Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Creeper: Sanguivore II, Opera Rock Vampir Goth yang Memukau!

Pernah nggak sih, merasa terjebak dalam siklus yang sama? Bangun, kerja, scroll media sosial, tidur, lalu ulang lagi. Kayak kaset rusak, muter di bagian yang itu-itu aja. Nah, band bernama Creeper ini kayaknya sadar betul soal jebakan Batman semacam itu. Buktinya, mereka nggak betah lama-lama di satu genre musik aja.

Dari Punk ke… Rock Opera Vampir? What?!

Awalnya, Creeper muncul sebagai band punk yang sound-nya mirip AFI dan Alkaline Trio. Tapi, dari situ, mereka mulai bereksperimen. Album Sex, Death & The Infinite Void (2020) nyentuh Britpop, Nick Cave, sampai 70s rock. Lalu, di 2023, mereka bikin gebrakan dengan Sanguivore, album metal epik tentang dua vampir yang lagi asyik “jalan-jalan” sambil nyari darah. Gokil!

Ternyata, itu belum seberapa. Creeper kayaknya punya stok ide rock opera yang nggak ada habisnya. Buktinya, mereka baru aja ngerilis Sanguivore II: Mistress Of Death. Album ini nggak kalah seru, catchy, dan bikin adrenalin naik kayak lagi main game balap. Dan yang pasti, album ini makin menegaskan posisi mereka sebagai salah satu band metal paling menarik di Inggris.

Mistress Of Death: Gore, Camp, dan Birahi yang Bikin Merinding

Sanguivore II ini melanjutkan cerita dari album sebelumnya. Kali ini, ada karakter baru: pemburu vampir yang nggak kenal ampun. Lagu Mistress Of Death langsung ngebuka album dengan tone yang pas: gore, camp, dan birahi yang campur aduk jadi satu. Vokalnya dramatis, gitar-gitarnya duel kayak lagi rebutan gebetan, dan temponya bikin jantung mau copot. Kebayang nggak sih, Judas Priest lagi nge-lead The Black Parade-nya My Chemical Romance?

Single Blood Magick (It’s A Ritual) juga nggak kalah gila. Lagu ini nyampur thrash metal, Heaven Is A Place On Earth-nya Belinda Carlisle, dan You Give Love A Bad Name-nya Bon Jovi jadi satu kesatuan yang… yah, unik. Kalau ada yang bilang ini nggak goth, dengerin aja tawa setan ala Will Gould di lagu ini. Dijamin langsung merinding!

Chorus Arena-Ready yang Bikin Ketagihan

Creeper emang udah lama dikenal jago bikin anthem arena-ready. Di Sanguivore II, mereka masarin lagi sederet chorus yang langsung nempel di otak. Headstones, yang nuansanya Meat Loaf banget, jadi pembuka yang pas. Prey For The Night ngebahas soal pengorbanan iblis dengan gaya rock Billy Idol yang kulitnya ketat. Sementara Parasite siap-siap aja nyantol di otak lo selama berhari-hari.

Ada juga sedikit bocoran soal arah musik Creeper ke depannya. Daydreaming In The Dark dibuka dengan synth dan drum yang dingin kayak es batu. Lalu, The Black House adalah momen elektronik ala The Sisters Of Mercy yang keluar dari tahun 80an. Dan, tentu saja, ada chorus yang nggak kalah nempel di otak.

Hannah Greenwood: Vocal Powerhouse yang Kurang Dimaksimalkan

Satu-satunya kekurangan di album ini adalah kurangnya porsi buat Hannah Greenwood, keyboardist yang punya suara dahsyat. Dia cuma kebagian lead vocal di Razor Wire, yang ngebahas soal pemenggalan kepala sambil joged diiringi saxophone. Selain itu, dia juga nyumbang chorus di Pavor Nocturnus, death ballad ala Nick Cave yang jadi penutup album. Tapi, mengingat lagu itu ditutup dengan solo gitar yang melengking, paduan suara yang megah, Patricia Morrison (mantan The Sisters Of Mercy), dan vokal gospel, kayaknya nggak pantes deh buat ngeluh.

Intinya, Sanguivore II: Mistress Of Death adalah album keren lainnya dari band yang belum pernah bikin kesalahan. Kita semua penasaran banget pengen tau ke mana Creeper bakal bawa kita selanjutnya. Yang jelas, perjalanan mereka ini kayaknya bakal seru dan penuh kejutan.

Pre-order your exclusive Metal Hammer x Creeper bundle, featuring a magazine cover unavailable in shops and new album Sanguivore II: Mistress Of Death on purple vinyl

Previous Post

Chawy Bawa CFO ke Worlds 2025: 10 Tahun Penantian Berakhir, Siap Gebrak!

Next Post

Sejarah Seni Korea: You Hong-jun Jembatani Kesenjangan Global

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *