selamatkan Bumi, Bikin Lapangan Kerja!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *