Jadi begini, merajut karier itu ibarat main gim strategi level dewa: nggak pernah lurus, penuh kejutan yang bikin jungkir balik, kadang pindah benua, ganti divisi, atau bahkan jadi juragan cilok dadakan. Tapi, jangan salah, ada juga tembok-tembok tak kasat mata yang bikin langkah terhambat, kadang sengaja dibikin, kadang ya… nggak sengaja tapi tetep aja nyebelin.
Nah, riset terbaru dari NEA High Level Group on Gender Balance ini membuktikan, para profesional di industri nuklir pun nggak luput dari drama gender. Bayangin aja, dari seluruh pekerja di sektor ini, yang cewek cuma sekitar 24.9%. Itu pun kalau dihitung yang ngerti sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), angkanya merosot jadi 20.6%, dan yang duduk di kursi manajemen puncak? Cuma 18.3%! Angka ini diambil dari makalah NEA yang judulnya Best Practices to Retain and Support Women in the Nuclear Sector (2025). Jadi, jelas banget, usaha ekstra buat nambah cewek di ranah nuklir itu bukan cuma wacana, tapi keharusan.
NEA sendiri lagi gencar bantu negara-negara anggotanya buat ‘ngecat’ ulang peta industri ini. Salah satu caranya? Bikin cewek-cewek hebat di bidang ini jadi lebih kelihatan. Lha, publikasi NEA lainnya, Gender Balance in the Nuclear Sector, yang isinya data dari berbagai negara, bilang kalo role model wanita itu kunci utama buat narik dan rekrut lebih banyak perempuan. Kalo nggak ada yang dicontohin, apalagi yang di posisi atas, ya gimana mau nge-boost cewek-cewek junior buat naik jenjang? Efek jangka panjangnya bisa bikin karier perempuan jadi mandek permanen.
Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, 8 Maret lalu, NEA manfaatin momen ini buat pamerin gimana sih jalur karier para wanita hebat di lembaga itu.
Jalan mereka masuk ke dunia nuklir itu bener-bener macem-macem. Ada yang termotivasi buat ngabdi ke negara, ada juga yang emang dasarnya doyan banget sama pelajaran eksak dari bangku kuliah. Keragaman pengalaman ini yang bikin mereka bisa bawa perspektif unik ke meja kerja.
Contohnya Alexia Mercer, dia punya gelar di bidang humaniora sekaligus STEM. Latar belakang campur aduk ini dia bawa ke perannya sebagai Project Lead dan Thermochemical Database Co-ordinator. Dia pastikan kerjaannya nggak cuma jago secara teknis, tapi juga didukung penuh sama semua pihak yang terlibat.
“Saya pernah belajar sejarah dan kimia,” ujar Alexia. “Sejarah ngajarin saya soal pengetahuan budaya dan kemampuan menulis yang kuat, sementara kimia nyambung banget sama kerjaan saya di bidang nuklir. Keduanya ngajarin saya soal ketelitian dan struktur yang terorganisir.”
Ada lagi Thu Zar Win, buat dia, terjun ke energi nuklir itu bagian dari pencarian ilmu di negaranya sendiri. Kariernya dimulai di Departemen Energi Atom Myanmar. Ini yang bikin dia makin semangat buat lanjutin pendidikan, sampai akhirnya meraih gelar PhD di Universitas Nagasaki, Jepang. Di sana, dia riset soal upaya pemulihan pasca-kecelakaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi, dengan mewawancarai warga yang terdampak. Pengalaman ini membuka matanya soal berbagai konteks penggunaan teknologi nuklir.
Dua Sudut Pandang, Satu Tujuan
Sekarang, keduanya bekerja di NEA, menyatukan pemahaman manusiawi dengan keahlian teknis yang mumpuni. Mereka ini ibarat kunci pas yang bisa buka baut rumit, nggak cuma ngandelin satu sisi doang. Kemampuan Alexia dalam memproses data kompleks ditambah empati Thu Zar Win dalam memahami dampak sosial adalah kombinasi yang langka dan sangat dibutuhkan.
Pendekatan Alexia yang terstruktur, hasil dari studi sejarah dan kimianya, memungkinkannya untuk mengurai masalah kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih mudah dicerna. Dia tidak hanya fokus pada aspek teknis dari database termokimia, tetapi juga memastikan bahwa komunikasi dan pemahaman antar pemangku kepentingan berjalan lancar. Kemampuan ini krusial dalam sebuah sektor yang membutuhkan ketepatan tingkat tinggi dan kerjasama lintas disiplin.
Di sisi lain, pengalaman Thu Zar Win di Myanmar dan risetnya di Jepang memberinya pemahaman mendalam tentang implikasi sosial dan kemanusiaan dari teknologi nuklir. Kemampuannya untuk melihat gambaran besar, termasuk dampak pada masyarakat dan lingkungan, memberikan dimensi penting pada diskusi kebijakan dan pengembangan di sektor ini. Ini membuktikan bahwa peran wanita dalam sains dan teknologi tidak hanya terbatas pada aspek teknis, tetapi juga pada kemampuan melihat konsekuensi yang lebih luas.
Generasi Baru Role Model
Nggak menutup kemungkinan, kelak mereka berdua ini bakal jadi inspirasi besar buat cewek-cewek muda yang melirik industri nuklir. Persis kayak para senior di NEA, semisal Keiko Chitose, Véronique Rouyer, Kimberly Sexton Nick, dan Tamara Yankovich, yang udah malang melintang puluhan tahun di dunia per-nuklir-an. Mereka ini bukan cuma sekadar pegawai, tapi arsip berjalan berisi pengetahuan dan pengalaman berharga.
Keberadaan role model seperti Keiko, Véronique, Kimberly, dan Tamara menjadi penanda bahwa jalur karier yang sukses di bidang nuklir itu terbuka lebar bagi perempuan. Mereka telah menavigasi kompleksitas industri ini, menghadapi tantangan, dan mencapai puncak karier, membuktikan bahwa gender bukanlah penghalang. Kisah mereka bisa menjadi peta jalan bagi generasi penerus, menunjukkan bahwa ambisi dan keunggulan dalam STEM dapat diraih tanpa kompromi.
Kehadiran mereka di posisi kepemimpinan memberikan panduan tidak hanya melalui pencapaian profesional, tetapi juga melalui cara mereka mengelola tim, membimbing junior, dan berkontribusi pada pengembangan kebijakan. Ini menciptakan siklus positif di mana keberhasilan masa lalu menginformasikan dan memotivasi masa depan industri.
Penelitian yang terus dilakukan oleh NEA menggarisbawahi pentingnya advokasi dan dukungan berkelanjutan. Program mentoring, pelatihan kepemimpinan, dan kebijakan inklusif adalah elemen-elemen krusial yang harus diimplementasikan secara konsisten. Tanpa fondasi yang kuat ini, angka partisipasi perempuan yang rendah akan terus berlanjut, menghambat potensi inovasi dan pertumbuhan di sektor vital ini.
Upaya untuk meningkatkan representasi perempuan di bidang STEM, khususnya di sektor nuklir, bukan hanya soal kesetaraan gender semata. Ini juga tentang memaksimalkan potensi sumber daya manusia yang ada, membawa perspektif yang beragam, dan pada akhirnya, memperkuat kapasitas inovasi dan keamanan industri secara keseluruhan. Membiarkan separuh populasi bekerja di bawah potensi mereka adalah kerugian besar bagi kemajuan peradaban.
Tonton langsung cerita dan pengalaman mereka di sini:


