Bayangkan begini: kamu lagi asyik main game favorit, tiba-tiba ada update yang bikin nostalgia melanda. Sama kayak The Beatles, yang lagunya tiba-tiba muncul lagi di Disney+. Bedanya, ini bukan sekadar remastered, tapi episode baru dari The Beatles Anthology. Pertanyaannya, apakah ini cuma gimmick nostalgia, atau benar-benar worth it buat ditonton?
The Beatles Anthology: Bukan Sekadar Nostalgia Bapak-Bapak
Buat yang belum tahu, The Beatles Anthology itu kayak ensiklopedia visual perjalanan karier The Beatles. Dari awal mereka manggung di klub-klub kecil sampai jadi legenda dunia. Nah, episode terbaru ini mencoba mengupas proses pembuatan Anthology itu sendiri di era 90-an. Semacam “Russian doll” nostalgia, kata orang.
Menariknya, ide awal Anthology muncul setelah The Beatles bubar di tahun 1970. Neil Aspinall, orang kepercayaan mereka, mengumpulkan semua rekaman yang ada. Hasilnya? Film dokumenter 90 menit berjudul The Long And Winding Road. Sayangnya, film ini terlalu prematur. Para personel The Beatles belum siap menoleh ke belakang. Akhirnya, film itu disimpan rapat-rapat sampai era 90-an, ketika diubah menjadi serial TV enam bagian.
Paul McCartney bilang, Anthology itu cerita The Beatles “dari dalam ke luar, bukan dari luar ke dalam.” George Harrison menambahkan, perbedaan ingatan mereka justru membuat cerita The Beatles jadi “definitif.” Filosofis banget, ya? Intinya, mereka sadar bahwa cerita The Beatles bukan cuma milik mereka berempat, tapi juga milik semua orang.
Ketika John Lennon “Bangkit” dari Kubur
Awalnya, Paul, George, dan Ringo cuma mau bikin musik latar buat serial Anthology. Mereka sepakat bahwa The Beatles tanpa John Lennon itu bukan The Beatles. Tapi, seseorang (entah siapa) bertanya ke Yoko Ono apakah dia punya rekaman John Lennon yang belum dirilis. Ternyata, Yoko punya beberapa kaset demo yang direkam John di apartemennya di Dakota Building pada akhir 70-an. Tiga lagu terdengar menjanjikan: Free As A Bird, Real Love, dan Now And Then.
Produser Jeff Lynne kebagian tugas berat: membersihkan rekaman demo mono yang lo-fi itu secara digital. Tujuannya? Supaya The Beatles bisa menyelesaikan lagu-lagu itu di studio milik McCartney. Mereka kehabisan waktu untuk Now And Then, tapi Paul yakin bahwa lagu itu akan selesai suatu hari nanti. Dan benar saja, lagu itu akhirnya dirilis di tahun 2023.
Reuni yang Menguras Emosi
“Itu masa-masa yang berat buatku,” aku Ringo. Bayangin aja, membuat lagu The Beatles baru tanpa John Lennon itu pasti bikin emosi campur aduk. Saking beratnya, McCartney menyarankan agar mereka pura-pura John cuma merekam setengah lagu sebelum pergi liburan, dan mempercayakan mereka untuk menyelesaikannya.
Ketika Paul memasukkan suara John ke telinganya, dia merasa seperti kembali ke masa lalu. Ringo juga merasakan hal yang sama. Ketika dia mendengar harmoni yang ditambahkan ke Real Love, dia berseru bahwa lagu itu terdengar “seperti The Beatles.” Kedengarannya banal, tapi perlu diingat bahwa dia belum mendengar kimia itu lagi sejak musim panas 1969.
Lebih dari Sekadar Dokumenter: Intim dan Personal
Kalau Get Back-nya Peter Jackson mengajak kita mengintip The Beatles di masa jayanya, maka episode finale Anthology mengajak kita nongkrong dengan para pria berusia 50-an yang tak lagi menganggap remeh persahabatan mereka. Kita melihat “Threetles” (sebutan untuk Paul, George, dan Ringo) bermain akustik, mengulik lagu-lagu lawas seperti Blue Moon of Kentucky dan Thinking of Linking. Mereka juga terlihat duduk bersila di atas tikar piknik di taman rumah George, memainkan lagu jazz Ain’t She Sweet dengan ukulele.
Nostalgia reuni membawa mereka kembali ke awal mula, sebelum nama The Beatles berarti apa-apa. Dalam adegan lain, mereka bertiga duduk di sekitar mixing desk raksasa. Produser George Martin memainkan fader untuk memisahkan track lagu Tomorrow Never Knows. Reaksi mereka? Seolah-olah mereka sedang menyaksikan trik sulap yang menyenangkan. Musisi yang selama 25 tahun menolak untuk berlarut-larut dalam masa lalu mereka yang gemilang jelas menikmati izin untuk melakukan hal itu.
Obrolan Warung Kopi yang Cerdas
Wawancara individu memang tidak mengungkap hal baru tentang perjalanan karier The Beatles yang gila (“masa-masa gila tapi masa-masa hebat,” kata Ringo dengan gaya Ringo). Tapi, ketika mereka bertiga berkumpul, anekdot-anekdot pun bermunculan. Dari kejadian lucu di Abbey Road hingga asal-usul penampilan klasik The Beatles di awal 60-an. Tentu saja, ada sedikit sindiran halus tentang intensitas kerja Paul di tahun-tahun terakhir band.
Ketika mereka bercanda tentang bermain di stadion, tapi sebagai pegulat lumpur, bukan musisi, kita sadar bahwa jika John masih hidup di tahun 1995, tur reuni sangat mungkin terjadi. Apa yang disorot oleh episode ini adalah dampak abadi dari kehilangan itu. Pada satu titik, Paul menunjuk ke kursi kosong dan membayangkan bahwa John baru saja keluar untuk makan siang. Anthology, dan lagu-lagu yang keluar dari situ, adalah kesempatan bagi trio yang selamat untuk terhubung kembali dengan teman lama mereka. “Meskipun John tidak ada di sini,” kata Paul, “dia ada di sini.”
Yang Baru dari The Beatles Anthology Episode 9
Free As A Bird terinspirasi dari Elvis
Setelah Roy Orbison meninggal di tahun 1988, pihak keluarga Presley memberi izin kepada teman-teman band Traveling Wilburys-nya (termasuk Harrison dan Lynne) untuk mengisi kekosongan dengan menggunakan suara Elvis di sebuah lagu. Untungnya, George bilang, mereka membatalkan ide itu karena terlalu “gimmicky.” Tapi, beberapa tahun kemudian, ide itu memicu pemikiran bahwa kolaborasi anumerta dengan John akan mungkin dilakukan.
Sesi larut malam di Abbey Road didorong oleh teh “spesial”
The Beatles suka bekerja sampai larut malam, tapi George Martin dan engineer Geoff Emerick kadang-kadang kelelahan setelah makan malam. Suatu malam, band ini menemukan solusi yang secara moral meragukan: memberi teh mereka dengan upper, mendorong sesi yang cukup energik. “George belum turun,” celetuk Ringo.
Jadi, Worth It Nggak Nonton The Beatles Anthology?
The Beatles Anthology, menampilkan episode baru, streaming secara eksklusif di Disney+ mulai 26 November. Kalau kamu kangen The Beatles, atau penasaran dengan proses kreatif mereka, atau cuma pengen nostalgia sambil ngopi, tonton deh. Dijamin, kamu bakal dapat sesuatu yang lebih dari sekadar tontonan. Kamu bakal dapat pelajaran tentang persahabatan, kehilangan, dan keajaiban musik.
Dan jangan lupa, dapatkan edisi terbaru MOJO untuk penilaian definitif tentang semua rilisan musik baru yang penting, rilisan ulang, buku dan film musik – plus, ulasan wajib kami tentang musik terbaik tahun 2025. Info lebih lanjut dan untuk memesan salinan DI SINI!
Jadi, tunggu apa lagi? Siapin kopi, nyalain Disney+, dan nikmati nostalgia yang bikin nagih. Siapa tahu, kamu jadi pengen bikin band lagi sama teman-temanmu.


